Dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat Indonesia pekerja di Indonesia lebih banyak bertipe

Dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat Indonesia pekerja di Indonesia lebih banyak bertipe

Jakarta, CNBC Indonesia
– Menteri Keuangan, Sri Mulyani sekali lagi menaruh perhatian pada permasalahan pendidikan di Indonesia.Saat menghadiri rapat dengan Komisi XI DPR Kamis (13/6/2019) kemarin, Sri Mulyani mengatakan bahwa Fokus APBN tahun 2020 adalah kualitas sumber daya manusia (SDM), yang mana hanya bisa ditingkatkan dengan pendidikan. Mayoritas pekerja di Indonesia adalah lulusan SD dan SMP, terbanyak justru lulusan SD.

“59% tenaga kerja kita masih berpendidikan SMP atau di bawah SMP, skill tidak memadai dengan pertumbuhan ekonomi dan modernisasi yang makin meningkat,” ujar Sri Mulyani.

Kondisi Sebenarnya?Apa yang disampaikan Sri Mulyani memang benar. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2019, dari 129,3 juta orang yang bekerja di Indonesia, sebanyak 75,37 juta jiwa (setara 58,26%) merupakan lulusan SMP atau di bawahnya.Namun bila dirinci lagi, faktanya lebih menyedihkan dari itu. Dari total jumlah orang yang bekerja, sebanyak 40,51% adalah lulusan SD atau lebih rendah. Sementara yang lulusan SMP hanya 17,75%. Artinya porsi SD ke bawah jauh lebih tinggi ketimbang SMP.Dalam empat tahun terakhir (2015-2019), sudah ada sedikit perbaikan dalam profil tenaga kerja di Indonesia.Tercatat porsi lulusan SD telah berkurang sebesar 4,68% pada periode tersebut. Di saat yang sama, porsi lulusan SMA dan Universitas mengalami kenaikan masing-masing sebesar 1,47% dan 1,46%.Tapi perlu diakui bahwa perubahan profil tenaga kerja tersebut agak kurang signifikan. Terbukti dengan lulusan SMP ke bawah yang masih mendominasi pasar tenaga kerja di Indonesia.

Tenaga Kerja di Luar Negeri?

Tidak hanya di Indonesia, profil yang serupa juga menular pada Pekerja Migran Indonesia (PMI). Mereka merupakan penduduk Indonesia yang bekerja di luar negeri.Berdasarkan data dari Badan nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) hingga November 2018, sebanyak 38% dari total PMI hanya berpendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain itu lulusan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) juga masing-masing sebesar 31% dan 30%. Sementara yang sarjana dan pascasarjana sama-sama tidak sampai 1%.Artinya lebih dari separuh PMI, atau 69% PMI memiliki tingkat pendidikan SMP atau lebih rendah.Maka tak heran apabila hampir sepertiga (28,8%) dari total PMI yang mencari nafkah di luar negeri bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). Sementara 19,1% lainnya merupakan tenaga perawat (caregiver). Bahkan sepuluh besar bidang pekerjaan PMI merupakan pekerjaan kasar.Sebenarnya tidak ada yang salah. Bukan berarti pekerjaan tersebut tidak terhormat.Hanya saja, andai pengembangan SDM melalui program pendidikan yang mumpuni lebih digenjot, profil PMI bisa ditingkatkan. Pekerjaan-pekerjaan yang bisa menghasilkan devisa lebih besar jadi sangat mungkin untuk diambil oleh PMI. Pekerjaan-pekerjaan tersebut notabene memerlukan tingkat pendidikan yang relatif lebih tinggi.Bila itu bisa dilakukan, devisa dari pos pendapatan sekunder bisa terdongkrak dan memberi fondasi pada transaksi berjalan. Harapannya, beban defisit transaksi berjalan (CAD) bisa dikurangi. Ini tentu masih jadi pekerjaan rumah pemerintah..

Baca Juga :   Mengapa agama Islam mudah diterima oleh penduduk Nusantara jelaskan?

