Jelaskan konsep kepercayaan masyarakat praaksara berdasarkan hasil budaya Punden berundak undak

Jelaskan konsep kepercayaan masyarakat praaksara berdasarkan hasil budaya Punden berundak undak

Punden berundak
atau
teras berundak
adalah struktur tata ruang bangunan yang berupa teras atau trap berganda yang mengarah pada satu titik dengan tiap teras semakin tinggi posisinya. Struktur ini kerap ditemukan pada situs kepurbakalaan di Nusantara, sehingga dianggap sebagai salah satu ciri kebudayaan asli Nusantara.

Candi Ceto, percandian bercorak Hindu yang berstruktur punden berundak.

Struktur dasar punden berundak ditemukan pada situs-situs purbakala dari periode kebudayaan Megalit-Neolitikum pra-Hindu-Buddha masyarakat Austronesia, meskipun ternyata juga dipakai pada bangunan-bangunan dari periode selanjutnya, bahkan sampai periode Islam masuk di Nusantara. Persebarannya tercatat di kawasan Nusantara sampai Polinesia,[1] meskipun di kawasan Polinesia tidak selalu berupa undakan, dalam struktur yang dikenal sebagai marae oleh orang Maori. Masuknya agama-agama dari luar sempat melunturkan praktik pembuatan punden berundak pada beberapa tempat di Nusantara, tetapi terdapat petunjuk adanya adopsi unsur asli ini pada bangunan-bangunan dari periode sejarah berikutnya, seperti terlihat pada Candi Borobudur, Candi Ceto, dan Kompleks Pemakaman Raja-raja Mataram di Imogiri.

Kata “pundèn” (atau pundian) berasal dari bahasa Jawa. Kata pepundèn yang berarti “objek-objek pemujaan” mirip pengertiannya dengan konsep kabuyutan pada masyarakat Sunda. Dalam punden berundak, konsep dasar yang dipegang adalah para leluhur atau pihak yang dipuja berada pada tempat-tempat tinggi (biasanya puncak gunung). Istilah punden berundak menegaskan fungsi pemujaan/penghormatan atas leluhur, tidak semata struktur dasar tata ruangnya.

  • Piramida bertingkat

  1. ^

    Miksic J. Punden berundak. Dikutip dari artikel pada Indonesian Heritage.
Portal Hindu
Portal Buddha


Media terkait Punden Berundak di Wikimedia Commons

Artikel bertopik Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Diperoleh dari “https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Punden_berundak&oldid=21218144”

tirto.id – Peninggalan zaman megalitikum dan fungsinya memiliki peran penting dalam masa prasejarah. Sebagai bagian dari salah satu klasifikasi masa prasejarah, di zaman tersebut terdapat beberapa peninggalan berupa batu-batu besar yang dijadikan sebagai hasil kebudayaannya.

Baca Juga :   Berikut ini yang bukan tujuan diterapkannya administrasi yaitu :

Fungsi hasil kebudayaan berupa alat dari batu ini diklaim sebagai media atau tempat beribadah dan mengenang nenek moyang dalam sistem kepercayaan animisme dan dinamisme.

Soejono dan kawan-kawan dalam Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Prasejarah Indonesia (2010) menjelaskan, batu besar yang dijadikan bangunan tersebut adalah medium penghormatan, persinggahan, dan lambang kematian.

Melengkapi pendapat tersebut, Veni Rosfenti dalam Sejarah Indonesia (2020:10) menambahkan, hasil kebudayaan itu ternyata memiliki fungsinya masing-masing dalam beberapa upacara tertentu. Apa saja hasil kebudayaan zaman Megalitikum tersebut?

1. Menhir

Di Indonesia, menhir ditemukan di daerah Sumatera Selatan dan Kalimantan. Benda ini berbentuk menyerupai tiang atau tugu dan bahannya terbuat dari batu. Pembangunannya dimaksud sebagai lambang peringatan kepada roh atau arwah nenek moyang.

Bukan hanya itu, benda ini digunakan untuk mengikat binatang persembahan kepada nenek moyang. Lalu, juga dijadikan sebagai sarana tempat ibadah ketika masyarakat zaman Megalitikum ingin memuja roh pendahulunya.

2. Dolmen

Benda peninggalan kebudayaan yang satu ini berbentuk seperti meja dari batu besar. Permukaan atau bagian atasnya yang rata diduga dijadikan tempat menaruh roh, duduk ketua suku, dan tempat meletakkan persembahan. Bagian bawah batu datar tersebut, terdapat penyangga di bawahnya yang berjumlah empat buah.

3. Punden Berundak-undak

Peninggalan budaya zaman Megalitikum ini berupa bangunan bertingkat, terdiri atas tumpukan batu. Bentuknya yang tinggi ini membuat bangunan ini memiliki tanjakan-tanjakan kecil yang bahannya dari batu.

Diduga, pada zaman dahulu tingkatan teratas punden berundak-undak adalah tempat yang paling suci dan digunakan sebagai tempat memuja roh pendahulu. Bukan hanya dugaan tersebut, bentuk batu bertumpuk ini juga diklaim sebagai asal-usul penciptaan bangunan candi seiring perkembangannya.

4. Kubur Peti

Seperti namanya, benda ini berbentuk peti dan digunakan untuk menaruh jenazah seseorang. Batu yang dibuat dalam bentuk persegi panjang ini nantinya dikubur dan dipendam di dalam tanah setelah dimasukkan jenazah. Di Indonesia, benda ini pernah ditemukan di Kuningan, Jawa Barat.

