Jelaskan hubungan antara kerajaan tarumanegara dan kerajaan kalingga secara singkat

Jelaskan hubungan antara kerajaan tarumanegara dan kerajaan kalingga secara singkat

Kerajaan Kalingga atau yang juga biasa disebut dengan Kerajaan Holing, merupakan kerajaan bercorak Hindu Budha. kerajaan ini  pertama kali muncul di wilayah pantai utara Jawa Tengah di abad ke 6 M. Kerajaan ini muncul hampir bersamaan dengan Kerajaan Kutai dan Kerajaan Tarumanegara. Simak ulasan Sejarah Kerajaan Kalingga disini.

Asal Usul Kerajaan Kalingga

Kerajaan kalingga merupakan salah satu kerajaan yang pada zaman dahulu sempat memerintah di Wilayah Pekalongan, Jepara, dan Pegunungan Dieng. Kerajaan ini didirikan oleh Dapunta Syilendra dan raja pertamanya adalah Prabu Wasumurti yang diperkirakan telah memimpin Kalingga pada tahun 594 hingga 605 Masehi.

Kerajaan Kalingga terus berkembang dan bahkan perempuan pernah menjadi raja di kerajaan ini. Raja perempuan yang pernah memerintah Kerajaan Kalingga adalah Ratu Shima.

Walaupun perempuan, pemerintahannya sangat keras sehingga tak ada yang berani menentangnya. Kerajaan kalingga berdiri di wilayah yang sangat subur sehingga masyarakat hidup makmur.

Salah satu kisah menceritakan bahwa Kalingga sebenarnya dimulai pada abad ke 6 sampai abad ke 7. Kalingga merupakan nama yang berasal dari Kerajaan India Kuno yang saat itu bernama Kaling.

Catatan awal tentang berdirinya kerajaan yang satu ini sangat langka dan cukup sulit untuk dirunut sehingga tidak banyak informasi yang bisa ditarik kesimpulannya dengan pasti.

Letak Kerajaan

Berdasarkan sejarah Kerajaan Kalingga, lokasi kerajaan ini berada di wilayah Jawa Tengah. Diperkirakan ibukotanya berada di antara Pekalongan dan Jepara. Perkiraan ini didapat dari peninggalan yang ditemukan di sekitar wilayah Pekalongan.

Terlebih Pekalongan dulunya merupakan wilayah pelabuhan kuno. Nama Pekalongan juga diduga berasal dari Pe-kaling-an.

Baca juga:
Sejarah Kerajaan Majapahit : Awal Mula Berdiri dan Peninggalan

Pendiri

Sejarah dari Kerajaan Kalingga sebenarnya masih kabur karena tahun pemerintahannya yang sudah terlampau jauh dan juga kurangnya peninggalan yang bisa diangkat menjadi salah satu penyebab hal tersebut.

Disebutkan bahwa Kerajaan Kalingga didirikan oleh keturunan Syailendra dan masih ada hubungannya dengan Kerajaan Mataram Kuno.

Kerajaan ini sering dikenal sebagai nenek moyang Kerajaan Mataram Kuno karena kerajaan ini dibangun oleh Dapunta Syilendra. Dapunta Syailendra adalah awal dari munculnya Wangsa Syailendra yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno.

Kemudian pemerintahan pertama Kerajaan Kalingga dijalankan oleh Prabu Wasumurti sekitar tahun 594 hingga 605 Masehi.

Silsilah raja

1. Prabu Wasumurti (594-605 M)

Dalam sejarah Kerajaan Kalingga, diyakini bahwa pemegang takhta pertama dan menjadi seorang raja adalah Prabu Wasmurti. Walaupun catatan sejarah terkait dengan hal ini masih simpang siur, namun menurut beberapa sumber Prabu Wasumurti memimpin Kerajaan Kalingga dari tahun 594 hingga 605 masehi.

2. Maharani Shima (674-695 M)

Maharani Shima adalah sosok pemimpin perempuan yang bisa membawa Kerajaan Kalingga menuju kejayaan. Ratu Shima wafat pada tahun 695 masehi.

