Dalam pembuatan asbak vas bunga dan gerabah masyarakat memanfaatkan lingkungan alam berupa

Dalam pembuatan asbak vas bunga dan gerabah masyarakat memanfaatkan lingkungan alam berupa

Salah satu Industri Kecil Menengah (IKM) yang merupakan andalan Kabupaten Samosir untuk mendukung visi dan misi Kabupaten Samosir sebagai Kabupaten Pariwisata adalah  Industri Kerajinan Kecil Gerabah yang merupakan warisan dari nenek moyang  orang Batak untuk membuat periuk dari tanah liat dengan desain dan jenis produk yang sederhana.

Dengan melihat potensi sumber daya alam berupa tanah liat sebagai bahan baku untuk pembuatan gerabah yang melimpah dan berkualitas maka Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan Kabupaten Samosir, berusaha untuk meningkatkan SDM masyarakat/pengrajin melalui Pengembangan Desain dan Pendampingan Industri Kerajinan Gerabah agar tidak hanya memproduksi periuk saja.

Pembinaan dan pengembangan terhadap industry kerajinan gerabah telah menghasilkan berbagai jenis produk yang siap untuk dipakai dan dipasarkan. Sudah banyak produk yang telah dihasilkan dengan desain yang sangat menarik. Sentra kerajinan gerabah yang terletak di Desa Hutanamora dan Desa Sigaol Simbolon Kecamatan Palipi telah memproduksi berbagai macam bentuk dan jenis seperti meja dan kursi untuk tempat makan, pot bunga, asbak dan lain sebagainya.

Upaya pembinaan dan pengembangan terhadap usaha industry kerajinan gerabah tersebut akan tetap dilakukan mulai dari pelatihan kepada para perajin pemula, peningkatan desain dan motif, sampai ke pemasaran produk tersebut.

Pelatihan peningkatan dan pengembangan desain dan kualitas produk kerajinan gerabah di sentra gerabah Desa Sigaol Simbolon Kecamatan Palipi Tahun 2013

Produk kerajinan gerabah hasil pelatihan Tahun 2013

DATA USAHA INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH (IKM) GERABAH

NAMA PENGUSAHA : MARKUS SIMBOLON
ALAMAT : DESA SIGAOL SIMBOLON
KECAMATAN PALIPI
KABUPATEN SAMOSIR
KONTAK PERSON : 081375926945
NAMA PENGUSAHA : JALONGSER SIMBOLON
ALAMAT : DESA HUTANAMORA
KECAMATAN PANGURURAN
KABUPATEN SAMOSIR
KONTAK PERSON :

KOMPAS.com
– Tanah liat sering menjadi bahan utama pembuatan kerajinan. Sifatnya yang mudah diolah, memudahkan pembuatnya untuk berkreasi sesuai dengan keinginannya.

Jika melihat teksturnya, tanah liat cenderung lengket dan mudah menyatu saat basah. Namun, saat kondisinya kering, tanah liat mudah hancur dan terpecah menjadi butiran halus.

Mengutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), tanah liat harus memiliki tingkat tekstur yang baik saat akan diolah menjadi kerajinan. Teksturnya tidak boleh terlalu basah ataupun terlalu kering karena akan memengaruhi hasil akhirnya.

Contoh kerajinan tanah liat yang mudah ditemui ialah gerabah, seperti kendi, celengan atau lainnya. Namun, bahan tanah liat juga bisa diolah menjadi bahan pembuatan patung ataupu lainnya.

Baca Juga :   Meronce adalah teknik yang digunakan untuk membuat kerajinan berbahan … kayu logam rotan bambu

Bagaimana cara membuat karya dari tanah liat?

Cara membuat

Sebelum memulai proses pembuatan kerajinan, bahan dan alat harus dipersiapkan terlebih dahulu, di antarany:

  1. Tanah liat
  2. Kuas
  3. Alat ukir
  4. Meja putar
  5. Air
  6. Minyak

Baca juga: Contoh Karya Seni Rupa Patung dan Asal Daerahnya

Untuk bahan pendukung lainnya bisa ditambahkan sesuai dengan keinginan pembuatnya. Contoh cat air atau cat untuk memberi warna pada hasil kerajinan tanah liat.

