Mengapa Indonesia termasuk kategori negara dengan pendapatan rendah

Mengapa Indonesia termasuk kategori negara dengan pendapatan rendah

Bank Dunia kembali memasukkan Indonesia pada kelompok negara berpendapatan menengah bawah. Resesi ekonomi membuat pendapatan nasional bruto atau gross national income (GNI) per kapita Indonesia turun dari US$ 4.050 pada 2019 menjadi US$ 3.870.

Pengelompokkan kategori pendapatan negara tersebut dihitung berdasarkan GNI per kapita masing-masing negara dengan metode Atlas Bank Dunia. Indonesia sejak tahun lalu masuk dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas setelah bertahun-tahun sebelumnya berada pada kelompok negara berpendapatan menengah bawah.

Berdasarkan klasifikasi terbaru Bank Dunia yang dirilis awal bulan ini, negara yang masuk dalam kelompok pendapatan rendah memiliki GNI per kapita di bawah US$ 1.046. Negara berpendapatan menengah ke bawah memiliki GNI per kapita antara US$ 1.046 dan US$ 4.095. Lalu ekonomi berpendapatan menengah atas memiliki GNI per kapita antara US$ 4.096 dan US$ 12.695. Sedangkan negara dengan ekonomi berpenghasilan tinggi memiliki GNI per kapita sebesar US$ 12.695 atau lebih.

Klasifikasi ini berubah dibandingkan tahun lalu saat Bank Dunia menempatkan Indonesia ke dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas. Saat itu, negara yang masuk dalam kelompok pendapatan rendah memiliki GNI per kapita di bawah US$ 1.035. Negara berpendapatan menengah ke bawah memiliki GNI per kapita antara US$ 1.035 dan US$ 4.045. Lalu ekonomi berpendapatan menengah atas memiliki GNI per kapita antara US$ 4.046 dan US$ 12.535. Sedangkan negara dengan ekonomi berpenghasilan tinggi memiliki GNI per kapita sebesar US$ 12.535 atau lebih.

Baca Juga

Bank Dunia menjelaskan, faktor-faktor seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan penduduk mempengaruhi GNI per kapita. Revisi metode dan data akun nasional juga dapat memiliki pengaruh dalam kasus tertentu.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang turun kelas dari kelompok negara pendapatan menengah atas ke negara menengah bawah. Kondisi serupa juga dialami Iran yang mengalami penurunan GNI per kapita dari US$ 5.240 menjadi US$ 2.870, Belize dari US$ 4.450 menjadi US% 3.970, dan Samoa dari US$ 4.180 menjadi US$ 4.070.

Advertising

Advertising

Selain itu, terdapat tiga negara yang turun kelas dari kelompok negara maju atau berpendapatan tinggi menjadi negara berpendapatan menengah atas. Hal tersebut dialami Mauritus yang mencatatkan penurunan GNI per kapita dari US$ 12.740 menjadi US$ 10.230, Panama dari US$ 14.950 menjadi US$ 11.880, dan Romania dari US$ 12.30 menjadi US$ 12.570.

Namun demikian, masih terdapat tiga negara yang justru naik kelas di tengah pandemi Covid-19. Haiti dan Tajikistan naik kelas dari negara berpendapatan bawah menjadi negara berpendapatan menengah bawah. Ssedangkan Moldova naik kelas dari negara berpendapatan menengah bawah menjadi negara berpendapatan menengah atas.

Baca Juga :   Kapan indonesia menjadi tuan rumah asian games di tahun 2018

Baca Juga

Hampir seluruh negara mengalami resesi ekonomi akibat Pandemi Covid-19. Ekonomi Indonesia pada tahun lalu tercatat minus 2,07%,  kontraksi pertama sejak krisis moneter 1998.  Meski demikian, pemerintah masih berharap Indonesia dapat menjadi negara maju pada 2045 dengan PDB per kapita sebesar US$ 23,2 ribu atau Rp 324,9 juta.

Dengan target ini, PDB nasional bisa mencapai US$ 7,4 triliun, menempati peringkat lima terbesar di dunia. Adapun pada 2020, PDB per kapita Indonesia ditargetkan mencapai US$ 4.546 per kapita, seperti terlihat dalam databoks di bawah ini.



Indonesiabaik.id   –   Amerika Serikat (AS) mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Pencoretan disampaikan lewat Kantor Perwakilan Perdagangan atau USTR. Hal ini dikarenakan Indonesia memenuhi dua indikator, yaitu pangsa pasar mencapai 1% ke dunia dan menjadi anggota dalam kelompok Group Twenty (G-20).



Apa Perbedaan Negara Berkembang dan Negara Maju?