Sepeninggalannya, Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Holing mengalami kemunduran. Setelah beliau meninggal kerajaan ini dipecah untuk anak anaknya. Raja Sanjaya memerintah Kalingga utara yang selanjutnya menjadi Mataram Kuno.

Baca juga:
Sempat Berjaya, Ini Sejarah Kerajaan Sriwijaya dari Awal

Masa Kejayaan

Ratu shima atau Raja Shima adalah pemimpin Kalingga yang berhasil membawa kerajaan ini menuju masa kejayaan. Ratu Shima merupakan seorang pemimpin yang tegas, jujur, dan bijaksana.

Walaupun pemimpinnya sangat keras, Ratu Shima adalah sosok yang adil sehingga menjadikan rakyatnya taat hukum. Dengan kepatuhan hukum, rakyat Kalingga hidup dalam ketenteraman.

Peninggalan

1. Candi Angin

Candi angina berada di ke Desa Tempur Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Candi ini bentuknya tidak utuh dan hanya tampak seperti reruntuhan. Candi ini menyimpan banyak teka teki seputar Kerajaan Kalingga.

Candi Angin diperkirakan lebih tua dibandingkan Candi Borobudur karena memang Kerajaan Kalingga adalah nenek moyang Mataram Kuno.

2. Prasasti Tuk Mas

Prasasti Tuk Mas merupakan salah satu bukti sejarah Kerajaan Kalingga. Prasasti ini dipahat diatas batu alam yang sangat besar dan lokasinya berada di dekat sebuah mata air.

Lokasi ditemukannya prasasti ini yaitu berada di lereng barat Gunung Merapi atau lebih tepatnya ada di wilayah Desa Lebak Kecamatan Grabag Magelang.

Prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke 6 sehingga aksaranya sudah banyak yang rusak. Prasasti ini menyebutkan bahwa sungai yang mengalir bagaikan Sungai Gangga yang ada di India.

Pada Prasasti ini juga bisa ditemukan beberapa lukisan yang berbentuk seperti trisula, cakra, kapak, kendi, dan bunga tanjung.

3. Prasasti Sojomerto

Bukti keberadaan atau sejarah Kerajaan Kalingga yang berikutnya adalah prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto ditemukan di wilayah Desa Sojomerto Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah.

Konon prasasti ini berasal dari abad ke 7 dan bersifat agama siwais. Isi prasasti ini memuat tentang sebuah keluarga yang tokoh utamanya adalah Dapunta Selendra.

Prasasti ini menjadi salah satu petunjuk awal mula berdirinya Kerajaan Kalingga. Diyakini pula bahwa Dapunta Selendra atau Dapunta Syailendra adalah cikal bakal keturunan Wangsa Syailendra yang kemudian berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti ini juga menunjukkan jika wilayah pantai utara Jawa Tengah berkembang corak agama Hindu Siwais.

Demikianlah ulasan tentang Kerajaan Kalingga. Walaupun tidak banyak sumber yang dapat menjelaskan secara runtut kisah Kerajaan ini namun setidaknya masih terdapat beberapa informasi yang bisa digali. Kerajaan Kalingga menjadi bukti bahwa sistem pemerintahan berbentuk kerajaan menjadi sistem pemerintahan sudah ada di Indonesia sejak masa lampau.

Tarumanagara
atau
Kerajaan Taruma
(Sunda:

ᮊᮛᮏᮃᮔ᮪ ᮒᮛᮥᮙ
,
translit.
Karajaan Taruma) adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-5 hingga abad ke-7 M.[1] Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.[2] Kata tarumanagara berasal dari kata taruma dan nagara. Nagara artinya kerajaan atau negara sedangkan taruma berasal dari kata tarum yang merupakan nama sungai yang membelah Jawa Barat yaitu Ci Tarum. Pada muara Ci Tarum ditemukan percandian yang luas yaitu Percandian Batujaya dan Percandian Cibuaya yang diduga merupakan peradaban peninggalan Kerajaan Taruma.[3][4]