Setelah menyiapkan bahan dan alatnya, pembuatan kerajinan tanah liat bisa dimulai. Berikut cara membuat karya dari tanah liat:

  • Membentuk tanah liat menjadi benda yang diinginkan

Proses pembentukan tanah liat ini bisa diawali dengan mengambil sedikit demi sedikit tanah liat sesuai dengan kebutuhannya. Setelah itu, berilah air secukupnya untuk mencampurkan tanah liat supaya mudah dibentuk dan lebih lentur.

Pastikan jika air yang dicampurkan dalam tanah liat sesuai dengan tekstur yang diinginkan. Disarankan untuk tidak mencampurkan air terlalu banyak, karena nanti saat dibentuk tanah liat menjadi mudah lembek atau tidak kuat.

Setelah mencampurkan air, secara perlahan bentuklah tanah liat menjadi bentuk yang diinginkan, misalnya kendi atau vas bunga. Agar lebih mudah, gunakan meja putar sebagai alas pembuatannya.

  • Mengeringkan hasil kerajinan tanah liat

Setelah kerajinan tanah liat selesai dibentuk, tahap berikutnya adalah pengeringan kerajinan taah liat. Biasanya hasil tanah liat ini akan dikeringkan selama dua hingga tiga hari. Untuk roses pengeringannya bisa menggunakan sinar matahari.

Baca juga: Ragam Seni Rupa Daerah di Indonesia

Usahakan selama dikeringkan, hasil kerajinan tanah liat tidak boleh terkena air atau didiamkan di tempat yang lembab. Karena dikhawatirkan tekstur tanah liatnya bisa lembek kembali. Maka pastikan jika tempatnya sudah bebas air atau kering.

  • Kerajinan tanah liat dibakar

Saat tanah liat sudah dikeringkan selama dua atau tiga hari, hasil kerajinannya harus memasuki tahap pembakaran. Karena pada proses ini, tekstur dan massa tanah liat akan diubah menjadi lebih padat, kuat dan keras.

Biasanya tanah liat dibakar hingga warnanya berubah menjadi warna merah bata. Untuk suhunya, juga harus diperhitungkan dan disesuaikan. Tidak boleh terlalu panas, karena bisa merusak tanah liat.

Jika tekstur tanah liatnya sudah agak mengeras saat dikeringkan, sebaiknya suhu pembakaran tidak terlalu tinggi. Pembakaran tanah liat bisa menggunakan berbagai macam proses, namun untuk alat biasanya menggunakan tungku.

Agar warna kerajinan tanah liat lebih indah, berikan warna sesuai dengan keinginan. Pemberian warnanya bisa dengan dicelup, dituang, disemprot atau dengan dikuas. Penggunaan teknik ini bergantung pada besar kecilnya hasil kerajinan.

Baca Juga :   Top 15 dress motif bunga jumbo busui terbaik 2022

Disarankan sebelum diberi warna, sebaiknya permukaan tanah liat diamplas atau dihaluskan terlebih dahulu. Supaya tidak ada permukaan yang mengganjal dan merusak keindahan hasil kerajinan. Setelah dipastikan halus, pemberian warna bisa mulai dilakukan.

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

KOMPAS.com –
Gerabah di Indonesia sudah menjadi barang umum dan bisa dengan mudah dijumpai. Gerabah banyak digunakan sebagai perkakas dalam kehidupan sehari-hari.

Bahan dasar untuk membuat gerabah adalah tanah liat. Gerabah merupakan salah satu hasil karya seni terapan yang banyak ditemukan di daerah-daerah di Indonesia.

Keberadaan gerabah di Indonesia ini sudah ada sejak jaman dahulu kala atau jaman prasejarah.

Pengertian Seni Kriya Gerabah

Dikutip dari buku Filosofi Seni Kriya Tradisional Indonesia (1992) karya S.P Gustami, jika pengertian kriya dimaknai sebagai karya seni yang unik dan karakteristik di dalamnya mengandung muatan nilai estetik, simbolik, filosofis, dan fungsional serta ngrawit dalam pembuatannya.

