Menurut muhammad abduh umat islam yang memenuhi syarat diwajibkan untuk beijtihad dalam bidang… *

Menurut muhammad abduh umat islam yang memenuhi syarat diwajibkan untuk beijtihad dalam bidang… *

Pada masa Muhammad Abduh, hukum Islam hasil ijtihad mujtahid pembentuk madzhab dianggap final oleh umat Islam dan tidak perlu lagi diadakan penggalian (ijtihad) dari sumbernya (nash). Hal ini mengakibatkan hukum Islam yang pada mulanya dinamis dan sesuai dengan kondisi menjadi hukum yang statis, beku, dan tidak bisa lagi memenuhi tuntutan kemaslahatan umat. Hukum Islam semakin kehilangan elan vitalnya ketika berhadapan dengan hukum barat yang sekuler dan merasuk ke dunia Islam. Muhammad Abduh berupaya menghidupkan kemabali ijtihad yang pernah digalakkan generasi sebelumnya dan melepaskan belenggu taqlid buta yang menghinggapi umat Islam. Pada dasarnya metode ijtihad yang ditawarkan Muhammad Abduh tidak berbeda dengan metod ijtihad mujtahid sebelumnya dan tidak terikat pada madzhab tertentu. Dengan semangat ini, dia mengembangkan prinsip takhayyur (seleksi, pilihan), talfiq (kombinasi), dn maslahah (pertimbangan kepentingan umat).

Tidak ada salinan data

Tidak tersedia versi lain

Loading Preview

Sorry, preview is currently unavailable. You can download the paper by clicking the button above.

Red:

Ijtihad menurut bahasa berasal dari kata al-jahd yang bermakna kesulitan. Dari katanya, al-jahd menunjukkan sebuah pekerjaan yang sangat sulit dilakukan dan diperlukan kemampuan. Kemampuan sebagai makna ijtihad termaktub dalam kata juhdahum di ayat 79 surah at-Taubah.

