Kongres Perempuan Indonesia berlangsung sebanyak 3 kali sebutkan tanggal beserta tempat Kongres nya

Kongres Perempuan Indonesia berlangsung sebanyak 3 kali sebutkan tanggal beserta tempat Kongres nya

ilustrasi – Berikut ini kunci jawaban Buku Tematik Tema 7 Kelas 5 SD halaman 70 71 72 73 Subtema 2 Pembelajaran 6.

TRIBUNNEWS.COM –
Berikut ini kunci jawaban Buku Tematik Tema 7 Kelas 5 SD/MI Subtema 2 Pembelajaran 6 halaman 70, 71, 72, dan 73.

Kunci jawaban di artikel ini hanya berfungsi sebagai pembanding jawaban dari orang tua maupun anak terhadap materi yang telah dipelajari sebelumnya.

Sebaiknya, orang tua dan anak membaca terlebih dahulu setiap soal dan mencoba mengerjakan terlebih dahulu sebelum melihat kunci jawaban ini.

Baca juga: Kunci Jawaban Buku Tematik Tema 7 Kelas 6 SD Halaman 94, 95, 97, dan 98 Pembelajaran 5 Subtema 2

Bacaan Halaman 70

Ayo Membaca

Bacalah dengan saksama bacaan tentang Kongres Perempuan berikut ini!

Kongres Perempuan Indonesia

Kongres Perempuan Indonesia berlangsung tiga kali. Pada tanggal 22 Agustus 1928 di Yogyakarta, diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I. Kongres ini diikuti berbagai wakil organisasi wanita di antaranya Ny. Sukamto, Ny. Ki Hajar Dewantara, dan Nona Suyatin. Kongres berhasil membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI). Kongres itu juga berhasil merumuskan tujuan mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan wanita Indonesia serta mengadakan gabungan atau perikatan di antara perkumpulan wanita. Pada tangal 28–31 Desember 1929, PPI mengadakan kongres di Jakarta dan mengubah nama PPI menjadi PPII (Perserikatan Perhimpunan Isteri Indonesia).

Tanggal 20–24 Juli 1935, diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta dipimpin oleh Ny. Sri Mangunsarkoro. Kongres tersebut membahas masalah perburuhan perempuan, pemberantasan buta huruf, dan perkawinan.

Kongres Perempuan III berlangsung di Bandung tanggal 23–28 Juli 1938 dipimpin oleh Ny. Emma Puradireja, membicarakan hak pilih dan dipilih bagi wanita di badan perwakilan. Dalam kongres tersebut, disetujui RUU tentang perkawinan modern yang disusun oleh Ny. Maria Ulfah dan disepakati tanggal lahir PPI 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Saban 22 Desember masyarakat Indonesia memperingatinya sebagai Hari Ibu secara nasional. Hari Ibu dalam sejarahnya adalah wujud emansipasi perempuan untuk pertama kalinya. Kawasan Joyodipuran, Yogyakarta adalah saksi Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22-25 Desember 1928.

Kongres dihadiri lebih dari 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Kongres Perempuan pertama ini menjadi puncak kesadaran berorganisasi bagi para perempuan Indonesia. Mereka menyatakan sejumlah tuntutan yakni perlawanan terhadap kawin paksa, perkawinan anak, serta pemberian beasiswa pendidikan bagi anak-anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan.

Setelah dilakukannya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 organisasi-organisasi perempuan di seluruh Indonesia mengadakan kongres pertama mereka. Kongres bercita-cita memajukan perempuan Indonesia serta menggabungkan semua organisasi perempuan dalam satu wadah federasi nasional yang demokratis tanpa memandang agama, latar belakang politik, serta kelas sosial di masyarakat. Kongres juga ingin memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang sejalan dengan visi sumpah pemuda.

Organisasi perempuan yang mengikuti kongres antara lain Wanita Utomo, Wanita Katolik, dan Jong Java bagian Perempuan. Salah satu hasil kongres ini adalah mendirikan badan permufakatan bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI), yang bertujuan menjadi penghubung semua perhimpunan perempuan Indonesia serta memperbaiki nasib dan derajat perempuan Indonesia.

Sejarah Hari Ibu berlanjut saat pada 20-24 Juli 1935 ketika diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres kedua ini menelurkan Badan Pemberantasan Buta Huruf (BPBH) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh perempuan perusahaan batik di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Lalu, pada 23-27 Juli 1938 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung. Dalam kongres ketiga, perempuan mulai memiliki kesadaran memperjuangkan hak memilih dan dipilih dalam badan perwakilan rakyat.

