10 pertanyaan tentang pembelajaran tatap muka

10 pertanyaan tentang pembelajaran tatap muka

Petugas menyemprotkan disinfektan di ruang kelas SD Kenari 08 Pagi, Jakarta, Jumat, 18 Juni 2021. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk menghentikan sementara proses uji coba sekolah tatap muka karena lonjakan kasus COVID-19 dalam sepekan terakhir pascalibur lebaran. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

TEMPO.CO, Jakarta
– Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan 10 pandangan mengenai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang akan dilaksanakan pada akhir Agustus 2021.

“Pertama, pembelajaran tatap muka dapat dimulai secara bertahap, namun harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan,” kata Ketua Umum IDAI Aman B Pulungan dalam dokumen di situs IDAI yang diakses, pada Ahad, 29 Agustus 2021.

Kedua, syarat agar anak boleh mengikuti sekolah tatap muka untuk anak usia 12-17 tahun harus sudah divaksinasi. Guru dan perangkat sekolah lainnya juga harus sudah divaksinasi.

Ketiga, IDAI meminta keputusan pembukaan sekolah ditetapkan tiap daerah masing-masing dengan merujuk pada kasus aktif (angka positivitas Covid-19 di bawah 8 persen), angka kematian, cakupan imunisasi Covid-19 pada anak lebih dari 80 persen, ketersediaan tes PCR, ketersediaan tempat tidur RS baik layanan rawat inap maupun rawat intensif anak, dan penilaian kemampuan murid, sekolah, dan keluarga untuk mencegah penularan.

Keempat, keputusan pembukaan sekolah dibuat secara berkala melalui evaluasi mingguan. Aman mengatakan, sekolah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan dinas pendidikan memutuskan membuka atau menutup sekolah dengan memperhatikan kasus harian.

Sebagai contoh, jika ada satu kasus di sekolah, maka sekolah dengan bantuan dinas kesehatan harus segera melakukan tracing. Kemudian kelas atau sekolah yang terpapar ditutup sementara, memberitahu pihak-pihak terkait, dan melakukan mitigasi kasus.

Pertimbangan untuk menghentikan kegiatan tatap muka dan mengganti dengan kegiatan yang sesuai, berdasarkan hasil keputusan oleh berbagai pihak termasuk orang tua, guru, sekolah, pemerintah daerah, dinas kesehatan dan dinas pendidikan. Kelas atau sekolah dapat dibuka kembali jika sudah dinyatakan aman.

Pandangan kelima, orang tua diberikan kebebasan mengambil keputusan masuk sekolah untuk setiap anaknya.

Keenam, sekolah memfasilitasi penyelenggaraan pembelajaran tatap muka maupun daring kepada semua anak sesuai pilihan orang tua.

Baca Juga :   Gen yang mengatur sifat telinga 1 dan 2 secara berturut-turut adalah

Ketujuh, orang tua dalam mengambil keputusan anak masuk sekolah dapat mempertimbangkan anak usia lebih dari 12 tahun sudah mendapatkan vaksin Covid-19, anak tidak ada komorbiditas (termasuk obesitas), jika terdapat komorbiditas harap mengkonsultasikan kepada dokter. Anak sudah dapat memahami protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengetahui apa yang boleh dilakukan untuk mencegah transmisi Covid-19, dan hal yang tidak boleh dilakukan karena berisiko tertular atau menularkan.

Kemudian guru dan petugas di sekolah telah mendapatkan vaksinasi Covid-19, serta anggota keluarga di rumah sudah mendaaptkan vaksinasi Covid-19.

Pandangan kedelapan, sekolah melakukan persiapan pembukaan sekolah seperti mempertimbangkan kapasitas kelas, sirkulasi udara, durasi belajar, ketersediaan fasilitas (alat cek suhu, ruang untuk memisahkan kasus suspek), kelengkapan vaksinasi Covid-19 pada guru dan petugas sekolah. Kemudian mempertimbangkan untuk mendahulukan bersekolah tatap muka pada murid yang telah mendapat vaksinasi Covid-19, dan kepatuhan mengikuti protokol kesehatan di lingkungan sekolah.

Kesembilan, diperlukan kejujuran bagi guru, perangkat sekolah, orang tua siswa mengenai kondisi kesehatan masing-masing dan tidak menutupi apabila terinfeksi Covid-19.

Panduan kesepuluh, pemerintah setempat maupun sekolah harus transparan untuk menampilkan data khusus kasus Covid-19 pada anak. “Data ini hendaknya difasilitasi melalui dashboard di data nasional Covid-19 masing-masing daerah dan tingkat terkecil di sekolah,” ujar Aman.

Penulis :

Gempita Surya

KOMPAS.TV – Seluruh sekolah di Indonesia diharapkan dapat segera menggelar pembelajaran tatap muka di tahun ajaran baru mendatang.

Banyak pertanyaan muncul dari para orang tua siswa tentang sekolah tatap muka di tengah pandemi Covid-19.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merilis buku Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran PAUDDIKDASMEN di Masa Pandemi.

Berdasarkan buku panduan tersebut, Kompas.TV merangkum beberapa poin penting seputar pelaksanaan pembelajaran tatap muka dalam tanya jawab bagian 1 berikut ini.

1. Kapan sekolah tatap muka dimulai?

Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan pembelajaran tatap muka akan digelar pada Juli 2021.

2. Apa syarat yang harus dipenuhi oleh sekolah?

Baca Juga :   Sebutkan langkah-langkah cara membuat patung dari bubur kertas

Opsi sekolah tatap muka wajib diberikan untuk sekolah yang pendidik dan tenaga kependidikannya telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 secara lengkap.

