Nabi saleh as mengajarkan kaum tsamud untuk menyembah

Nabi saleh as mengajarkan kaum tsamud untuk menyembah

Selasa, 28 Apr 2020 17:00 WIB

Jakarta, CNN Indonesia


Nabi Saleh AS

adalah nabi dan rasul kelima yang patut diimani. Nabi Saleh berdakwah di Al-Hijr yang saat ini dikenal sebagai Madain Shalih, yakni Kota-kota Nabi Saleh AS, antara Arab Saudi dan Suriah. Beberapa rumah dan batu-batu diyakini sebagai peninggalan Nabi Saleh. UNESCO menetapkan peninggalan itu sebagai

warisan dunia.
Allah SWT mengutus Nabi Saleh untuk membawa kaum Tsamud kembali ke jalan yang benar. Sebelum diangkat menjadi rasul, Saleh adalah panutan di suku Tsamud.Kaum Tsamud terkenal memiliki ilmu batu dan bangunan yang andal. Namun, di sisi lain mereka menyembah berhala. Hal ini sesuai dengan Surat Al-A’raf ayat 73.

“Dan [Kami telah mengutus] kepada kaum Tsamud saudara mereka Saleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, [yang karenanya] kamu akan ditimpa siksaan yang pedih,” terjemahan surat Al-A’raf ayat 73.Unta betina yang dijelaskan dalam ayat tersebut merupakan mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Saleh, sebagai tanda kebesaran-Nya.Saat menyeru ajaran Allah, Saleh meminta kaum Tsamud untuk meninggalkan berhala dan menyembah Allah SWT. Saleh mengajak kaum Tsamud untuk bertobat.”Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami,” kata kaum Tsamud kepada Nabi Saleh, seperti dalam surat Hud ayat 62.Alih-alih mendengar Nabi Saleh, kaum Tsamud justru menentangnya. Kaum Tsamud meminta Nabi Saleh untuk mendatangkan mukjizat.”Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar,” kata kaum Tsamud kepada Nabi Saleh seperti dalam surat Asy-Syu’ara’ ayat 154.Kaum Tsamud meminta Saleh menciptakan unta betina yang hamil 10 bulan di sebuah bukit berbatu. Nabi Saleh menyanggupi tantangan tersebut dan berdoa agar Allah menunjukkan kekuasaan-Nya.Allah lalu membelah batu di bukit itu dan di dalamnya muncul seekor unta betina sesuai dengan permintaan kaum Tsamud. Unta betina itu dikenal sebagai unta betina Allah.

Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya melalui unta bentina kepada Nabi Saleh AS. (backpacker/Pixabay)

Nabi Saleh lalu meminta agar kaum Tsamud memperhatikan unta tersebut dan membiarkannya makan dengan leluasa. Nabi Saleh juga memperingatkan agar unta betina itu tidak diganggu karena ia mampu memenuhi kebutuhan susu seluruh kaum Tsamud.”Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar,” kata Nabi Saleh sesuai Surat Asy-Syu’ara ayat 156.Mukjizat ini membuat kaum Tsamud terbagi dua. Ada kelompok yang percaya atas kebesaran Allah dan mengikuti ajaran Nabi Saleh. Namun, ada pula kelompok yang ingkar dan menentang mukjizat itu.Mereka yang ingkar justru semakin kafir dan mengganggu si unta betina. Unta betina Allah dianggap mengganggu hewan ternak lain, meminum banyak air, dan berjalan dengan bebas.Para pemimpin di kaum Tsamud lalu membuat rencana untuk membunuh unta tersebut. Seorang bangsawan bahkan membuat sayembara dengan hadiah besar untuk membunuh unta betina.Saat malam tiba, sembilan orang laki-laki melancarkan aksinya membunuh unta tersebut. Unta itu dipanah dan ditikam beserta dengan anaknya yang baru lahir. Kisah pembunuhan unta terdapat dalam surat Al-Qamar ayar 54.