WTO sebenarnya tidak memiliki definisi khusus mengenai negara berkembang maupun negara maju. Masing-masing negara bisa menentukan sendiri apakah masuk negara maju dan berkembang. Kemudian, negara lain bisa menilai keputusan pemerintah negara lain dalam menentukan kelompok negaranya.


Negara berkembang dapat diartikan sebagai negara yang memiliki kegiatan ekonomi dan industri rendah. Tak hanya itu, mayoritas penduduknya juga memiliki penghasilan rendah. Sementara itu, Bank Dunia (World Bank) membuat empat kelompok negara yang disesuaikan dengan pendapatan per kapitanya. Pertama, negara dengan pendapatan per kapita sebesar US$975 per tahun masuk sebagai negara berpendapatan rendah.

Kedua, negara yang memiliki pendapatan per kapita antara US$976 per tahun dan US$3.855 per tahun masuk sebagai negara pendapatan menengah bawah. Ketiga, negara yang masuk sebagai negara pendapatan menengah atas memiliki pendapatan per kapita US$3.856 per tahun dan US$11.905 per tahun.

Keempat, negara dengan pendapatan per kapita sebesar US$11.906 per tahun atau lebih masuk sebagai negara pendapatan tinggi. Bank Dunia menyebut negara yang masuk dalam daftar pendapatan rendah dan menengah disebut sebagai negara berkembang.


Sementara, negara dengan pendapatan tinggi masuk sebagai negara maju. Ini artinya, negara yang memiliki pendapatan minimal US$11.906 per tahun atau lebih bisa disebut sebagai negara maju. Selain itu, negara maju biasanya memiliki standar hidup yang lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi di negara maju juga lebih merata dibandingkan dengan negara berkembang.

Semarang, Jawa Tengah (17/9). Bank Dunia dalam laporannya menyatakan Indonesia kembali turun kelas menjadi Negara Berpenghasilan Menengah ke Bawah (lower middle income country). Setelah sebelumnya Indonesia pada tahun 2019 berhasil naik status menjadi Negara Berpenghasilan Menengah ke Atas (upper middle income country).

Bank Dunia dalam laporannya yang diperbaharui setiap bulan Juli mengungkapkan bahwa penurunan status Indonesia terjadi karena menurunnya Pendapatan Nasional Bruto per kapita pada tahun 2020. Pada tahun 2019, Pendapatan Nasional Bruto per kapita Indonesia sebesar US$4.050, turun menjadi US$3.870 pada tahun 2020. Fakta ini tentunya menjadi tantangan yang besar bagi Indonesia.

Baca Juga :   Hukum berwudhu sebelum tidur adalah brainly

Untuk merespon fakta tersebut, Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Jendral Soedirman (UNSOED), menggelar Webinar melalui platform Zoom meeting pada Rabu (15/09) pukul 09.00 WIB.

Webinar yang mengambil tema “Pekerjaan Kelas Menengah: Fakta dan Potensi Bagi Ekonomi Indonesia” ini dihadiri oleh Dekan FEB Undip Prof. Dr. Suharnomo, M.Si. Turut mengundang narasumber dari Bank Dunia Maria Monica Wihardja, Ph.D., dan Guru Besar FEB Undip Prof. Dr. FX. Sugiyanto, M.S.

Dalam sambutannya, Dekan FEB Undip Prof. Dr. Suharnomo, M.Si., menjelaskan penurunan Pendapatan Nasional Bruto per kapita Indonesia terjadi sebagai dampak dari pandemi Covid-19. “Penurunan ini disebabkan oleh dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan ekonomi Indonesia terkontraksi -2,07% pada tahun 2020. Bappenas sendiri sebelum pandemi memproyeksikan pendapatan per kapita Indonesia bisa mencapai US$4.500 pada tahun 2020”, jelas Prof Suharnomo.

Dekan FEB Undip Prof. Dr. Suharnomo, M.Si.

Prof Suharnomo menambahkan terdapat banyak faktor yang menentukan level pendapatan per kapita sebuah negara, salah satunya adalah keberadaan dan kualitas pekerjaan kelas menengah. Keberadaan pekerjaan kelas menegah di Indonesia jika dikaitkan dengan struktur ketenagakerjaan yang ada saat ini masih belum kompetitif dan belum sepenuhnya siap mendukung akselerasi sektor ekonomi.

Sebagai gambaran data ketenagakerjaan di Indonesia pada bulan Februari 2021 yang dirilis oleh BPS menunjukkan bahwa komposisi penduduk bekerja berdasarkan pendidikan masih didominasi oleh lulusan SD ke bawah (37,41%), kemudian berturut-turut diikuti oleh lulusan SMP (18,54%), lulusan SMA (18,18%), lulusan SMK (12,33%), lulusan Universitas (10,18%) dan lulusan Diploma I/II/III (2,74%). Sedangkan dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan jenjang pendidikan yang ditamatkan masih didominasi oleh lulusan SMK sebesar 11,45%.

