Kelahiran dan kematian seseorang telah ditentukan oleh allah sejak

Kelahiran dan kematian seseorang telah ditentukan oleh allah sejak

Ketetapan Allah Swt.mengenai kelahiran jodoh dan kematian sudah ditentukan Allah sejak?

  1. Didalam kandungan
  2. Zaman Azali
  3. Setelah nabi adam turun kebumi
  4. Zaman Jahiliyah
  5. Semua jawaban benar

Jawaban yang benar adalah: B. Zaman Azali.

Dilansir dari Ensiklopedia, ketetapan allah swt.mengenai kelahiran jodoh dan kematian sudah ditentukan allah sejak Zaman Azali.

Baca Juga :   Dalam dokumentasi asing KERAJAAN Medang Kamulan pernah terlibat pertempuran dengan KERAJAAN

Pembahasan dan Penjelasan

Menurut saya jawaban
A. Didalam kandungan
adalah jawaban yang kurang tepat, karena sudah terlihat jelas antara pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama sekali.

Menurut saya jawaban
B. Zaman Azali
adalah jawaban yang paling benar, bisa dibuktikan dari buku bacaan dan informasi yang ada di google.

Baca Juga :   Bagaimana sebaiknya sikapmu kepada teman yang berbeda ciri cirinya denganmu

Menurut saya jawaban
C. Setelah nabi adam turun kebumi
adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut lebih tepat kalau dipakai untuk pertanyaan lain.

Menurut saya jawaban
D. Zaman Jahiliyah
adalah jawaban salah, karena jawaban tersebut sudah melenceng dari apa yang ditanyakan.

Baca Juga :   Bersepeda 40 menit membakar berapa kalori

Menurut saya jawaban
E. Semua jawaban benar
adalah jawaban salah, karena setelah saya coba cari di google, jawaban ini lebih cocok untuk pertanyaan lain.

Kesimpulan

Dari penjelasan dan pembahasan serta pilihan diatas, saya bisa menyimpulkan bahwa jawaban yang paling benar adalah B. Zaman Azali.

Baca Juga :   Mengapa frekuensi pernapasan laki-laki lebih cepat daripada perempuan

Jika anda masih punya pertanyaan lain atau ingin menanyakan sesuatu bisa tulis di kolom kometar dibawah.

Peristiwa yang paling niscaya untuk diingkari adalah kematian. Meski demikian, kenyataannya kematian menjadi salah satu bentuk kiamat kecil yang nantinya akan dialami oleh setiap makhluk hidup. Topik ini diangkat oleh Takmir Masjid Ulil Albab dalam kajian rutin aqidah bersama Ustadz Amir As-Soronji, Senin (13/10). Kematian bukanlah soal siapa yang lebih dahulu, melainkan bagaimana kita lapang akan takdir yang telah ditetapkan-Nya.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 28 yang artinya, “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” Dari ayat tersebut menjadi bukti bahwa setiap orang berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ustadz Amir menyatakan bahwa merenungkan kematian merupakan sebaik-baik nasehat. Ia menyebut bahwa kematian menjadi makhluk ciptaan Allah. “Kematian dapat diserupakan seperti domba yang disembelih yang nanti setelah kiamat tidak akan ada kematian,” jelasnya.

Menurut Ustadz Amir, merenungkan kematian akan menambah pengetahuan terutama mengenai pemahaman misteri kehidupan. Merenungkan makhluk-Nya berarti juga memikirkan kekuasaan Allah yang telah menghidupkan lalu mematikan makhluknya.

Ustadz Amir menyebut dalam sebuah riwayat menceritakan ada seorang Arab Badui yang melakukan perjalanan dengan untanya. Namun di perjalanan, unta tersebut terjatuh lalu tersungkur dan mati. Orang Arab ini lalu turun dari unta dan mengelilingnya sambil berkata, ‘Kenapa kau tidak berdiri? Kenapa kau tidak bangkit? Anggota tubuhmu masih lengkap, kau dari rumah juga terlihat sehat. Ada apa denganmu? Apa yang bisa membuatmu agar bangkit lagi?’ Karena tidak ada reaksi dari unta, orang Arab Badui ini lalu pergi meninggalkannya sambil terheran dan berpikir apa yang dialami untanya.

