Bagaimanakah pengkajian seni rupa berdasarkan pada aspek visual

Bagaimanakah pengkajian seni rupa berdasarkan pada aspek visual

Pameran: Bentuk penyajian seni rupa agar dapt berkomunikasi dengan pengunjung

Panitia terdiri atas ketua, sekertaris, bendahara, dan seksi yang mengurus tentang lukisan, desain, display, penata cahaya, informasi, media, spanduk, acara, pembukaan/penutup dll

2. Proposal
Proposal adalah rencana kegiatan yang terperinci, terarah, yang dibuat dalam bentuk laporan tertulis mengenai suatu rankaian kegiatan yang akan dilaksanakan dalam waktu tertentu.

Dalam proposal biasanya memuat tentang latar belakang pembuatan, maksud dan tujuan, waktu pelaksanaan, tempat kegiatan, kegiatan dan rincian anggaran.

Hal – hal yang penting dalam proposal:

  1. pembentukan panitia
  2. penyusunan program
  3. pembuatan proposal
  4. pembagian kerja
  5. pengadministraisan
  6. pelaksanaan
  7. evaluasi
  8. pelaporan
  9. pengarsiapan
  10. logo, lambang dan simbol organisas
  • Karya atau tugas siswa
  • karya siswa diluar tugas
  • karya siswa yang memenangkan lomba

4. Kurasi Pamern
Kurasi pameran ditulis oleh kritik padegogens pameran (kuator) yang berisi tentang informasi pameran/koleksi, stan, katalog yang menarik yang dapat dijadikan topik bahasan diskusi dll

5, Aktivitas diskusi
Diskusi merupakan rangkaian kegiatan pameran yang tujuannya untuk pengembangan wawasan dan sikap apresiatif ajang evaluasi

Melatih kemampuan siswa bekerja sana, berorganisasi, berfikir logis, bekerja efisiensi dan efektif dalam pameran

Pengkajian seni rupa dengan pendekatan saintifik (mengamati, menanyakan, menalar dan menyajikan) dapat ditinjau melalui 4 aspek:

  1. Aspek visual (menguraikan keberadaan seni rupa dengan kata)
  2. Aspek proses kreasi (menguraikan tahapan teknis, penciptaan, skill atau keterampilan)
  3. Aspek konseptual (menentukan inspirasi atau gagasan)
  4. Aspek kreativitas (tingkat pencapaian kreativitas)

Kramik: berbagai macam benda yang dibuat dari bahan organik yang berasal dari bumi (tanah liat)

Prosesnya: pembakaran dengan suhu tinggi agar keras dan awet

  1. Gerabah lunak
  2. benda batu
  3. porselen
  1. Tema alam, benda, manusia dan lingkungan
  2. Warna, garis, bentuk dan komposisi
  3. Pengaruh lingkungan sosial (sebelum / sesudah perang)
  • Primitivisme: corak bersifat bersahaja, naif, sederhana, spontan, jujur, baik dari segi bentuk atau pewarnaan seniman bebas dari profesionalisme, tradisi dan latihan formal. Contoh: patung dewi kecantikan Yunani (meniru manusia yang indah dan sempurna)
  • Naturalisme: teknik pelukisannya berpedoman pada peniruan alam sehingga seniman terikat pada hukum proporsi, anatomi, perspektif dan teknik pewarnaan untuk mencapai kemiripan sesuai objek
  • Realisme: melukiskan keadaan secara nyata tanpa adanya suatu ilusi, fantasi da imajinasi
  • Dekorativisme: penyederhanaan bentuk, pola kegarisan, pewarna untuk penghias, peniru alam tapi tradisional

Perkembangan kemajuan yang dikuasai oleh iptek serta kesadaran akan nilai individu sebagai karakter aktifitas manusia