TIM RISET CNBC INDONESIA


(taa/taa)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, sebanyak 49,39 juta pekerja Indonesia berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah pada Agustus 2021. Proporsinya setara dengan 37,69% dari total penduduk yang bekerja di dalam negeri.

Pekerja terbanyak selanjutnya berasal dari jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), yakni sebanyak 24,72 orang. Lalu disusul dari jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 23,28 juta orang dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak 16,86 juta orang .

Hanya 12,82% pekerja di Indonesia yang lulusan pendidikan tinggi. Rinciannya, sebanyak 13,34 juta pekerja atau 10,18% merupakan lulusan universitas.

Sementara, pekerja yang merupakan lulusan Diploma I/II/III sebanyak 3,46 juta orang. Proporsinya tercatat sebesar 2,64% dari total pekerja Indonesia.

Rendahnya tingkat pendidikan pekerja Indonesia berpengaruh terhadap kualitas dari tenaga kerja itu sendiri. Hal itu dapat menyebabkan pekerja Indonesia sulit bersaing di pasar tenaga kerja.

(Baca: Mayoritas Pekerja Komuter di Indonesia Berusia Muda)

Penulis: Hanif Gusman

Kamis, 21 Maret 2019 16:32 WIB

View non-AMP version at tirto.id

Statistik menunjukkan lulusan SD dan SMP menguasai hampir setengah pangsa tenaga kerja industri manufaktur Indonesia.

tirto.id – “Sekarang orang ngomong industri 4.0, apa itu? Problem tenaga kerja kita rata-rata tamat SMP. Itu problem dasarnya, 4.0 itu penting, tapi hanya kelihatan canggih, namun tidak menjawab kebutuhan pokoknya bahwa kualitas tenaga kerja kita itu sangat rendah.”

Ketua Komnas HAM Taufik Damanik menanggapi debat cawapres pada Minggu (17/3/2018) lalu yang menurutnya tidak membahas hal lebih substansial terkait kualitas ketenagakerjaan di Indonesia. Sektor tenaga kerja memang vital, apalagi pemerintah punya ambisi ingin mengembangkan industri 4.0 yang berbasis digital. Industri 4.0 memang sedang hangat dibicarakan.

Advertising

Advertising

Apa itu industri 4.0?

Menurut World Economic Forum (WEF), revolusi industri 4.0 merupakan revolusi digital pada industri. Hal tersebut terlihat dari penggunaan beragam teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), internet of things (IoT), wearables, robotika canggih, dan 3D printing.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bahkan meluncurkan Making Indonesia 4.0 sebagai sebagai roadmap (peta jalan) yang terintegrasi guna mengimplementasikan sejumlah strategi.

Pada tahap awal, penerapan berfokus pada lima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronik. Pemilihan kelima sektor tersebut didasari ukuran Produk Domestik Bruto (PDB), potensi dampaknya terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar.

Baca Juga :   Cara membedakan burung kutilang jantan dan betina Anakan

“Tentu saja ini direncanakan dengan baik, ada roadmap yang jelas, tahapan-tahapan apa yang harus kita siapkan. Arahnya sudah jelas seperti itu. Lebih mudah menggarapnya,” ujar Presiden Jokowi dalam acara Indonesia Industri Summit 2018 sekaligus meresmikan Making Indonesia 4.0 di Jakarta Convention Center, Jakarta pada Rabu (4/4/2018).

Apa yang menjadi kritikan Taufik di atas, patut ditelaah soal kesiapan SDM. Ini karena pendidikan umum maupun pendidikan kejuruan memiliki peran penting terhadap kesiapan pekerja menghadapi industri 4.0. Di negara-negara maju seperti Jerman dan AS yang sudah melekat dengan industri 4.0, lebih dari 60 persen penduduknya mengenyam pendidikan tertinggi.

Seperti apa sebenarnya kapasitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia untuk menggarap industri 4.0 terutama dari tingkat pendidikannya?