Kaum Tsamud yang ingkar kembali menentang Nabi Saleh untuk mendatangkan azab setelah unta itu dibunuh.

Nabi Saleh kembali mengingatkan kaum Tsamud untuk bertobat sebelum azab benar-benar datang.Kaum Tsamud semakin tak senang dengan petuah Nabi Saleh. Mereka bahkan merencanakan pembunuhan Nabi Saleh.Namun, belum sampai rencana itu. Allah memerintah Nabi Saleh dan orang yang beriman untuk meninggalkan Al-Hijr karena azab akan segera tiba.Azab itu muncul di hari keempat setelah pembunuhan unta. Di hari itu, petir menyambar, bumi berguncang, dan menghancurkan kaum Tsamud. Kaum Tsamud pun binasa karena petir dan gempa bumi.”Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka,” berikut bunyi terjemahan surat Al-A’raf ayat 78.Dari kisah Nabi Saleh ini terdapat sejumlah hikmah yang dapat dipelajari. Pertama, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya melalui mukjizat unta betina kepada Nabi Saleh.Kedua, orang-orang yang melanggar perintah Allah SWT akan mendapatkan azab yang nyata. Berhala-berhala yang semula disembah kaum Tsamud tak dapat menolong mereka saat azab Allah datang.

Baca Juga :   Sebuah benda bermassa 0 05 kg bergerak harmonis sederhana

Ketiga, Allah juga memberikan waktu kepada kaum Tsamud untuk bertobat mulai dari perintah Nabi Saleh, kemunculan unta betina, lalu setelah pembunuhan unta tersebut. Namun, ketika azab datang, tobat sudah tidak berarti di sisi Allah.
(ptj/asr)

[Gambas:Video CNN]


LIVE REPORT

LIHAT SELENGKAPNYA

Shaleh[a] (bahasa Arab:
صالح,
translit.
Shāliḥ‎) adalah seorang tokoh dalam Al-Qur’an, yakni seorang rasul yang diutus pada kaum Tsamūd.[1] Shaleh dikaruniai mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu sebagai bekal dalam berdakwah. Sebagaimana para nabi lain dalam Al-Qur’an, kisah Shaleh juga sangat menekankan pesan keesaan Allah.


Shaleh


صالح

Kaligrafi Shaleh ‘alaihis-salam (keselamatan atasnya)

Tempat tinggalAl-Hijr, Arab UtaraGelar

  • Nabi dan Rasul
  • ‘alaihis-salam (keselamatan atasnya)

Orang tua

  • Ubaid (bapak)

Kerabat

  • Junda’ bin Syihab (sepupu)
  • Kaum Tsamūd (suku)
Dan kepada kaum Tsamud, (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.’
— Al-A’raf (7): 73

Nama Shaleh disebutkan sembilan kali dalam Al-Qur’an.[b] Kisahnya dan/atau kaum Tsamud disebutkan dalam surah Al-A’raf (7): 73-79, Hud (11): 61-68, Al-Hijr (15): 80-84, Al-Isra’ (17): 59, Asy-Syu’ara’ (26): 141-159, An-Naml (27): 45-53, Fushshilat (41): 17-18, Al-Qamar (54): 23-32, dan Asy-Syams (91): 11-15.

Latar belakang

Sebagian ulama menyebutkan bahwa silsilah Shaleh adalah Shaleh bin Ubaid bin Masih bin Ubaid bin Hadir bin Tsamud bin Atsir bin Aram/Iram bin Sem/Sam bin Nuh.[2] Menurut pendapat yang masyhur, Shaleh diutus sebelum masa Ibrahim, meski sebagian ulama menyatakan setelahnya.[3]