Tidak heran jika secara istilah, ijtihad diartikan usaha ulama untuk mencurahkan seluruh kemampuan dalam mendapatkan sebuah dalil hukum dalam kasus baru. Pemimpin Pondok Putri Modern Gontor Ahmad Hidayatullah Zarkasyi berpendapat seorang mujtahid harus menunjukkan bermacam kemampuan, termasuk di dalamnya bahasa Arab. Tak semua orang bisa mengklaim diri sebagai mujtahid. Kecuali, jika yang dimaksud adalah ijtihad dalam lingkup sempit, misalnya dalam bidang kedokteran atau keuangan. Ketua Umum Ikadi Prof Dr Ahmad Satori Ismail mengurai beberapa kriteria mujtahid di antaranya fasih berbahasa Arab, hafal Alquran, menguasai kitab-kitab hadis dan kitab penunjang lain serta menguasai seluruh metodologi ijtihad. Selain syarat yang berat, seorang mujtahid harus mengumpulkan dalil masalah yang dibahas dari Alquran, hadis, dan kitab-kitab yang ada kemudian diteliti, didiskusikan, dan disimpulkan. “Sehingga hampir tidak mungkin ijtihad saat ini bersifat individual,” ujar dia. Mandeknya kemunculan mujtahid individu mulai terjadi setelah era kekhalifahan berakhir. Para ulama khalaf, papar Satori, lebih banyak membaca kitab fikih yang sudah ada dibanding melakukan ijtihad. Pada abad ke-15 H muncul nama-nama mujtahid seperti Rasyid Ridho dan Muhammad Abduh, namun tak ada selebihnya. Di Indonesia sendiri, kata Satori, sulit ditemukan mujtahid mutlak. “Saat ini kami lebih banyak melakukan ijtihad mahzabiyah,” ujarnya. Ijtihad mazhab menyandarkan pada dalil-dalil yang dikeluarkan empat imam mazhab. Jawaban atas masalah pun bergantung pada mazhab mana ulama tersebut mengikuti. Bidang-bidang yang menjadi kajian ijtihad adalah hal-hal yang baru dan tidak ada nashnya dalam Alquran dan hadis. Misalnya, ungkap Satori, daging babi meski saat ini sangat higienis tidak bisa dihukumi halal karena sudah jelas nashnya. Di Indonesia sendiri ijtihad yang berkembang banyak di bidang perbankan dan asuransi. Senada dengan Satori, menurut Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr Yunahar Ilyas, ulama Tanah Air lebih banyak menggunakan ijtihad jamai. “Hampir tidak ada orang yang memenuhi syarat untuk menjadi mujtahid mutlak saat ini,” ujar dia. Dalam ijtihad dibutuhkan lebih dari satu ulama. Ulama tersebut tidak hanya ahli dalam hukum Islam tapi  bidang lain. Misalnya dalil dalam bidang kedokteran, harus melibatkan ahli agama maupun ahli kedokteran. “Karena itu dilakukan secara kelompok seperti MUI, Majelis Tarjih dan Bahtsul Masail,” ungkap lulusan Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Su’ud ini. Di Muhammadiyah sendiri ada pengaderan ulama tarjih yang harus menempuh kuliah khusus selama empat tahun. Setelahnya mereka wajib mengembangkan keilmuan lain agar diakui untuk berijtihad. Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang Prof Dr Syibli Syarjaya mengatakan, ijtihad merupakan salah  satu sumber hukum untuk menangani kasus yang timbul dalam Islam dengan hukum Islam yang telah ada.  Dalam berijtihad perlu keterlibatan berbagai pihak. Saat ini ijtihad yang tepat dilakukan di Indonesia adalah Ijtihad jamai. Ijtihad sangat dibutuhkan  karena kasus dalam Alquran yang terbatas. Sedangkan hadis tidak akan bertambah lagi karena  Rasulullah telah wafat. Teks dalam Alquran dan hadis secara tersurat tidak dapat menjangkau masalah baru yang muncul. “Seperti  perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran misalnya,” ujarnya. Banyak metode yang digunakan dalam berijtihad di antaranya qiyas, istihsan, masolihun mursolah, dan adat kebiasaan (urf). Metode yang sering digunakan adalah dengan qiyas atau menganalogikan. Melakukan ijtihad dapat berasal dari permintaan umat maupun sekelompok ulama sendiri yang melakukan  inisiatif untuk mencari hukum satu masalah yang belum ada hukumnya.

Baca Juga :   Buatlah Kliping Yang Menunjukkan Konflik Dan Integrasi Dalam Kehidupan Sosial

Daya Ikat

Ijtihad adalah produk hukum ketiga setelah Alquran dan sunah. Syibli menjelaskan hukum ijtihad mengikat bagi yang melakukan, tetapi tidak mengikat bagi seluruh umat Islam. Kecuali jika ijtihad tersebut disepakati seluruh ulama dan menjadi undang-undang. “Maka, wajib hukumnya umat Muslim mematuhi.” Menurut Satori, konsekuensi dari ijtihad adalah perbedaan pendapat di kalangan ulama. “Misalnya  saja rokok, beberapa ulama mengharamkan dan sebagian lagi memakruhkan rokok,” ungkap Satori. Umat boleh memilih satu pendapat yang diyakini. Namun jika menjadi ijma’, haram hukumnya tidak ditaati.

Saat muncul hasil ijtihad umat tidak boleh mempertentangkan. “Untuk menolak hasil ijtihad harus  dilakukan ijtihad yang lain dengan hasil berbeda,” ujar Yunahar. Umat tidak boleh menolak keduanya namun harus mengikuti salah satu. “Jika menolak keduanya apalagi hawa nafsu berdosa.” n arys hilman ed: hafidz muftisany

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika …

Menurut muhammad abduh umat islam yang memenuhi syarat diwajibkan untuk beijtihad dalam bidang… *

Posted by: pskji.org