Hal tersebut juga sering dialami oleh manusia ketika ada saudara atau temannya yang baru saja atau tidak lama berjumpa dengannya dengan keadaan badan yang sehat, untuh, ceria namun tiba-tiba ada kabar bahwa ia meninggal. “Ini menunjukan kekuasaan Allah, mati itu sudah ditetapkan. Jika sudah waktunya ya akan terjadi tanpa memandang usia atau keadaan orang itu,” ujar Ustadz Amir.

Ustadz Amir juga menuturkan bahwa orang sakit atau sehat akan mati, orang kuat mati, mahasiswa dan dosen mati, tentara dan polisi mati, semua makhluk akan mati. “Mati itu tiba-tiba, tidak ada yang tahu jadwal kapan seseorang akan mati,” jelasnya. Lalu pertanyaannya adalah apakah orang yang meninggal dalam keadaan tiba-tiba padahah dirinya sehat-sehat saja akan husnul khotimah?

Menjawab itu, Ustadz Amir menyampaikan para ulama bersepakat bahwa jika yang meninggal orang mukmin yang taat kepada Allah maka dapat dikatakan dirinya Husnul khotimah. Namun, jika ia kafir atau orang muslim namun mengingkari Allah maka ia su’ul khotimah atau kembali tanpa keimanan. “Kematian adalah keputusan atau ketetapan Allah. Tiap jiwa pasti akan merasakan kematian,” tegas Ustadz Amir.

Menurutnya yang harus menjadi pengingat kematian bagi seorang muslim bukanlah saat keadaan sakit, melainkan saat tubuh sehat. Bahkan ketika dalam keadaan sakit, seharusnya ia bersyukur karena diberi rasa sakit berarti Allah masih cinta kepadanya dengan menegur dirinya agar taat kepada Allah.

Jika seseorang merasa imannya turun, maka tips dari Ustadz Amir adalah agar ia segera menutup matanya lalu membayangkan siksa sakararul maut, alam kubur, alam barzah, dan hal lainnya mengenai kematian dan kekuasaan Allah.

Allah Mengingatkan Rasul akan Kematian

Selain manusia biasa, Allah juga telah mengingatkan Rasulullah dalam Q.S. Az-Zumar ayat 30 yang artinya, “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” Selain itu dalam sabda Rasulullah mengatakan, “Cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya!”

Setiap mukmin dibebaskan untuk mencintai siapa saja di antara semua makhluk, namun sesungguhnya mereka akan berpisah dengannya. Maka, jangan sampai seorang mukmin menyibukkan hatinya dengan kesenangan dunia yang fana berupa istri, anak, harta dan lainnya. “Ini pembahasan yang penting, agar kita tidak terlena. Karena sesungguhnya kemuliaan orang mukmin adalah amalnya. Dan kehormatan baginya adalah tidak meminta-minta,” kata Ustadz Amir.

Di akhir sesi, Ustadz Amir mengingatkan bahwa waktu kedatangan kematian adalah perkata gaib yang tidak diketahui orang kecuali Allah. Untuk itu, sangat dibutuhkan oleh setiap orang mengingat kematian agar dapat merubah mindset dengan menyusun ulang priotitas dan nilai agar tidak hanya duniawi saja yang dipikirkan. “Merenung kematian dapat memberikan pemahaman baru dan membangun sifat rendah hati, lembut hati, dan keberanian di dalam diri kita,” tutupnya. (SF/RS)

Banyak orang yang mengasumsikan bahwa umur, rizki dan perbuatan termasuk ajal manusia telah di tetapkan terlebih dahulu oleh Allah. Dalam artian telah di takdirkan sejak awal. Dengan dasar itu, kemudian manusia menjadi kehilangan kehendak, usaha dan pilihan bagi perbuatan-perbuatan dan rizkinya. Asumsi ini sangat kuat di masyarakat.

Jika pengetahuan ini terus dipegang, maka dunia medis, ilmu kedokteran, pengobatan dan operasi menjadi tidak bermakna, sebagaimana juga doa manusia menjadi sesuatu yang sia-sia dan hanya permainan belaka. Di sini ikhtiar dan do’a menjadi tidak ada gunanya.