  1. Seni pop:
    realistis, simbolisme, kritik budaya, seni diarahkan pada komoditi teknologi dan pasar. Pop identik dengan gaya hidup generasi muda dengan karakter perlawanan pada norma masyarakat sebagai revolusi industri semi komersial
  2. seni optik : ilmu cahaya, warna, mengolah bentuk, untuk mengeksploitasi mata yang umum berbentuk abstrak, formal, konstruktif, rapi teliti, teratur. menimbulkan efek dan ilusi.
  3. seni konseptual : fikiran, gagasan atau ide yang mencakup semua bentuk seni dan non- seni
  4. seni rupa kontemporer : suatu seni yang mementingkan aktivitas seni sebagai mental senimannya dan seni ditujukan untuk kepntingan masyarakat
Baca Juga :   Saat dekat api badan kita akan terasa panas hal tersebut termasuk contoh perpindahan panas secara

istilah pas modern muncul pada seni musik, rupa, fiksi, film, foto, kritik sastra dan wilayah keilmuan sosiologi, antropologi, geografi dan filsafat.

  • Karya seni rupa era pas modern: kebudayaan konsumerisme dengan objek seni secara umum dikonotasi dan model rekayasa oleh produk nelalui teknologi.
  • Bahasa estetik pos modernisme: tanda estetik tidak stabil, mendua dan plural (polysemi), lebih menekankan pada permainan tanda. keterpesonaan pada permukaan dan diferensi

karya musik dapat didengarkan melalui pertunjukan langsung hasil rekaman / audio visual

pada acara lomba atau festival, peserta sering dikomentari oleh para juri, baik celaan atau pujian, penghayatan, pembawaan atas penampilan dimana penilaian tersebut didasarkan pada pengetahuan, pengalaman keterampilan serta perasaan musikal yang dimilik juri bukan karena perasaan senang atau tidak senang terhadap pribadi pesertanya.

kritik berasal dari bahasa Yunani “krunien” artinya memisahkan, merincikan, mengamati, menimbang dan membandingkan. di bahasa Inggris “critism” di bahasa Prancis “critique”.

  1. pengenalan karya musik dan memperluas wawasan masyarakat
  2. jembatan antara pencipta, penyaji dan pendengar
  3. evaluasai diri bagi pencipta dan penyaji seni musik
  4. pengembangan mutu karya musik

Tujuan kritik musik: evaluasi, apresiasi, pengembangan kreatif dan inovatif

  1. kritik jurnalistik : aspek pemberitaan yang tujuannya memberikan informasi tentang peristiwa musik baik pertunjukan atau rekaman
  2. kritik padegogen : ditetapkan oleh pengajar kesenian dalam pendidikan tujuannya mengembangkan bakat dan potensu peserta didik
  3. kritik alamiah: dikembangkan dikalangan akademi dengan metodologi ilmiah, luas, mendalam dan sistematis dapat di pertanggung-jawabkan secara estetis atau akademis
  4. kritik populer: kritik yang terus – menerus baik langsung maupun tidak langsung oleh penulis yang tidak menuntut keahlian kritis (analisi atau evaluasi) kesadaran atas gaya atau jenis musik yang mereka tekuni
  5. kritik formalitas: kehidupan seni memiliki kehidupan sendiri lepas dari kehidupan yang nyata sehari – hari, yang menghindari estetis yang tidak relawan (sosial – sejarah)
  6. Kritik instrumentalistik: seni sebagai saran atau isntrumen untuk mengembangkan tjuan tertentu (politik, moral)
  7. Ekspresi fisik: karya seni sebagai rekaman perasaan yang diekspresikan


Akan diupdate apabila ada materi baru

Penciptaan seni rupa murni merupakan kegiatan berkarya seni lukis, seni patung, seni grafis, seni serat, dan lain-lain, untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman kehidupan menjadi perwujudan visual dilandasi kepekaan artistik. Kepekaan artistik mengandung arti, memerlukan kemampuan mengelola atau mengorganisir elemen-elemen visual untuk mewujudkan gagasan menjadi karya nyata. Terdapat dua konsep dalam penciptaan karya seni rupa murni yakni aspek konseptual dan aspek visual.