Baca Juga :   Apa yang harus diperhatikan saat menyiapkan rencana bisnis

5. Waruga

Fungsi peninggalan kebudayaan ini sama dengan kubur peti yang dijelaskan sebelumnya. Namun, pembedanya adalah bentuk bendanya. Waruga digambarkan berbentuk bulat atau kubus dan di atasnya terdapat atap yang terlihat seperti genteng rumah (segitiga).

Mayat manusia yang meninggal nantinya ditaruh dalam posisi jongkok di dalam benda ini. Terkait penemuannya, pernah ditemukan di Minahasa, Sulawesi Utara.

6. Sarkofagus

Peninggalan ini masih sama fungsinya dengan kubur peti dan waruga. Namun, bentuknya lebih terkesan cekung atau diklaim menyerupai lesung. Lokasi penemuan hasil kebudayaan zaman Megalitikum yang satu ini adalah di daerah Bali.

7. Patung (Arca)

Seperti yang kita ketahui bahwa patung adalah penggambaran sesuatu makhluk dari bahan apapun. Terkait peninggalan kebudayaan Megalitikum ini, patung atau arca masih terbuat dari bahan batu.

Bentuk benda ini biasanya menyerupai binatang atau manusia. Sedangkan fungsinya, digunakan untuk simbol pemujaan serta lambang roh nenek moyang. Beberapa batu patung atau arca ini pernah ditemukan di Dataran Tinggi Pasemah (pegunungan sekitar Bengkulu dan Palembang).

Baca juga:

  • Menjelajahi Situs Peninggalan Zaman Megalitikum
  • Peradaban Megalitikum Di Kampung Adat Bena

Baca juga artikel terkait MEGALITIKUM atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada

(tirto.id – prd/dip)


Penulis: Yuda Prinada
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Kontributor: Yuda Prinada

Subscribe for updates Unsubscribe from updates

Lihat Foto

Candi Cetho sebagai salah satu bangunan yang memiliki struktur punden berundak

KOMPAS.com
– Salah satu bangunan Megalitik yang berfungsi sebagai sarana untuk memuja roh leluhur adalah punden berundak.

Peninggalan era Megalitikum atau Batu Besar tersebut masih bisa ditemui di sejumlah kawasan di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Jawa Tengah.

Pengertian punden berundak

Dikutip dari jurnal Eksistensi Punden Berundak di Pura Candi Desa Pakraman Selulung, Kintamani Bangli (Kajian tentang Sejarah dan Potensinya sebagai Sumber Belajar Sejarah) (2013) oleh I Wayan Pardi, punden dalam bahasa Jawa berarti orang yang dimuliakan. Sementara berundak artinya bertingkat-tingkat.

Baca Juga :   Top 7 gamis setelan celana panjang wanita set jumbo terbaik 2022

Dengan demikian, punden berundak adalah bangunan suci tempat pemujaan roh leluhur yang bentuknya bertingkat-tingkat atau berundak-undak.

Hal ini memberi anggapan bahwa nenek moyang berada di puncak gunung.

Puncaknya yang berundak menunjukkan tingkatan perjalanan roh nenek moyang ke dunia arwah, yakni puncak gunung, yang dilambangkan dengan menhir.

Baca juga: Kehidupan Manusia Purba di Indonesia pada Zaman Prasejarah

Dilansir dari buku Sejarah Kuningan (2021) karya Edi S. Ekadjati, punden berundak terbuat dari batu besar yang didalamnya terdapat menhir (batu tegak), meja batu, peti batu, dan lain sebagainya.

Fungsi punden berundak

Fungsi utama punden berundak ialah sebagai sarana pemujaan untuk memuja serta menghormati roh leluhur.

Berkaitan dengan kepercayaan masyarakat saat itu, pemujaan roh leluhur ditujukan untuk mencegah datangnya bencana atau musibah, seperti wabah dan gempa bumi.

Selain itu, peninggalan era Megalitikum ini juga sering digunakan untuk meletakkan sesajen atau persembahan lainnya.

Ciri-ciri punden berundak

Menurut Bagyo Prasetyo dalam jurnal Persebaran dan Bentuk-bentuk Megalitik Indonesia: Sebuah Pendekatan Kawasan (2013), punden berundak bercirikan adanya satu atau lebih undakan tanah.

Tiap undakan tanah diperkuat dengan bongkahan atau balok batu yang fungsinya sebagai pembatas atau dinding.

Berikut beberapa ciri punden berundak:

  1. Terbuat dari tanah dan batu
  2. Bentuknya berundak-undak sesuai namanya
  3. Digunakan untuk acara keagamaan atau kepercayaan tertentu
  4. Tiap undak atau tingkatan memiliki makna tersendiri
  5. Biasanya di bagian puncak berundak terdapat menhir
  6. Punya tingkatan, mulai dari terendah yang luas, hingga tingkatan tertinggi dengan bagian terkecil.

Baca juga: Zaman Batu: Pembagian Zaman dan Hasil Kebudayaan

Dapatkan update
berita pilihan
dan
breaking news
setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berikutnya

Jelaskan konsep kepercayaan masyarakat praaksara berdasarkan hasil budaya Punden berundak undak

Posted by: pskji.org