Di sini saya akan mencoba menyajikan bahwa ajal dan umur manusia memang ditetapkan oleh Allah, akan tetapi kepan waktunya dan dalam kondisi apa ditentukan oleh usaha dan perilaku manusia.  Kita akan mulai dengan membandingkan antara dua ayat berikut :

  1. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai kitab yang telah mempunyai batas waktu.
    Barangsiapa mengehendaki ganjaran dunia, niscaya Kami berikan kepadanya ganjaran dunia itu, dan barangsiapa menghendaki ganjaran akhirat, kami berikan (pula) kepadanya ganjaran akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 145).
  2. “jika kalian telah melaksanakan shalat maka ingatlah kepada Allah pada saat berdiri dan saat tidur, dan jika kalian telah tenang, maka laksanakanlah shalat karena
    sesungguhnya shalat bagi orang-orang yang beriman adalah kitab yang mempunyai waktu.”
    (Al-Nisa : 103).

Ayat pertama di dalam surah Ali Imran di atas adalah termasuk kategori nubuwwah, sedangkan ayat kedua dari surah Al-Nisa’ di atas adalah termasuk kategori risalah. Nubuwwah, di dalamnya terdapat hukum-hukum qadar, sedangkan risalah terdapat hukum-hukum qadha’ manusia. Ketika Allah mengatakan bahwa kematian adalah kitab yang telah mempunyai
batas waktu, maka itu artinya bahwa kitab ul-maut adalah akumulasi dari syarat-syarat obyektif yang membawa kepada kematian.

Baca Juga
Ulama Ideal Menurut Al-Qur’an: Saintis, Fakih dan Sufi

Kematian mempunyai batas waktu hingga terwujud syarat-syarat dari kitab ini. Ketika manusia mengenainya, maka ia bisa menangguhkan syarat-syaratnya, sehingga umurnya menjadi lebih panjang. Misalnya ketika ilmu kesehatan bayi, ilmu kesehatan dan kebersihan umum mencapai kemajuan, kematian-kematian anak bisa diminimalisasi dengan cara-cara tertentu dan sebagian penyakit-penyakit yang melanda bisa dihilangkan.

Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Ketika ilmu kedokteran telah mencapai kemajuan sedemikian rupa, maka kesempatan untuk “selamat dari penyakit-penyakit” akan semakin banyak. Ketika pada masa lalu manusia tidak mau berbuat apa-apa untuk menghindarinya, termasuk menghindari virus. Selama ada virus baru, akan ditemukan vaksin atau antivaksinnya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setiap kali kemajuan suatu negara bertambah dalam masalah kesehatan, kebersihan dan penerapan prinsip-prinsip jaminan keselamatan kerja serta jaminan dalam kehidupan publik, maka meningkatlah kemampuan untuk menekan angka kematian. Lihat saja negara maju seperti Jepang, kebanyakan orang panjang sehat dan memiliki usia yang panjang sampai usia tua, masih sehat dan kuat.

Sebab itulah Allah mengatakan kematian sebagai “kitab mu’ajial” (ketentuan yang ditangguhkan). Jika syarat-syarat obyektif yang menyebabkan terjadinya kematian telah terkumpul, maka bisa dipastikan bahwa ajal akan terjadi. Oleh sebab itulah Allah berfirman, “jika ajal mereka telah datang, mereka tidak bisa menunda dan tidak bisa juga mendahulukannya.” (Al-A’raf: 34).

Akan tetapi ajal-ajal tertentu dikaitkan dengan Al-Kitab dalamn firman-Nya, “Bagi setiap ajal mempunyai kitab.” (Al-Ra’d: 38). Artinya kenyataan yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa kejadian tertentu, ajal (batas waktunya) mesti didahului oleh kitab (ketentuan) dari kejadian ini, yaitu akumulasi dari syarat-syarat obyektif yang secara pasti menyebabkan kematian yang tunduk kepada observasi manusia.

Baca Juga
Tafsir Biji-bijian dalam QS An-Naba’ Ayat 15

Setiap kali pengetahuan manusia bertambah mengenai ketentuan-ketentuan alam (sains dan teknologi), maka bertambahlah kemungkinan untuk mengendalikannya bagi kemaslahatan manusia. Allah telah menginformasikan kepada kita bahwa segala sesuatu mempunyai “kitab”, berdasarkan firman-Nya, “Setiap segala sesuatu telah kami kalkulasikan di dalam kitab” (Al-Naba’: 29).