Baca Juga :   Kegiatan bertukar buku dengan teman merupakan contoh gaya yang dapat mengubah

Tarumanagara

358–669

Wilayah Tarumanagara

Ibu kotaSundapuraBahasa yang umum digunakanSanskerta, Sunda KunoAgama Hindu dan BuddhaPemerintahanMonarkiMaharaja

• 358-382

Jayasingawarman

• 395-434

Purnawarman

• 666-669

Linggawarman Sejarah

• Didirikan

358

• Invasi Sriwijaya

669

Didahului oleh Digantikan oleh

Kebudayaan Buni
Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sunda

Sekarang bagian dari

Indonesia

Prasasti Tugu di Museum Nasional

Prasasti Ciaruteun yang ditemukan di sungai Tjiaroeteun dekat Bogor, difoto sebelum tahun 1900.

Sejarah Kerajaan Tarumanegara bersumber dari sejumlah prasasti yang berasal dari abad ke-5 Masehi. Prasasti tersebut diberi nama berdasarkan lokasi penemuannya, yaitu prasasti Ciaruteun, prasasti Pasir Koleangkak, prasasti Kebonkopi, prasasti Tugu, prasasti Pasir Awi, prasasti Muara Cianten, dan prasasti Cidanghiang. Prasasti menyebutkan nama raja yang berkuasa adalah Purnawarman.[5][6][7]


Prasasti Kebon Kopi (Prasasti Tapak Gajah)

Lokasi prasasti ini di Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Prasasti ini ditemukan pada awal abad XIX oleh N.W. Hoepermans, tertulis pada bongkahan andesit rata dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Dinamakan prasasti Tapak Gajah karena diapit oleh sepasang gambar kaki telapak gajah. Pahatan pada prasasti ini tidak terlalu dalam sehingga seiring dengan bertambahnya waktu tulisan pada prasasti sulit untuk terbaca.[8]

Alih aksara:

“– — jayavisalasya tarume(ndra)sya ha(st)ina? — — (°aira) vatabhasya vibhatidam=padadvaya? ||” yang artinya “Di sini tampak sepasang tapak kaki … yang seperti (tapak kaki) Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) agung dalam … dan (?) kejayaan”.[8][9]

Prasasti Tugu

Lokasi saat ini Prasasti Tugu di Kampung Batu Tumbuh, Kelurahan Tugu, Koja, Jakarta Utara. Prasasti ini keluar pada masa pemerintahan Punawarman ditemukan pada abad ke-X Masehi tertulis dalam bahasa Sanskerta, aksara Pallawa dalam bentuk sloka dengan metrum anustubh. Dari sekian prasasti yang ditemukan saat pemerintahan raja Purnawarman, prasasti Tugu adalah yang terlengkap walaupun tidak menuliskan angka tahun.[10]

Prasasti Tugu menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12km oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.[11]


Prasasti Cidanghiang (Prasasti Munjul)

Lokasi prasasti ini di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kapubaten Pandeglang. Lokasinya masih insitu, ditemukan di tepi sungai Cidanghiang. Pada prasasti ini tertulis dalam bahasa Sanskerta, dengan aksara Pallawa dan metrum anustubh, tampak keausan dan permukaan yang ditutupi lumut pada permukaan prasasti ini namun tulisan masih dapat dibaca.[12] Isi dari prasasti ini merupakan pujian dan pengagungan terhadap raja Purnawarman. Prasasti ini pertama kali ditemukan pada tahun 1947 oleh Toebagus Roesjan dan diteliti pada tahun 1947.[13]

Alih aksara dari prasasti yaitu:

(1) “vikranto ‘yam vanipateh | prabhuh satyapara[k]ramah” yang berarti “Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan dan keberanian yang sesungguhnya dari Raja Dunia” (2) “narendraddhavajabhutena | srimatah purnnavarmanah” yang berarti “Yang Mulia Purnnawarman, yang menjadi panji sekalian raja-raja”.[12]