Dakwah

Shaleh diutus pada saudara sekaumnya sesama keturunan Tsamud yang berkuasa setelah kehancuran kaum ‘Ad awal.[4] Disebutkan bahwa di tanah-tanah yang datar, kaum Tsamud membangun istana-istana, sedangkan bukit-bukit dan gunung-gunung mereka pahat untuk dijadikan rumah.[5][6][7] Di negeri kaum Tsamud juga terdapat kebun-kebun dan mata air.[8]

Shaleh menyeru kaum Tsamud agar menyembah Allah semata[9][10] dan bertakwa kepada-Nya.[11] Dia juga menegaskan tidak meminta imbalan pada mereka atas dakwahnya.[12]

Shaleh sebenarnya merupakan salah satu orang yang dihormati di kalangan kaum Tsamud dan diharapkan menjadi penerus tradisi mereka. Namun para pemuka kaum Tsamud kecewa setelah Shaleh menyeru agar mengesakan Allah dan mengharuskan untuk meninggalkan sesembahan yang sudah menjadi bagian adat mereka secara turun-temurun.[13] Sebagian dari kaum Tsamud beriman kepada Shaleh, sedangkan sebagian yang lain tidak menaatinya, bahkan menentangnya, sehingga kaum Tsamud terbelah menjadi dua kelompok yang saling bermusuhan.[14] Pemimpin dari pengikut Shaleh adalah Junda’ bin Amru bin Mahlah bin Lubaid bin Jawwas dan dia merupakan salah satu pemuka kaum Tsamud. Beberapa tokoh lain juga berkeinginan untuk mengikuti Shaleh, tetapi Dzu’ab bin Amru bin Lubaid Al-Habbab dan Rabbab bin Sha’r bin Julmas yang merupakan pemuka kaum Tsamud penentang Shaleh menghalang-halangi niatan mereka. Shaleh juga mengajak sepupunya, Junda’ bin Syihab, agar mengikuti ajarannya, tetapi Dzu’ab dan Rabbab mencegahnya.[15]

Oleh para penentangnya, Shaleh kemudian dituduh sebagai orang yang terkena sihir.[16] Mereka juga tidak menerima bila utusan Allah hanyalah manusia biasa seperti mereka, sehingga Shaleh dianggap pendusta dan orang yang sombong.[17] Para penentangnya juga menuntut agar Shaleh menunjukkan mukjizat sebagai bukti kerasulannya.[18]

Unta betina

“Shaleh mengajak kaumnya melihat unta betina”. Salah satu koleksi iluminasi dari Kisah Para Nabi.

Para mufassir menyebutkan bahwa saat kaum Tsamud berkumpul di suatu lembah, Shaleh mendatangi mereka dan menyampaikan ajakannya untuk kembali ke jalan Allah. Para penentangnya kemudian menantang agar Shaleh bisa mengeluarkan seekor unta betina dari batu besar yang mereka tunjuk sebagai bukti kerasulannya, juga agar mereka mau mengimani ajarannya. Shaleh kemudian berdoa kepada Allah, kemudian keluarlah unta betina sesuai ciri-ciri yang dituntut kaumnya dari batu besar yang mereka tunjuk. Setelah melihat mukjizat tersebut, banyak yang beriman kepada Shaleh, tapi masih banyak pula yang tetap menentangnya.[19]

Baca Juga :   Sebuah unsur memiliki notasi 35 5 17 y unsur y dalam sistem periodik terletak pada

Setelahnya, penggunaan sumber air kaum Tsamud digilir setiap harinya antara penduduk dengan unta tersebut.[20][21] Saat para penduduk mendapat giliran mengambil air, unta tersebut tidak bisa meminum air. Saat hari giliran unta tersebut menggunakan sumber air, para penduduk tidak diperkenankan menggunakan sumber air. Sebagian pendapat menyatakan bahwa penduduk sudah mengambil air untuk persediaan mereka pada hari sebelumnya. Pendapat lain menyatakan bahwa saat penduduk tidak boleh menggunakan sumber air, mereka memeras susu unta tersebut sebagai gantinya.[22] Shaleh juga mengingatkan kaumnya untuk tidak mengganggu unta tersebut karena jika dilakukan, dapat mendatangkan siksa yang pedih.[23][24][25]