Selanjutnya Maria Monica Wihardja, Ph.D., menjelaskan kondisi pertumbuhan pekerjaan di Indonesia masuk dalam kategori produktivitas rendah. Pertumbuhan produktivitas ini masih belum cukup untuk menaikan status dari 47% masyarakat Indonesia yang saat ini masih berada di status ‘calon kelas menengah’. Perlu beberapa langkah yang terintegrasi agar tercipta pekerjaan yang dapat membawa masyarakat Indonesia masuk ke status kelas menengah.

Perwakilan The World Bank, Maria Monica Wihardja, Ph.D.

“Kami disini memperkenalkan tiga langkah terintegrasi untuk mencapai pekerjaan kelas menengah yaitu pertama akselerasi pertumbuhan produktivitas secara menyeluruh, yang kedua transisi pekerja ke sektor dan perusahaan yang menciptakan pekerjaan berkualitas, dan yang ketiga membangun tenaga kerja kelas menengah”, ucap Monica yang menjadi salah satu penulis Laporan Bank Dunia yang berjudul: Langkah Menuju Pekerjaan Kelas Menengah di Indonesia.

Baca Juga :   Akibat tidak mematuhi aturan makan di rumah

Sementara Guru Besar FEB Undip Prof. Dr. FX. Sugiyanto, M.S., menambahkan selain isu produktivitas, isu lain yang tak kalah pentingnya ialah penyediaan lapangan kerja. “Dua isu utama ini terkait dengan ‘peta jalan’ menuju pekerjaan kelas menengah di Indonesia. Pertama adalah lapangan kerja yang merupakan kunci untuk menuju status sebagai kelas menengah dan menurunkan kemiskinan”, ucap Prof Sugiyanto. “Kedua adalah kualitas lapangan kerja dan bukan kuantitasnya. Ini merupakan tantangan utama”, tambahnya.

Guru Besar FEB Undip Prof. Dr. FX. Sugiyanto, M.S.

Berdasarkan riset yang dilakukan Bank Dunia yang berjudul Pathways to Middle Class Jobs in Indonesia, Prof Sugiyanto mengungkapkan penyediaan lapangan kerja menjadi jalan paling tepat untuk menurunkan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi yang lebih berkualitas.

Dari fakta-fakta tersebut, Prof Sugiyanto menambahkan model pertumbuhan yang layak dan memadai untuk mencapai pekerjaan kelas menengah adalah pertumbuhan yang didorong oleh meningkatnya produktivitas dan penciptaan pekerjaan yang terkait dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan pertumbuhan nilai tambah. Model ini akan berbasis pada pengembangan pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill).

Namun implementasinya akan menemui tantangan yang tidak mudah. Pengimplimentasian model ini harus memastikan mampu mengatasi lambatnya proses konvergensi ekonomi. Proses ini terjadi tidak merata dan lambat. Implementasinya berbasis luas dan menyebar, baik sektoral maupun spasial.

Senada dengan Maria Monica Wihardja, Prof Sugiyanto mengungkapkan isu utama terkait tenaga kerja adalah produktivitas yang rendah. Kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan produktivitas pada seluruh sektor dinilai tepat dan benar. Namun perlu dilakukan perbaikan dalam aspek kelembagaan dan politik.

Lima Rekomendasi Kebijakan Srategis

Untuk mendorong akselerasi penciptaan Pekerjaan Kelas Menengah di Indonesia, webinar merekomendasikan perlunya langkah, kebijakan strategis dan strategi reformasi.

Pertama, perubahan mind-set seluruh entitas terkait paradigma pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi ke depan harus bertumpu pada produktivitas.

Kedua, agar produktivitas meningkat secara merata dan menyebar, kerangka kebijakan pertumbuhan ekonomi  harus berdasar pada perspektif sektoral dan spasial, sehingga mendorong konvergensi.

Ketiga, dari sisi penawaran, upaya mendorong produktivitas jangan terjebak pada sekat-sekat ukuran skala usaha berdasarkan definisi regulasi, terutama UMKM, yang prateknya justru lebih memberikan benefit pada skala menengah.

Keempat, reformasi kelembagaan secara menyuluruh untuk meningkatkan efisiensi ekonomi nasional.

Kelima, transisi ke sektor dan perusahaan yang menciptakan pekerjaan berkualitas. Keenam, memfasilitasi proses pembelajaran terutama bagi kelompok yang berisiko gagal sekolah, memberikan keterampilan, pemanfaatan teknologi informasi, dan akses bagi pekerja perempuan.

Mengapa Indonesia termasuk kategori negara dengan pendapatan rendah

Posted by: pskji.org