Prasasti Ciaruteun

Lokasi Prasasti Ciaruteun di Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor[14] ditemukan di aliran Sungai Ciaruteun, Bogor pada tahun 1863, prasasti ini terbagi menjadi dua bagian yaitu Prasasti Ciaruteun A yang tertulis dengan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa terdiri atas 4 baris puisi India (irama anustubh) , dan Prasasti Ciaruteun B berisikan goresan telapak kaki dan motif laba-laba yang belum diketahui maknanya, Menurut juru kunci Prasasti Ciaruteun, simbol yang terdapat pada prasasti tersebut menandakan Raja Purnawarman yang gagah perkasa dan berkuasa.[15][16] Prasasti ini memiliki ukuran 2 meter dengan tinggi 1.5 meter, berbobot 8 ton.[17]

Alih aksara dari prasasti ini yaitu:

Baris pertama: vikkrantasya vanipateh

Baris kedua: srimatah purnnavarmmanah

Baris ketiga: tarumanagarendrasya

Baris keempat: visnor=iva padadvayam ||[18]

Artinya:

“Inilah sepasang (telapak) kaki, yang seperti (telapak kaki) Dewa Wisnu, ialah telapak kaki Yang Mulia Purnnawarman, raja di negara Taruma (Tarumanagara), raja yang gagah berani di dunia”.[18]

Berdasarkan pesan yang terdapat pada Prasasti Ciaruteun kita mengetahui bahwa prasasti ini dibuat pada abad ke-V dan menginformasikan bahwa pada masa lalu terdapat Kerajaan Tarumanagara yang dipimpin oleh Raja Purnawarmanyang memuja Dewa Wisnu yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan India, terbukti pada nama raja yang berakhiran -warman,[7] dan tapak kaki yang menandakan kuasa pada zamannya.[17][16] Pada tahun 1863, prasasti ini sempat hanyut diterjang banjir sehingga tulisan yang ada menjadi terbalik, kemudian pada 1903 prasasti ini dikembalikan ke tempat semula, dan pada 1981 barulah prasasti ini dilindungi.[17]

Prasasti Muara Cianten

Lokasi Prasasti Muara Cianten di Kampung Muara, Desa Ciaruteun, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. [19] Prasasti ini ditemukan pada tahun 1864 oleh N.W. Hoepermans dan beberapa tokoh lainnya, ukuran Prasasti Muara Cianten sekitar 2,7 x 1.4 x 1.4 meter dengan jenis batu andesit, hingga saat ini isi prasasti ini belum dapat dibawa sebab menggunakan huruf sangkha atau ikal seperti huruf pada Prasasti Pasir Awi dan Ciaruteun B.[20]


Prasasti Jambu (Prasasti Pasir Koleangkak)

Lokasi Prasasti Jambu di Desa Parakanmuncung, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, tempat ditemukannya prasasti ini merupakan Perkebunan Karet Sadeng Djamboe pada masa Kolonial Belanda, Prasasti ini ditemukan pada tahun 1854 oleh Jonathan Rigg, diduga dibuat pada abad ke-V. Tulisan pada prasasti ini dipahat pada batu menyerupai segitiga berukuran sekitar 2-3 meter tiap sisinya, tertulis dalam huruf Pallawa, dengan bahasa Sanskerta dan terdapat pahatan sepasang telapak kaki.[21]

Baca Juga :   Pijat putar pilin dan cetak merupakan cara yang digunakan dalam teknik membentuk

Alih aksara dari prasasti ini yaitu:

śrīmān=dātā kṛtajño narapatir=asamo yah purā [tā]r[ū]māya[ṃ] / nāmnā śrīpūrṇṇavarmmā pracuraripuṡarābhedadyavikhyātavarmmo / tasyedam=pādavimbadbadvayam=arinagarotsāda ne nityadakṣam / bhaktānām yandripāṇām=bhavati sukhakaraṃ śalyabhūtaṃ ripūṇām.[22]

Arti dari aksara ini yaitu:

“Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin yang tiada taranya – Yang Termashur Sri Purnnawarman – yang sekali waktu (memerintah) di Taruma, dan yang baju zirahnya terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang telapak kakinya yang senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya”.[22]