Pembunuhan

Keadaan tersebut berlangsung sangat lama dan para penentang Shaleh pada akhirnya bertekad membunuh unta tersebut. Di antara mereka terdapat dua orang perempuan yang mendorong rencana tersebut. Wanita pertama bernama Shaduq binti Mahya bin Zuhair Al-Mukhtar. Dia bersedia menyerahkan dirinya bagi sepupunya, Mishra’ bin Mahraj bin Mahya, jika dia berhasil membunuh unta tersebut. Wanita kedua adalah istri Dzu’ab, ‘Unaizah binti Ghunaim bin Mijlaz, sebutannya Ummu Ghunmah. ‘Unaizah dan Dzu’ab memiliki empat anak perempuan dan menawarkan pada Qudar bin Salif agar dia memilih dari keempat anaknya jika berhasil membunuh unta Shaleh. Qudar dan Mishra’ kemudian mengajak tujuh orang lainnya dan akhirnya membunuh unta betina tersebut. Al-Qur’an tidak menjelaskan mengenai keberadaan anak dari unta tersebut, tapi beberapa ulama menjelaskan bahwa saat induknya dibunuh, anak unta tersebut lari ke bukit dan melenguh dengan kencang sebanyak tiga kali.[26]

Ada yang mengatakan bahwa unta Shaleh sudah berada di antara kaum Tsamud sebelum Qudar bin Salif lahir. Qudar tumbuh dengan pesat dan saat bayi, rambutnya beruban pada hari Jum’at, demikian dengan rambut para pembunuh unta yang lain pada hari yang berbeda pada bulan yang sama. Qudar kemudian tumbuh menjadi sosok yang dihormati, bahkan oleh para pemuka kaum Tsamud.[27]

Azab

Setelah berhasil membunuh unta betina tersebut, para penentang Shaleh menantangnya untuk mendatangkan azab yang dia ancamkan.[28] Shaleh kemudian memberikan peringatan pada mereka untuk bersuka ria selama tiga hari.[29]

Meski telah mendapat peringatan, para penentangnya kemudian berusaha lebih jauh dengan berencana membunuh Shaleh dan keluarganya. Mereka berencana membunuhnya secara tiba-tiba pada malam hari, kemudian akan mengelak dan mengaku tidak mengetahui apapun bila ahli waris dan kerabat Shaleh berusaha menuntut balas.[30] Allah kemudian mengirimkan batu-batu untuk membunuh mereka.[31]

Pada hari Kamis, hari pertama masa penangguhan, wajah para penentang Shaleh menjadi berwarna kuning. Sorenya mereka berkata, “Bukankah telah berlalu satu hari dari hari yang dijanjikan?” Hari kedua, wajah mereka menjadi merah. Sorenya mereka mengatakan, “Bukankah telah berlalu dua hari dari hari yang dijanjikan?” Pada hari ketiga, wajah mereka menjadi hitam. Sorenya mereka berkata, “Bukankah telah berlalu waktu yang ditentukan?”[31]

Azab yang diterima kaum Tsamud penentang Shaleh sebagaimana yang termaktub dalam beberapa ayat Al-Qur’an adalah:

  • Gempa[32]
  • Suara keras yang mengguntur[33][34][35]
  • Sambaran petir[36]

Ada beberapa pendapat mengenai tepatnya waktu kedatangan azab yang menghancurkan kaum Tsamud penentang Shaleh. Hamka menjelaskan pada petang hari ketiga. Pada saat itu terdengarlah suara pekik yang amat hebat, pecahlahlah telinga dan perut yang mendengarnya.[37] Ibnu Katsir berpendapat bahwa azab datang pada hari keempat setelah matahari terbit. Wajah mereka menjadi gosong pada saat itu, kemudian datang suara keras dari langit dan goncangan dahsyat dari bumi. Para penentang Shaleh dari kaum Tsamud kemudian mati bergelimpangan dan menjadi mayat di rumah-rumah mereka sendiri.[38]