Baca Juga :   Mengapa efek fotolistrik tidak bisa dijelaskan secara fisika klasik


Siklus hidrologi ada 3 jenis, yakni siklus pendek, siklus sedang, dan siklus panjang. Mengapa Indonesia tidak pernah mengalami siklus hidrologi panjan …

g? Jelaskan!​


kenapa ketahanan pangan dalam keluarga perlu dibangun​


Q.oes Rumah tangga keluarga sebagai rumah tangga konsumen memiliki dua peran, yaitu sebagai konsumen dan sebagai penyedia faktor produksi. Contoh per …

an keluarga sebagai konsumen, yaitu ….. Ez kan :’


akibat dari sistem tanam paksa yaitu​


judul yang cocok untuk OPSI ips tentang perdagangan​


perbedaan migrasi dan imigrasi adalah​


mengapa persebaran penduduk tidak merata​


faktor pendorong urbanisasi​


kapan hari sumpah pemuda​


Hubungan antarkonsep antara Interaksi sosial dengan kesejahteraan ​

Artikel ini
membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan.
Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: “Kongres Perempuan Indonesia” – berita·
surat kabar·
buku·
cendekiawan·
JSTOR



(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Kongres Perempuan Indonesia ke-1
diselenggarakan di Yogyakarta, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), dimulai pada Sabtu malam 22-25 Desember 1928 dihadiri lebih dari 1000 orang. Kongres ini diikuti oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dan beberapa organisasi kaum laki-laki, yang bertujuan memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan.[1]

Comita Congres Perempoean Indonesia tahun 1928

Kongres diadakan di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran, milik seorang bangsawan, R.T. Joyodipoero. Sekarang ini gedung tersebut dipergunakan sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (sekarang berganti nama menjadi Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta) di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Tercatat sekitar 1.000 orang hadir pada resepsi pembukaan yang diadakan mulai tanggal 22 Desember 1928. Di antara yang hadir terdapat juga tokoh-tokoh organisasi-organisasi terkemuka di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) yang dipimpin dan didominasi oleh kaum lelaki, seperti Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah dan Jong Islamieten Bond. Para peninjau mencatat sejumlah tokoh penting yang hadir antara lain: Mr. Singgih dan Dr. Soepomo dari Boedi Oetomo, Mr. Soejoedi (PNI), Dr. Soekiman (PSI), A.D. Haani (Walfadjri). Selain resepsi pembukaan, ada 3 pertemuan terbuka berikutnya selama berlangsungnya kongres.

Pers saat itu memberikan peliputan yang simpatik, misalnya surat kabar lokal berbahasa Jawa, “Sedijo Tomo” menyatakan kekagumannya atas hasil-hasil kongres tetapi juga mengingatkan agar gerakan perempuan yang meski terpengaruh Barat jangan sampai kehilangan ciri-ciri Timur-nya.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda juga ikut mengapresiasi kongres ini sebagaimana dilaporkan oleh Penasihat Urusan Pribumi, Charles Olke van der Plas, yang melaporkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Andries Cornelis Dirk de Graeff, dengan kalimat berikut:

“…laporan dari berbagai pihak memandang konferensi ini telah berhasil. Dalam kesempatan ini juga kenyataannya bahwa perempuan sering lebih realistis, lebih berimbang dan lebih beradab dalam pendekatan dibandingkan lelaki… Organisasi ini pantas mendapatkan ucapan selamat dan perhatian secukupnya…”

Bahkan van der Plas menyebutkan bahwa ia telah menugaskan istri seorang pegawai bawahannya, Patih Datoek Toemenggoeng, untuk menghadiri kongres dengan catatan harus memberikan laporan lengkap kepadanya. Nama istrinya adalah Rangkajo Chailan Sjamsoe Datoek Toemenggoeng, seorang Minang pemimpin gerakan perempuan yang sedang naik daun. Laporannya menyebutkan bahwa sekitar 600 perempuan hadir mewakili generasi tua dan muda, berpendidikan dan tidak berpendidikan.

Baca Juga :   Bagaimana cara melakukan medium start pada lari jarak pendek?

Jika dinilai sebagai kekurangan yang tercatat saat penyelenggaraan kongres, masalah keterwakilan gerakan organisasi-organisasi dari daerah-daerah merupakan isu yang dihadapi. Walau catatan kongres menunjukkan bahwa ada 30 organisasi mengirimkan utusan, tetapi sebagian merupakan cabang dari organisasi yang sama. Sejumlah organisasi di Sumatra mengirimkan telegram berisi dukungannya namun kelihatannya tidak bisa hadir lebih disebabkan karena masalah jarak dan keterbatasan transportasi.