Berita dari Luar Negeri

Sumber berita lain yang membuktikan berdirinya Kerajaan Tarumanagara berasal dari berita Cina, berupa catatan perjalanan Fa-Hien (penjelajah dari Cina) dalam bentuk buku dengan judul “Fa-Kuo-Chi” menyebutkan bahwa pada awal abad ke-5 M, di Ye-Po-Ti banyak orang Brahmana dan animisme.[23] Pada tahun 414 M Fa-Hien datang ke tanah Jawa untuk membuat catatan sejarah kerajaan To-lo-mo (Kerajaan Tarumanagara), dan singgah di Ye-Po-Ti selama 5 bulan.[24] Selain itu, berita Dinasti Sui menuliskan bahwa pada tahun 528 dan 535, utusan To-lo-mo telah datang dari sebelah selatan. Berita Dinasti Tang menuliskan bahwa pada tahun 666 dan 669 utusan To-lo-mo telah datang. Dari berita tersebut dapat diketahui bahwa Kerajaan Tarumanagara berkembang antara tahun 400-600 M, yang pada saat itu masa kepemimpinan Raja Purnawarman dengan wilayah kekuasaan hampir seluruh Jawa Barat.[24]

Naskah Wangsakerta

Naskah Wangsakerta menjadi polemik di kalangan sejarawan, sebab naskah-naskah ini diragukan keasliannya sehingga sulit untuk dijadikan patokan sejarah. Sebelumnya, pada tahun 1980-an polemik di majalah, surat kabar, kalangan arkeolog terjadi bahkan sampai diangkat ke percaturan nasional. Penulisan Naskah Wangsakerta berlangsung selama 21 tahun dibawah pimpinan Pangeran Wangsakerta menggunakan kertas daluang dan tinta hitam dan bertahan selama 100 tahun, dapat dikatakan bahwa naskah yang ada di Museum Sri Baduga merupakan naskah salinan. Isi dari naskah ini mendeskripsikan mengenai sejarah pulau-pulau di Nusantara. Bahkan uraian sejarah tertulis lengkap dan terperinci mulai dari kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara hingga daftar raja-raja yang memerintah lengkap beserta angka tahun pemerintahannya tertulis secara rinci. Naskah Wangsakerta terdiri atas 5 karangan dengan judul Carita Parahyangan, Nagarakrebhumi, Pustaka Dwipantaraparwa, Pustaka Pararatwan, Pustaka i Bhumi Jawadwipa dan Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara. Polemik muncul sebab naskah-naskah ini tergolong modern dan begitu lengkap.[25]

Candi Jiwa di situs Percandian Batujaya

Penginggalan-peninggalan pada masa Kerajaan Tarumanagara berupa 7 prasasti dan artefak lainnya, sebagai berikut:

Nama situs Artefak Keterangan
Kampung Muara[26] Menhir (3)
Batu dakon (2)
Arca batu tidak berkepala
Struktur Batu kali
Kuburan (tua)
Ciampea[27] Arca gajah (batu) Rusak berat
Gunung Cibodas[28] Arca Terbuat dari batu kapur
3 arca berdiri
arca raksasa
arca (?) Fragmen
Arca dewa
Arca dwarapala
Arca Brahma Duduk diatas angsa
(Wahana Hamsa)
dilengkapi padmasana
Arca (berdiri) Fragmen kaki dan lapik
(Kartikeya?)
Arca singa (perunggu) Mus.Nas.no.771
Tanjung Barat[28] Arca Siwa (duduk) perunggu Mus.Nas.no.514a
Tanjungpriok[28] Arca Durga-Kali Batu granit Mus.Nas. no.296a
Tidak diketahui Arca Rajaresi[29] Mus.Nas.no.6363
Cilincing sejumlah besar pecahan settlement pattern
Buni perhiasan emas dalam periuk settlement pattern
Tempayan
Beliung
Logam perunggu
Logam besi
Gelang kaca
Manik-manik batu dan kaca
Tulang belulang manusia
Sejumlah besar gerabah bentuk wadah
Batujaya (Karawang) Unur (hunyur) sruktur bata Percandian
Segaran I
Segaran II
Segaran III
Segaran IV
Segaran V
Segaran VI
Talagajaya I
Talagajaya II
Talagajaya III
Talagajaya IV
Talagajaya V
Talagajaya VI
Talagajaya VII
Cibuaya[30] Arca Wisnu I
Arca Wisnu II
Arca Wisnu III
Lemah Duwur Wadon Candi I
Lemah Duwur Lanang Candi II
Pipisan batu