a. Aspek Konseptual

Beberapa hal dalam aspek konseptual adalah sebagai berikut:

Baca Juga :   Diketahui koordinat. p 2 min 13 dan q3 min 35 vektor satuan yang searah dengan vektor pq adalah


1) Penemuan Sumber Inspirasi

Titik tolak penciptaan karya seni rupa murni adalah penemuan gagasan. Kita harus memiliki gagasan yang jelas dalam mengekspresikan pengalaman artistik. Sumbernya; (1) berasal dari realitas internal, perambahan kehidupan spiritual (psikologis) kita sendiri. Misalnya harapan, cita-cita, emosi, nalar, intuisi, gairah, kepribadian dan pengalaman-pengalaman kejiwaan lain yang kadangkala belum teridentifikasi dengan bahasa. Dengan kata lain, gagasan seni timbul dari kebutuhan kita sebagai manusia untuk berekspresi. (2) berasal dari realitas eksternal, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan (tema religius), hubungan pribadi kita dengan sesama (tema sosial: keadilan, kemiskinan, nasionalisme), hubungan pribadi kita dengan alam (tema: lingkungan, keindahan alam) dan lain sebagainya.


2) Penetapan Interes Seni

Dalam aktivitas penciptaan kita harus dapat menentukan interes seni kita sendiri, sehingga dapat berkreasi secara optimal. Pada dasarnya terdapat tiga interes seni: (1) interes pragmatis, menempatkan seni sebagai instrument pencapaian tujuan tertentu. Misalnya tujuan nasional, moral, politik, dakwah, dan lain-lain. (2) interes reflektif, menempatkan seni sebagai pencerminan realitas actual (fakta dan kenyataan kehidupan) dan realitas khayali (realitas yang kita bayangkan sebagai sesuatu yang ideal). dan (3) interes estetis, berupaya melepaskan seni dari nilai-nilai pragmatis dan instrumentalis. Jadi interes estetis mengeksplorasi nilai-nilai estetik secara mandiri (seni untuk seni). Dengan menetapkan interes seni, kita akan lebih memahami tujuan kita menciptakan karya.


3) Penetapan Interes Bentuk

Untuk mengekspresikan penghayatan nilai-nilai internal atau eksternal dengan tuntas, kita perlu

mempertimbangkan kecenderungan umum minat dan selera seni kita sendiri. Misalnya kita dapat mencermati karya-karya yang telah kita buat selama studi. Kecenderungan yang dapat kita pilih adalah (1) bentuk figuratif, yakni karya seni rupa yang menggambarkan figur yang kita kenal sebagai objek-objek alami, manusia, hewan, tumbuhan, gunung, laut dan lain-lain yang digambarkan dengan cara meniru rupa dan warna bendabenda tersebut. (2) bentuk semi figuratif, yakni karya seni rupa yang “setengah figuratif”, masih menggambarkan figur atau kenyataan alamiah, tetapi bentuk dan warnanya telah mengalami distorsi, deformasi, stilasi, oleh perupa. Jadi bentuk tidak meniru rupa sesungguhnya, tetapi dirubah untuk kepentingan pemaknaan, misalnya, bentuk tubuh manusia diperpanjang, atau patung dewa yang bertangan banyak, bentuk gunung atau arsitektur yang disederhanakan atau digayakan untuk mencapai efek estetis dan artistik. (3) bentuk nonfiguratif, adalah karyakarya seni rupa yang sama sekali tidak menggambarkan bentuk-bentuk alamiah, jadi tanpa figur atau tanpa objek (karenanya disebut pula seni rupa non objektif). Karyakarya seni rupa non figuratif, jadinya merupakan susunan unsur-unsur visual yang ditata sedemikian rupa untuk menghasilkan satu karya yang indah. Istilah lain menyebut karya seni rupa non figuratif adalah karya seni abstrak. Pada umumya karya abstrak yang berhasil adalah karya yang memiliki “bentuk bermakna”. Artinya sebuah karya seni yang memiliki kapasitas membangkitkan pengalaman estetis bagi orang yang mengamatinya. Dengan kata lain karya seni yang dapat membangkitkan perasaan yang menyenangkan, yaitu rasa keindahan.