Disebutkan bahwa tidak ada penentang Shaleh yang selamat, kecuali seorang budak perempuan bernama Kalbah binti As-Salq. Tatkala melihat azab, dia kemudian lari sekencang-kencangnya hingga sampai ke salah satu perkampungan Arab dan menceritakan mengenai hal yang terjadi pada kaumnya. Namun setelah diberi minum salah seorang warga perkampungan tersebut, dia tewas seketika. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ada seorang dari kaum Tsamud yang tidak terkena azab pada saat kejadian, yakni seorang laki-laki bernama Abu Righal yang sedang berada di Al-Haram Makkah. Namun saat keluar dari wilayah Al-Haram, dia juga ditimpa azab seperti kaumnya.[39][40]

Baca Juga :   Kenapa nebulizer ultrasonic tidak berfungsi

Shaleh dan kaum Tsamud yang beriman selamat dari kejadian tersebut.[41][42][43] Al-Qur’an sendiri tidak menjelaskan kehidupan Shaleh setelahnya. Ada yang mengatakan bahwa dia dan pengikutnya pindah ke daerah Ramlah di kawasan Palestina. Pendapat lain menyatakan bahwa mereka pindah ke Al-Haram Makkah.[44]

Shaleh termasuk salah satu nabi dan rasul dalam Islam. Sebagaimana para rasul yang lain, Shaleh menyerukan agar kaumnya mengesakan Allah dan meninggalkan berbagai sesembahan yang lain. Dia juga merupakan satu dari empat nabi yang berasal dari bangsa Arab.[45]

Dalam agama Baha’i, Shaleh dipandang sebagai orang suci.[46] Keberadaan Shaleh tidak terdapat dalam Tanakh (kitab suci Yahudi) maupun Alkitab (kitab suci Kristen).

Qaṣr Al-Farīd (bahasa Arab:
قَصْر ٱلْفَرِيْد‎), makam terbesar pada situs Madain Shaleh

Kaum Tsamud adalah salah satu peradaban kuno di Arab. Mereka adalah keturunan Tsamud, yang dikatakan merupakan cicit Sam/Sem, salah satu putra Nuh yang selamat dari banjir besar. Mereka tinggal di Al-Hijr (ٱلْحِجْر) atau Hegra (Ἔγρα) dalam sumber Yunani kuno.[47][48] Tempat tersebut terletak di kawasan pegunungan di semenanjung Arab bagian utara, antara Hijaz dan Tabuk.[2] Tempat tersebut kemudian dinamai Madain Shaleh (bahasa Arab:
مدائن صالح‎) yang bermakna “Kota Shaleh.”

Ada beberapa bukti bahwa, sebagaimana kaum ‘Ad, kaum Tsamud juga berasal dari semenanjung Arab selatan, tetapi kemudian mereka berpindah ke utara.[49][50] Setelah lenyapnya kaum Tsamud yang asli, Robert Hoyland berpendapat bahwa nama mereka kemudian digunakan oleh kelompok-kelompok baru lainnya yang mendiami wilayah tersebut.[51] Sisa-sisa arkeologis Madain Shaleh sering dibandingkan dengan Petra, ibukota Nabath yang terletak 500 km (310 mil) barat laut Madain Shaleh.[52]

  • 25 Nabi, di antaranya:
    • Nuh
    • Hud
    • Ibrahim
  • Kaum Tsamūd
  • Daftar topik agama Islam
  • Islam
  • Nabi

  1. ^

    Juga dieja
    Saleh,
    Shalih,
    Salih,
    Sholih, dan
    Sholeh
    dalam berbagai literatur bahasa Indonesia

  2. ^

    Dalam Al-Qur’an, nama Shaleh disebutkan sembilan kali, yakni pada surah:

    1. Al-A’raf (7): 73, 75, 77
    2. Hud (11): 61, 62, 66, 89
    3. Asy-Syu’ara’ (26): 142
    4. An-Naml (27): 45


  1. ^

    Hamka 1982, hlm. 176.
  2. ^
    a
    b

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 163.