Baca juga: Seni Kriya sebagai Kerajinan Tangan

Dilansir dari Akbar Adhi Satrio (2013) dalam jurnal berjudul Kriya Keramik: Wujud, Posisi, Dan Perannya Di Masa Kini (2013) karya Akbar Adhi Satrio, bahwa gerabah secara material tergolong dalam material keramik yang umumnya menggunakan tanah liat dengan jenis earthenware, terakota, atau majolika.

Masyarakat Indonesia mengenal keramik sebagai produk-produk hasil industrial yang pembuatannya secara massal ataupun kerajinan gerabah yang masih tradisional hasil buatan tangan perajin.

Padahal, ragam produk kriya keramik sebenarnya sangat luas. Material pada kriya keramik tidak terbatas pada benda fungsi namun dapat pula diaplikasikan ke dalam bentuk-bentuk artistik estetis.

Gerabah juga merupakan salah satu peninggalan budaya yang sangat tua.

Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), kerajinan gerabah di Indonesia sudah dikenal sejak zaman Neolitikum (zaman prasejarah atau zaman batu baru) sekitar 3000–1100 SM.

Baca juga: Seni Kriya: Pengertian dan Fungsinya

Gerabah juga dikenal dengan istilah tembikar atau keramik. Gerabah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia berupa barang pecah belah seperti tempayan, periuk, belanga, kendi, dan celengan.

Teknik pembuatan gerabah pada saat itu sangat terbatas dan sederhana. Proses akhir dari pembuatan gerabah adalah pembakaran suhu rendah dengan menggunakan jerami atau sabut kelapa.

Baca Juga :   Jelaskan tentang keistimewaan al-quran dengan kitab-kitab lainnya

Perajin menyelesaikan pembuatan gerabah di Kasongan, Bantul, DIY, Kamis (22/10/2020). Di masa pandemi Covid-19 permintaan akan gerabah terutama pot bunga mengalami peningkatan.

Contoh Seni Kriya Gerabah

Hingga saat ini seni pembuatan gerabah masih bertahan diberbagai daerah di Indonesia meski zaman sudah semakin modern.

Teknik pembuatannya ada yang masih memakai cara tradisional, ada juga yang memakai cara modern dengan menggunakan alat.

Berikut beberapa hasil seni gerabah yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia:

Baca juga: Contoh Seni Kriya di Indonesia

  • Kendi,
    berfungsi sebagai tempat menyimpan air minum.
  • Periuk, berfungsi sebagai alat untuk memasak nasi.
  • Belanga, berfungsi sebagai alat untuk memasak sayur.
  • Tempayan, berfungsi sebagai alat untuk menyimpan beras atau air.
  • Anglo, berfungsi sebagai alat untuk memasak (serupa dengan kompor).
  • Celengan, berfungsi sebagai tempat menyimpan uang.

Dalam jurnal berjudul Kriya Keramik: Wujud, Posisi, dan Perannya di Masa Kini (2013) karya Akbar Adhi Satriyo, beberapa sektor perajin di sentra-sentra yang sudah sejak dahulu mendapatkan bimbingan dan pembinaan, seperti seniman Sapto Hudoyo yang sudah sejak 1970-an membina para perajin gerabah di desa Kasongan.

Kemudian Chitaru Kawasaki, seorang profesor dari Jepang yang membina perajin gerabah daerah Bayat, Klaten.

Desa Kasongan sebagai wilayah pembuatan gerabah menjadi salah satu sentra produksi gerabah yang masih bertahan hingga saat ini.

Sentra tersebut berlokasi di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di mana ragam produknya sangat bervariasi dari benda-benda fungsional, seperti peralatan makan dan peralatan dapur tradisional hingga benda-benda hias.

Baca juga: Manfaat Belajar Seni Kriya bagi Anak, Berikut Contoh Kegiatannya

Sistem produksi di Kasongan masih cenderung tradisional dengan pembakaran menggunakan jerami dan tungku bak yang berbahan bakar kayu dan fokus pada keramik bakaran rendah atau yang umum disebut gerabah.

Teknik yang digunakan juga masih tradisional dengan teknik pembentukan manual dan belum banyak memanfaatkan peralatan produksi yang modern.

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dalam pembuatan asbak vas bunga dan gerabah masyarakat memanfaatkan lingkungan alam berupa

Posted by: pskji.org