Saat mencatat kegiatan kongres, Ny. Toemenggoeng terkejut karena tidak ada organisasi-organisasi Sunda yang menurut panitia penyelenggara kongres tidak mengenal adanya organisasi Sunda, jawaban yang menurut Ny. Toemenggoeng keliru karena Ny. Abdoerachman sudah mendirikan organisasi yang sangat terkenal di Bogor dengan nama Kemadjoean Isteri tahun 1926. Belum lagi gerakan pendidikan Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan) yang didirikan oleh R. Dewi Sartika di Bandung pada tahun 1904.

Menurut catatan Susan Blackburn,[2] beberapa tokoh feminis Eropa merasa tersinggung karena kongres tersebut hanya diperuntukkan bagi “kaum Pribumi”, suatu identitas yang membedakan mereka dari perempuan2 lain.

Jika dibandingkan dengan kongres perempuan Indonesia yang diadakan pada tahun-tahun berikutnya, Kongres Pertama ini memang didominasi oleh etnis Jawa dan acara pembukaan pun diawali dengan lagu penyambutan dalam bahasa Jawa yang diciptakan oleh Soekaptinah. Namun demikian, Selama kongres, hanya 1 perwakilan organisasi yang berpidato menggunakan bahasa Jawa sedangkan sisanya berbahasa Melayu (sebutan untuk bahasa Indonesia zaman Hindia Belanda). Mengenai bahasa Melayu ini sejak Mei 1928 sudah dijadikan materi dalam kursus yang diselenggarakan oleh Poetri Indonesia Cabang Yogyakarta (semula adalah organisasi sayap perempuan dari Pemoeda Indonesia dan kemudian menjadi sayap perempuan PNI).

Kongres Pemuda ke-2 yang menghasilkan “Sumpah Pemuda” yang diadakan terlebih dulu pada bulan Oktober 1928 telah menginspirasi tokoh-tokoh perempuan dari kelompok guru muda Jong Java yang telah membentuk cabang Poetri Indonesia di Yogyakarta, untuk membentuk Panitia Kongres Perempuan yang diketuai oleh R.A. Soekonto dengan Nyi Hajar Dewantoro sebagai wakilnya & Soejatien (Ketua Poetri Indonesia Cabang Yogya) sebagai sekretaris. Ketiga tokoh perempuan ini sebenarnya tidak asing dengan dunia pergerakan karena memiliki hubungan dengan tokoh pergerakan nasionalis Indonesia. R.A. Soekonto adalah kakak dari Ali Sastroamidjojo, dari namanya Nyi Hajar Dewantoro sudah jelas isteri dari Ki Hajar Dewantoro, sedangkan Soejatien (saat Kongres masih lajang) adalah murid Soekarno & Ki Hajar Dewantoro.

Beberapa pidato yang dibacakan oleh tokoh-tokoh perempuan pada saat Kongres:

  1. “Pergerakan Kaoem Isteri, Perkawinan & Pertjeraian”, oleh Ny. R.A. Soedirman (Poeteri Boedi Sedjati)
  2. “Deradjat Perempoean”, oleh Ny. Siti Moendjijah (Aisjijah Djokjakarta)
  3. “Perkawinan Anak-Anak”, oleh Saudari Moegaroemah (Poeteri Indonesia)
  4. “Kewadjiban & Tjita-Tjita Poeteri Indonesia”, oleh Saudari Sitti Soendari
  5. “Bagaimanakah Djalan Kaoem Perempoean Waktoe Ini & Bagaimanakah Kelak”, oleh Saudari Tien Sastrowirjo
  6. “Kewadjiban Perempoean di Dalam Roemah Tangga”, oleh Saudari R.A. Soekonto (Wanita Oetomo)
  7. “Hal Keadaan Isteri di Europah”, oleh Ny. Ali Sastroamidjojo
  8. “Keadaban Isteri”, oleh Nyi Hajar Dewantoro
Baca Juga :   Lebih baik memilih sma atau smk

Pada 22 Desember 1953, dalam acara peringatan ke-25 Kongres ini, Presiden RI Soekarno menetapkan sebagai Hari Ibu Nasional melalui Dekret Presiden RI No. 316 Tahun 1953. Sejak saat itulah, setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia.