Baca Juga :   Beberapa hal yang tidak perlu dilakukan untuk memulai usaha budi daya tanaman pangan adalah


4) Penetapan Prinsip estetik

Pada umumnya karya seni rupa murni menganut prinsip estetika tertentu. Kita harus dapat mengidentifikasi cita rasa keindahan yang melekat pada karya-karya yang pernah kita ciptakan. Pada tahap ini, kita perlu menetapkan prinsip estetika yang paling sesuai untuk mengungkapkan pengalaman kita. Alternatif prinsip estetika yang dapat dipilih ialah: (1) pramodern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas merepresentasi bentuk-bentuk alam, atau aktivitas pelestarian kaidah estetik tradisional (2) modern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas kreatif, yang mengutamakan aspek penemuan, orisinalitas, dan gaya pribadi atau personality. (3) posmodern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas permaianan tanda yang hiperriil dan ironik, sifatnya eklektik (meminjam dan memadu gaya seni lama) dan menyajikannya sebagai pencerminan budaya konsumerisme masa kini.


b. Aspek Visual

Beberapa hal dalam aspek visual adalah sebagai berikut:


1) Struktur Visual

Untuk mewujudkan aspek konseptual menjadi karya visual, perlu ditegaskan lebih spesifik dalam subject matter, masalah pokok atau tema seni yang akan diciptakan. Misalnya tema sosial: kemiskinan, dengan pilihan objek “pengemis”. Tema perjuangan: dengan pilihan objek “Pangeran Diponegoro”, tema religius: lukisan kaligrafi dengan objek “ayat tertentu”, dan lain sebagainya. Objek-objek tersebut dapat divisualisasikan dengan berbagai cara, pilihlah unsurunsur rupa (garis, warna, tekstur, bidang, volume, ruang), sesuai dengan kebutuhan interes seni, interes bentuk dan prinsip estetika yang telah ditetapkan dalam aspek konseptual.


2) Komposisi

Hasil seleksi unsur-unsur rupa dikelola, ditata, dengan prinsip-prinsip tertentu, baik terhadap setiap unsur secara tersendiri maupun dalam hubungannya dengan bentuk atau warna. Dengan memperhatikan empat prinsip pokok komposisi, yaitu: proporsi, keseimbangan, irama, dan kesatuan untuk memperlihatkan karakteristik keunikan pribadi kita.


3) Gaya pribadi

Dalam penciptaan karya seni, karakteristik atau cirri khas seorang perupa merupakan faktor bawaan, yang menandai sifat unik karya yang diciptakannya. Misalnya Raden Saleh, Basoeki Abdullah dan S. Soedjojono, meskipun sama-sama melukis dengan gaya realisme, karyanya akan sangat berlainan karena unsur gaya pribadi. Karya Raden Saleh menghadirkan suasana dramatis aristokratis, karya Basoeki Abdullah memperlihatkan idealisasi keindahan yang permai, sedangkan karya S. Soedjojono menghadirkan suasana heroisme dan nasionalisme. Dalam aktivitas pembelajaran seni rupa, gaya pribadi akan lebih mudah terlihat apabila kebebasan berkreasi diberikan, sehingga karya-karya siswa dengan sendirinya memperlihatkan keberagaman gaya seni sesuai kepribadiannya masing-masing.

Thanks for reading
Penciptaan Seni Rupa Murni: Aspek Konseptual dan Aspek Visual

Bagaimanakah pengkajian seni rupa berdasarkan pada aspek visual

Posted by: pskji.org