Sejauh ini, sumber primer berupa prasasti hanya menyebutkan satu raja, yakni Purnawarman sebagai raja Tarumanagara. Silsilah nenek moyang maupun keturunan Purnawarman sama sekali tidak disebutkan dalam sumber primer berupa prasasti.

Naskah Wangsakerta yang ditulis pada abad XVII menyebut kerajaan Tarumanagara dipimpin oleh 12 raja, diawali dengan Jayasingawarman (358-382 M) sebagai raja pertama dan diakhiri oleh Linggawarman pada tahun 669 M. Masih menurut Wangsakerta, kerajaan Tarumanagara jatuh pada menantu dari putri sulungnya yaitu Tarusbawa dari Sunda. Tarusbawa lebih menginginkan kerajaannya sendiri yaitu Sunda.[31] Namun, hingga hari in belum diketahui secara pasti kapan Kerajaan Tarumanagara berakhir mengingat satu-satunya sumber yang menyebutkan keruntuhannya (Naskah Wangsakerta) ditulis 1.000 tahun semenjak kejadian sebenarnya.[32]

Kehidupan politik pada masa Kerajaan Tarumanagara diketahui berdasarkan prasasti yang telah ditemukan, berdasarkan prasasti tersebut raja yang berhasil meningkatkan kehidupan rakyat adalah Raja Purnawarman, dalam prasasti tugu yang menuliskan bahwa penggalian kali yang dilakukan membuat kehidupan rakyat makmur dan merasa aman. Selanjutnya kondisi sosial pada masa pemerintahan Raja Purnawarman terus meningkat dengan memperhatikan kedudukan kaum Brahmana sebagai tanda penghormatan kepada para dewa, agama yang dianut oleh Raja Purnawarman dan rakyatnya adalah Hindu Siwa dengan kaum Brahmana sebagai pemegang peran penting dalam upacara. Sikap toleransi beragama pada masa ini cukup tinggi dibuktikan dengan adanya agama Budha dan agama nenek moyang (animisme). Prasasti tugu menuliskan bahwa Raja Purnawarman membuat terusan 6122 tombak yang dipergunakan sebagai sarana lalu lintas pelayaran dan perdagangan dengan daerah sekitarnya, hal ini menandakan kehidupan ekonomi rakyatnya tertata rapi. Kehidupan budaya pada masa itu sudah tinggi, ditandai dengan teknik dan cara penulisan huruf-huruf dari prasasti yang memperlihatkan perkembangan budaya tulis menulis.[24]

Baca Juga :   Game set ke lima pada permainan bola voli adalah ….
  • Kerajaan Galuh
  • Kerajaan Sunda
  • Kerajaan Pajajaran
  • Kerajaan Sumedang Larang

  1. ^

    Aris Munandar, Agus (2011). Indonesia Dalam Arus Sejarah 2: Kerajaan Hindu – Buddha. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve. hlm. 60.



  2. ^

    Media, Kompas Cyber. “Jelaskan Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara, Jawaban Belajar di Rumah TVRI Halaman all”. KOMPAS.com. Diakses tanggal
    2020-08-01
    .



  3. ^

    Komplek Percandian Batujaya Tempat Lahirnya Peradaban di Tatar Sunda, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 2006

  4. ^

    “Kerajaan Tarumanagara | Surau Foundation”. surau.or.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-28. Diakses tanggal
    2020-08-02
    .



  5. ^

    Poesponegoro, Marwati Djoened; Notosusanto, Nugroho (Ed.) (2008). Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno (Awal M–1500 M). Jakarta: Balai Pustaka.