Adapun ayat yang kedua dari surah Al-Nisa’ termasuk kategori risalah dalam artian termasuk di antara qadha’ manusia. Oleh sebab itulah Allah berfirman mengenai shalat tersebut, yang termasuk tema-tema yang terlaksana pada waktu-waktunya yang telah tertentu dan telah diketahui sebelumnya. Oleh sebab itulah maka kitab shalat merupakan bagian dari Umm ul-Kitab, sedangkan kitab kematian adalah bagian dari Al-Qur’an (Nubuwah). Yang pertama adalah kitab qadha’, sedangan yang kedua adalah kitab qadar.

Umur: Bisa Bertambah atau Berkurang?

Dari titik tolak ini kita bisa memahami bahwa umur-umur manusia tidak tetap, melainkan selalu berubah, berdasarkan firmanNya, “kitaban mu’ajjala” (ketentuan yang tertunda). Ketentuan dalam artian batas waktu ini muncul dengan bentuk yang jelas di dalam firman-Nya:

“Dan Allah yang telah menciptakan kalian dari debu lalu dari nuthfah (saripati makanan), lalu Dia menjadikan kalian berpasang-pasangan, tidaklah seorang perempuan mengandung dan tidak juga melahirkan kecuali dengan pengetahuan-Nya, dan
tidaklah orang yang mempunyai umur panjang dipanjangkan umurnya dan tidak juga berkurang umurnya [wa la yunqashu min ‘umuri-hi] kecuali berada dalam kitab,
sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah gampang.” (Fathir: 11)

Perhatikanlah pada ayat tersebut, betapa jelasnya bahwa berkurang atau bertambahnya umur tidak akan terjadi, kecuali berdasarkan kitab. Artinya, di sana terdapat akumulasi syarat-syarat obyektif yang menyebabkan berkurangnya umur, sedangkan yang lain menyebabkan bertambahnya. Dan spesifikasi dari ilmu kedokteran, ilmu kesahatan dan ilmu gizi adalah di dalam kitab ini.

Baca Juga
Yang Luput dari Pembahasan Kisah Ashabul Kahfi

Selama ini pemikiran masyarakat mengenai umur adalah tetap. Padahal
umur tidak tetap. Dan para dokter dan pekerja medis harus memahami bahwa umur tidak tetap, sehingga mereka mempunyai tanggungjawab penuh terhadap orang-orang sakit. Di sinilah berlakunya usaha manusia dan doa supaya dipanjangkan umurnya.

Hukum Alam

Selanjutnya Allah Swt dalam ayat-ayat berikut ini berfirman:

“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan
apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.”

(Al-Taubah: 51). Ayat ini harus dipahami dalam perspektif firman-Nya yang lain, “Dan segala sesuatu
telah Kami catat dalam sebuah kitab.
” (Al-Naba’: 29).

Ini dimaksudkan bahwa segala sesuatu di dalam realitas adalah
gambaran mengenai syarat-syarat obyektif, yang bagiannya terkumpul dengan bagian yang lain (ka-ta-ba). Tidak mungkin bagi manusia manapun untuk ditimpa oleh sesuatu kecuali melalui kitab-kitab ini.

Misalnya jika manusia sakit sesungguhnya manusia tidak sakit kecuali dengan salah satu di antara penyakit yang ada di dalam alam ini dan yang mencakup syarat-syarat manusia hidup dengannya. Maksudnya orang sakit itu tidak terlepas dari kondisi alam, lingkungan, makanan, gaya hidup, atau wabah.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan
telah tertulis dalam kitab

(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (Al-Hadid: 22)

Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa setiap musibah yang terjadi di bumi seperti pada kesehatan, pertanian, kekuasaan (politik), kehancuran dan tegaknya negara-negara, gempa bumi, musibah yang terjadi pada jiwa, semuanya tidak akan terjadi kecuali di dalam al-kitab. Dalam
artian melalui syarat-syarat obyektif

sesuai hukum alam di dunia ini.

Misalnya, di dalam kondisi sakit, terdapat syarat-syarat obyektif yang menyebabkan sakit. Adapun kesembuhan, adalah kondisi di mana terdapat syarat-syarat obyektif yang menyebabkan orang sembuh telah terkumpul, sehingga menyebabkan menjadi sehat.

Setiap kali pengetahuan manusia mengenai “kitab kematian” bertambah, mereka bisa menunda kejadiannya dengan usaha-usaha dan doa manusia kepada Allah. Namun demikian mereka tetap tidak menghilangkannya samasekali, karena kematian pasti terjadi.

Editor: Nabhan

Kelahiran dan kematian seseorang telah ditentukan oleh allah sejak

Posted by: pskji.org