  3. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 387.

  4. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 169.

  5. ^

    Al-A’raf (7): 74

  6. ^

    Al-Hijr (15): 82

  7. ^

    Asy-Syu’ara’ (26): 149

  8. ^

    Asy-Syu’ara’ (26): 147

  9. ^

    Al-A’raf (7): 73

  10. ^

    Hud (11): 61

  11. ^

    Asy-Syu’ara’ (26): 144

  12. ^

    Asy-Syu’ara’ (26): 145

  13. ^

    Hud (11): 62

  14. ^

    An-Naml (27): 45

  15. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 172-173.

  16. ^

    Asy-Syu’ara’ (26): 153

  17. ^

    Al-Qamar (54): 24-25

  18. ^

    Asy-Syu’ara’ (26): 154

  19. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 172.

  20. ^

    Asy-Syu’ara’ (26): 155

  21. ^

    Al-Qamar (54): 27-28

  22. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 173.

  23. ^

    Al-A’raf (7): 73

  24. ^

    Hud (11): 64

  25. ^

    Asy-Syu’ara’ (26): 156

  26. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 174-175.

  27. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 184.

  28. ^

    Al-A’raf (7): 77

  29. ^

    Hud (11): 65

  30. ^

    An-Naml (27): 49
  31. ^
    a
    b

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 178.

  32. ^

    Al-A’raf (7): 78

  33. ^

    Hud (11): 67

  34. ^

    Al-Hijr (15): 83

  35. ^

    Al-Qamar (54): 31

  36. ^

    Fushshilat (41): 17

  37. ^

    Hamka 1982, hlm. 177.

  38. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 178-179.

  39. ^

    HR. Ahmad (3/296)

  40. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 179.

  41. ^

    Hud (11): 66

  42. ^

    An-Naml (27): 53

  43. ^

    Fushshilat (41): 18

  44. ^

    Ibnu Katsir 2014, hlm. 182.

  45. ^

    Shahih Ibnu Hibban no. 361

  46. ^

    “Kitáb-i-Íqán (The Book of Certitude)”. Baha’i Reference Library. Diakses tanggal
    24 December
    2018
    .



  47. ^

    Stephanus of Byzantium, Ethnica, §E260.11

  48. ^

    Strabo, Geography, § 16.4.24

  49. ^

    “Encyclopædia Britannica, Thamūd”. Thamūd probably originated in southern Arabia



  50. ^

    Matthew S. Gordon, Chase F. Robinson, Everett K. Rowson, Michael Fishbein. Works of Ibn Wāḍiḥ al-Yaʿqūbī (Volume 2): An English Translation. hlm. 277 ff.



  51. ^

    Hoyland, Robert G. (2001). Arabia and the Arabs: From the Bronze Age to the Coming of Islam. Routledge. hlm. 69. ISBN 0415195349.



  52. ^

    “ICOMOS Evaluation of Al-Hijr Archaeological Site (Madâin Sâlih) World Heritage Nomination”
    (PDF). World Heritage Center. Diakses tanggal
    2009-09-16
    .


  • Hamka, Prof. Dr. (1982). Tafsir Al Azhar Juz XXX. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas.

  • Ibnu Katsir (2014). Kisah-Kisah Para Nabi. Diterjemahkan oleh Muhammad Zaini. Surakarta: Insan Kamil Solo. ISBN 978-602-6247-11-7.

  • (Indonesia)
    Kisahmuslim: Kisah Nabi Shaleh

Diperoleh dari “https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Saleh&oldid=19484925”

Nabi saleh as mengajarkan kaum tsamud untuk menyembah

Posted by: pskji.org