  6. ^

    Mustinda, Lusiana. “Begini Sejarah Berdirinya Kerajaan Tarumanegara”. detikTravel. Diakses tanggal
    2020-08-01
    .


  7. ^
    a
    b

    PeoplePill. “Purnawarman: King of Tarumanagara | Biography, Facts, Career, Wiki, Life”. PeoplePill (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2020-08-02
    .


  8. ^
    a
    b

    “Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya”. cagarbudaya.kemdikbud.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-03. Diakses tanggal
    2020-08-01
    .



  9. ^

    bpcbbanten (2019-12-23). “Prasasti Kebon Kopi (Prasasti Tapak Gajah)”. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2020-08-08
    .



  10. ^

    MNI (2019-08-21). “Prasasti Tugu”. Museum Nasional (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2020-08-01
    .



  11. ^

    “Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Berupa Prasasti, Apa Saja, ya, Prasastinya? – Semua Halaman – Bobo”. bobo.grid.id. Diakses tanggal
    2020-08-01
    .


  12. ^
    a
    b

    “Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya”. cagarbudaya.kemdikbud.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-03. Diakses tanggal
    2020-08-01
    .



  13. ^

    Banten, Kabar (2017-11-24). “Prasasti Cidanghiyang Munjul, Pujian bagi Raja Purnawarman”. Diakses tanggal
    2020-08-01
    .



  14. ^

    “Misteri Prasasti Ciaruteun di Kabupaten Bogor, Tak Kunjung Terpecahkan | Bogor-Kita.com”. Diakses tanggal
    2020-08-02
    .



  15. ^

    “Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya”. cagarbudaya.kemdikbud.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-03. Diakses tanggal
    2020-08-02
    .


  16. ^
    a
    b

    Liputan6.com (2002-05-22). “Prasasti Ciaruteun, Simbol Kebesaran Raja Punawarman”. liputan6.com. Diakses tanggal
    2020-08-02
    .


  17. ^
    a
    b
    c

    “Prasasti Ciaruteun, Jejak Kerajaan Tarumanagara di Bogor”. Holamigo – Portal Travel Indonesia. 2020-03-01. Diakses tanggal
    2020-08-02
    .


    [pranala nonaktif permanen]
  18. ^
    a
    b

    bpcbbanten (2019-12-23). “Prasasti Ciaruteun”. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-08. Diakses tanggal
    2020-08-02
    .



  19. ^

    “Prasasti Muara Cianten-Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat”. www.disparbud.jabarprov.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-10-25. Diakses tanggal
    2020-08-02
    .



  20. ^

    “Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya”. cagarbudaya.kemdikbud.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-03. Diakses tanggal
    2020-08-02
    .



  21. ^

    “Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya”. cagarbudaya.kemdikbud.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-08-08. Diakses tanggal
    2020-08-02
    .


  22. ^
    a
    b

    bpcbbanten (2019-12-23). “Prasasti Jambu (Prasasti Pasir Koleangkak)”. Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2020-08-02
    .



  23. ^

    “Portal Sejarah Indonesia dan Dunia: Sejarah Kerajaan Tarumanegara: Ringkasan Komplet”. Portal Sejarah Indonesia dan Dunia. Diakses tanggal
    2020-08-03
    .


  24. ^
    a
    b
    c

    Thabroni, Gamal (2020-07-28). “Kerajaan Tarumanegara: Sejarah, Kejayaan, Silsilah, Keruntuhan, dsb”. serupa.id. Diakses tanggal
    2020-08-03
    .



  25. ^

    Lubis, Nina (2002, Februari). “Kontroversi Tentang Naskah Wangsakerta”
    (PDF). Humaniora.
    14
    (1): 20–26.



  26. ^

    “Ini 7 Prasasti Bukti Kerajaan Tarumanegara, Materi Belajar dari Rumah TVRI”. suara.com. 2020-04-30. Diakses tanggal
    2020-08-03
    .



  27. ^

    “Prasasti Ciaruteun, Jejak Kerajaan Tarumanagara di Bogor”. Holamigo – Portal Travel Indonesia. 2020-03-01. Diakses tanggal
    2020-08-03
    .