3. Jenjang pendidikan apa saja yang harus melaksanakan sekolah tatap muka?

Satuan pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar (SD-sederajat), pendidikan menengah (SMP/SMA-sederajat), serta pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi) wajib memberikan opsi pembelajaran tatap muka.

4. Bagaimana ketentuannya?

Pembelajaran dilaksanakan dengan kombinasi pembelajaran tatap muka terbatas dan pembelajaran jarak jauh.

Kemudian juga adanya pengawasan terhadap pelaksanaan pembelajaran oleh Pemerintah Daerah dan/atau Dinas Pendidikan/Kanwil.

Pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas diberhentikan selama paling singkat 3×24 jam jika ada konfirmasi kasus positif Covid-19 di satuan pendidikan yang bersangkutan.

Selain itu, PTM terbatas juga dapat diberhentikan sementara apabila ada kebijakan dari pemerintah daerah terkait pengendalian Covid-19.(*)

Grafis: Joshua Victor

ilustrasi sebuah SMA di Jawa Timur menggelar uji coba pengajaran tatap muka di masa pandemi covid 19

Liputan6.com, Jakarta –
Epidemiolog yang juga Pimpinan Teknis COVID-19 WHO, Maria Van Kerkhove mengatakan pembukaan pembelajaran tatap muka tidak bisa menunggu hingga kasus COVID-19 nol. Saat sekolah kembali mengadakan pembelajaran tatap muka harus ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tetap aman dari penularan COVID-19.

“Saat ini sudah banyak negara yang sudah membuka sekolah, bahkan memprioritaskan pembukaan sekolah. Jadi, jika Anda dapat mengontrol penularan di komunitas tersebut, ini akan memudahkan Anda dalam memastikan bahwa orang yang bekerja dan bersekolah di sekolah tersebut aman,” kata Maria pada Live Twitter WHO, Selasa (7/9/2021).

Sekolah harus paham tentang pelaksanaan protokol kesehatan di masa pandemi. Mulai dari menjaga jarak, pemakaian masker, serta memastikan adanya disinfeksi dan ventilasi yang baik di sekolah tersebut.

Orangtua dan anak-anak juga memiliki peran penting dalam hal ini, seperti menjaga jarak dan meminimalkan jumlah interaksi yang tidak diperlukan, demi menjaga sekolah agar tetap dapat menjalankan kegiatan pembelajaran tatap muka.

“Ini adalah upaya untuk memastikan mereka yang beraktivitas di sekolah tersebut aman. Kita harus memprioritaskan keselamatan,” kata Maria.

Baca Juga :   Sebuah kerucut memiliki panjang diameter alas 28 cm dan tinggi 42 cm volume kerucut tersebut adalah

Maria mengatakan sebelum sekolah dibukan untuk tatap muka pastikan bahwa orang yang bekerja dan bersekolah di sekolah tersebut aman dari virus Corona. Salah satunya juga dengan vaksinasi COVID-19.

Pembukaan kembali sekolah juga harus memperhatikan ketersediaan fasilitas yang mendukung aktivitas pembelajaran tatap muka di tengah pandemi COVID-19 ini, selain disinfektan. Seperti, ventilasi yang memadai dan tingkatkan pasokan aliran udara total ke ruang yang ditempati.

Ventilasi alami yang bersih (yaitu, membuka jendela) harus digunakan di dalam gedung jika memungkinkan, tanpa sirkulasi ulang udara. Jika sistem pendingin udara digunakan, sistem tersebut harus diperiksa, dirawat, dan dibersihkan secara teratur. Standar yang ketat untuk pemasangan, pemeliharaan, dan penyaringan sangat penting untuk memastikannya efektif dan aman.

Pertimbangkan untuk menjalankan sistem dengan aliran udara luar maksimum selama dua jam sebelum dan sesudah waktu bangunan ditempati, sesuai dengan rekomendasi pabrikan.

Sejumlah sekolah di Jakarta hari Senin (30/8) mulai terapkan pembelajaran tatap muka atau PTM. Sebagian orangtua mengaku gembira saat mengantar anaknya ke sekolah.

Pada Juli 2021, Henrietta Fore, Direktur Eksekutif UNICEF juga menjelaskan, bahwa membuka kembali sekolah untuk pembelajaran langsung tidak bisa menunggu.

Hal ini dikarenakan penutupan sekolah memberikan kerugian besar tidak hanya pada orang tua, tapi juga anak-anak.

“Kerugian yang akan dialami anak-anak dan remaja karena tidak bersekolah mungkin tidak akan pernah bisa dikembalikan,” kata Fore.

“Mulai dari kehilangan waktu belajar, tekanan mental, paparan kekerasan dan pelecehan, hingga berkurangnya pengembangan keterampilan sosial, konsekuensinya bagi anak-anak akan dirasakan dalam pencapaian akademik dan keterlibatan sosial mereka serta kesehatan fisik dan mental.”

Fore juga mengatakan bahwa risiko penularan COVID-19 di sekolah dapat dikelola dengan strategi mitigasi yang tepat di sebagian besar situasi. Keputusan untuk membuka atau menutup sekolah harus didasarkan pada analisis risiko dan pertimbangan epidemiologis di masyarakat tempat mereka berada.

Reporter: Lianna Leticia

Infografis: Protokol Kesehatan Sekolah Tatap Muka (Liputan6.com / Abdillah)

10 pertanyaan tentang pembelajaran tatap muka

Posted by: pskji.org