Tokoh tokoh besar yang terlibat dalam kesuksesan kongres perempuan pertama adalah sebagai berikut: [1]

  1. R.A. Sukonto
  2. Siti Munjiah
  3. Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito
  4. Sunaryati Sukemi
  5. Raden Ayu Catharina Sukirin Harjodiningrat
  6. Nyonya Sujatin Kartowijono
  7. Nyi Hadjar Dewantara
  8. Nyi Driyowongso
  9. Nyonya Alfiah Muridan Noto
  10. Nyonya Badiah Moerjati Goelarso
  11. Nyonya Siti Hajinah Mawardi
  12. Nyonya R.A. Surya Mursandi
  13. Nyonya lsmudiyati Abdul Rachman Saleh
  14. Raden Ayu Bintang Abdulkadir .

Berikut adalah susunan panitia kongres I: [3]

Posisi Nama Nama Lain Perwakilan dari organisasi
Ketua R.A. Sukonto Wanito Oetomo
Wakil Ketua Siti Munjiah ‘aisyiyah
Sekretaris I Siti Sukaptinah Ny. Sunaryo Mangunpuspito Jong lslamiten Bond Afdeeling Wanita cabang Yogyakarta (JIBDA)
Sekretaris II Siti Sunaryati Nyi Sunaryati Sukemi Poetri Indonesia
Bendahara I R.A. Harjodiningrat R. Ay. Catharina Harjodiningrat Wanita Katolik
Bendahara II R.A. Sujatin R. Ay. S. Kartowiyono Poetri Indonesia Cabang Yogyakarta
Anggota Nyi  Hajar Dewantoro Wanita Taman Siswa
Driyowongso Wanita PSII
Alfiah Muridan Alfiah Muridan Noto Wanita PSII
Umi Salamah Wanita PSII
Johanah ‘Aisyiyah
Badiah Moerjati Jong Java Domes Afdeeling
Hajinah Ny. Mawardi ‘Aisyiyah
Ismudiyati Ny. Abdul Rahman Saleh Wanito Oetomo
R. Ay. Mursandi Wanita Katolik

Keputusan-keputusan Kongres Perempuan Pertama tersebut adalah sebagai berikut : [1]

  1. Mendirikan badan federasi bersama dengan nama “Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia” (PPPI).
  2. Menerbitkan surat kabar, yang redaksinya dipercayakan kepada pengurus PPPI, anggota-anggota redaksi terdiri dari: Nyi Hajar Dewantoro, Nn. Hajinah, . Ny. Ali Sastroamojoyo, Nh. Ismudiyati, Nn. Budiah dan Nn. Sunaryati (Nyi Sunaryati Sukemi).
  3. Mendirikan studifonds(dana studi) yang akan menolong gadis-gadis yang tidak mampu.
  4. Memperkuat pendidikan kepanduan putri.
  5. Mencegah perkawinan anak-anak.
  6. Mengirimkan mosi kepada pemerintah agar:
    • Secepatnya diadakan fonds bagi janda dan anak-anak.
    • Tunjangan bersifat pensiun jangan dicabut.
    • Sekolah-sekolah putri diperbanyak.
  7. Mengirimkan mosi kepada Raad Agama agar tiap talak dikuatkan secara tertulis sesuai dengan peraturan agama.

Kepada Pemerintah Belanda waktu itu dikirim tiga mosi sebagai berikut :[1]

  1. Penambahan sekolah-sekolah untuk anak-anak perempuan.
  2. Supaya pada penikahan pemberian keterangan tentang taklik (janji dan syarat-syarat perceraian) diwajibkan.
  3. Diadakan peraturan sokongan untuk janda-janda dan anak-anak piatu pegawai negeri.
  • Kongres Pemuda Kedua
  • Kongres Pemuda Indonesia
  • Hari Ibu
  1. ^
    a
    b
    c
    d

    Sutjiatiningsih, Sri; Ohorella, G.A. (1991). Biografi Tokoh Kongres Perempuan Indonesia Pertama. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Jakarta. hlm. 1–192.



  2. ^

    1. “Kongres Perempuan Indonesia – Tinjauan Ulang”, Susan Blackburn, (YOI & KITLV)”

  3. ^

    Suciatiningsih., Sri (1991). Biografi tokoh kongres perempuan Indonesia pertama. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. OCLC 958841762.


  • Blackburn, S. 1947. Kongres Perempuan Indonesia: Tinjauan Ulang. Yayasan Obor dan KITLV, Jakarta (https://books.google.co.id/books?id=eeGf-NaHkvwC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false)

Diperoleh dari “https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kongres_Perempuan_Indonesia&oldid=19494967”

Kongres Perempuan Indonesia berlangsung sebanyak 3 kali sebutkan tanggal beserta tempat Kongres nya

Posted by: pskji.org