    [pranala nonaktif permanen]
  28. ^
    a
    b
    c

    “Kerajaan Tarumanagara – Sejarah, Letak, Raja, Runtuhnya, Peninggalan”. StudioBelajar.com (dalam bahasa Inggris). 2020-07-29. Diakses tanggal
    2020-08-03
    .



  29. ^

    “Tarumanagara – 400 M”. Diakses tanggal
    2020-08-03
    .



  30. ^

    Wirata, I. Wayan (2020-03-13). “17 Peninggalan Kerajaan Tarumanegara (Candi, Prasasti, Arca) – Lengkap • Katamasa”. Katamasa. Diakses tanggal
    2020-08-03
    .



  31. ^

    “Kerajaan Tarumanegara”. Tribunnewswiki.com. Diakses tanggal
    2021-08-03
    .



  32. ^

    infid (2017-12-09). “Kingdom of Tarumanagara”. infid.be (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal
    2020-08-03
    .


  1. Richadiana Kartakusuma (1991), Anekaragam Bahasa Prasastidi Jawa Barat Pada Abad Ke-5 Masehi sampai Ke-16 Masehi: Suatu Kajian Tentang Munculnya Bahasa Sunda. Tesis (yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang Arkeologi). Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia.
  2. Dinas Purbakala R.I (1964) Laporan Tahunan 1954 Dinas Purbakala Republik Indonesia. Djakarta: Dinas Purbakala
  3. J.L.Moens (1940)”was Purnawarman van Taruma een Sanjaya?” TBG.81
  4. J. noorduyn and H.Th.Verstappen (1972), “Purnawarman’s River-works near Tugu” BKI 128:298-307
  5. R.M.Ng.Poerbatharaka (l952), Riwayat Indonesia I. Djakarta: Jajasan Pembangunan
  6. Soetjipto Wirjosuparto (1963), The Second Wisnu Image of Cibuaya, West Jawa, MISI. I/2: 170-87
  7. Teguh Asmar (1971), “Preliminary Report on Recent Excavation near the Kenon Kopi Inscription (Kampung Muara)” Manusia Indonesia V(4-6), l971:416-424;
  8. Teguh Asmar (l971) “The Megalithic Tradition” dalam Haryati Soebadio et.al.(editor) Dynamic of Indonesian History, Amsterdam. 1978:29-40
  9. W.P.Groeneveldt, Catalogus der Archaeologische Verzameling van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Batavia l887
  10. N.J.Krom “inventaris der Hindoe-Oudheden” ROD 1914-1915.
  11. Hasan Djafar “Pemukiman-Pemukiman Kuno di Daerah akarta dn Sekitarnya” makalah pada Dskusi Ilmiah Arkeologi VI, Jakarta 11-12 Februari 1988. IAAI Komda Jawa Barat.
  12. Van der Hoop Catalogus der Prehistorische Verzameling. 1941.
  13. R.P.Soejono “Indonesia (REgional REport)” Asian Perspectives VI, 1962: 23-24
  14. I Made Sutayasa (l970) “Gerabah Prasedjarah dari Djawa Barat Utara (kompleks Bun), makalah pada Seminar Sjarah Nasional II
  15. Jurusan Arrkeologi FSUI (l985/1986), Peninggalan Purbakala di Batujaya (naskah Laporan untuk Proyek Penelitian Purbakala, Jakarta)
  16. Sundapura
  • Ayatrohaedi, 2005, Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya. ISBN 979-419-330-5
  • Saleh Danasasmita, 2003, Nyukcruk sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Bandung: Kiblat Buku Utama. ISBN
  • Yoseph Iskandar, 1997, Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Bandung: Geger Sunten.
Didahului oleh:
Kutai
Kerajaan Hindu-Budha

358 – 669
Diteruskan oleh:
Sunda

Diperoleh dari “https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tarumanagara&oldid=21231117”

Jelaskan hubungan antara kerajaan tarumanegara dan kerajaan kalingga secara singkat

Posted by: pskji.org