Infografik Periksa Data Industri 4.0 dan Komposisi Pekerja Indonesia. tirto.id/Nadya

Berdasarkan Pendidikan tertinggi yang ditamatkan, tenaga kerja lulusan SD mendominasi pangsa tenaga kerja Indonesia. Dalam kurun waktu 2014 hingga 2018, setidaknya seperempat dari tenaga kerja merupakan lulusan SD. Pada 2014, terdapat 28,75 persen tenaga kerja lulusan SD. Angka tersebut terus menurun hingga mencapai 25,21 persen pada 2018.

Penyumbang terbanyak kedua yaitu lulusan SMP. Komposisi tenaga kerja yang merupakan lulusan sekolah menengah pertama tersebut berkisar antara 17-18 persen setiap tahunnya, bila ditotal komposisi antara lulusan SD dan SMP mencapai 43 persen. Meski demikian, gabungan kelompok lulusan SMA dan sederajat (SMK) juga termasuk mayoritas karena menguasai lebih dari seperempat pangsa tenaga kerja.

Pada 2014, gabungan SMA dan SMK menguasai 25,39 persen tenaga kerja. Dengan adanya tren peningkatan pada kelompok SMA maupun SMK, porsi gabungan kelompok tersebut juga ikut menanjak. Terhitung pada 2018, gabungan lulusan SMA dan SMK menguasai 29,04 persen pangsa pekerja Indonesia.

Sementara itu, tenaga kerja yang tidak pernah bersekolah dan tidak/belum tamat SD menyumbang tenaga kerja sebesar 15 hingga 18 persen setiap tahunnya dengan tren menurun. Menariknya, lulusan SMK yang digadang-gadang siap terjun ke dunia kerja malah menyumbang tenaga kerja lebih sedikit dibandingkan tamatan SD maupun SMP.

Meskipun mengalami tren meningkat, namun angka tertinggi baru mencapai 11,03 persen pada 2018. Kontribusi yang lebih rendah dibandingkan kelompok lain ini cukup masuk akal karena porsi angkatan kerja lulusan SMK juga berkisar pada angka 9-11 persen terhadap total tenaga kerja selama lima tahun belakangan.

Namun masalah kualitas keterampilan para lulusan SMK juga tidak dapat dikesampingkan. Pemerhati ketenagakerjaan Ade Hanie mengatakan industri kesulitan menyerap tenaga kerja lulusan SMK karena dalam praktik belajarnya, siswa diukur melalui nilai akademis ketimbang keahliannya.

Baca Juga :   Dari sarjana teknik mesin ke pelayaran

Didominasi Lulusan SD-SMP

Fokus pemerintah pada bidang industri pengolahan (manufaktur) untuk tahap awal implementasi industri 4.0 adalah hal yang cukup masuk akal. Selain menyumbang 22 persen terhadap PDB pada 2016, BPS juga mencatat industri manufaktur merupakan sektor ketiga terbesar dalam menyerap tenaga kerja Indonesia.

Berdasarkan Statistik Tenaga Kerja Agustus 2018, BPS menyatakan tenaga kerja di sektor manufaktur tercatat sebesar 18,25 juta orang. Menariknya, 23,06 persen atau sekitar 4,21 juta pekerja merupakan lulusan SD yang merupakan tingkat dasar dalam jenjang Pendidikan dengan keterampilan rendah.

Infografik Periksa Data Industri 4.0 dan Komposisi Pekerja Indonesia. tirto.id/Nadya

Lulusan SMP menjadi penyumbang terbesar kedua pada industri pengolahan atau manufaktur, komposisinya sebesar 22,8 persen atau sekitar 4,16 juta pekerja. Jika digabung, lulusan SD dan SMP menguasai hampir setengah pangsa tenaga kerja di sektor manufaktur dengan 45,86 persen. Lulusan SMK yang dipersiapkan siap kerja di dunia industri hanya menyumbang 17,31 persen atau 3,16 juta pekerja.

Kontribusi yang terbilang kecil dibandingkan Pendidikan yang lebih rendah tersebut sempat dikeluhkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) pada 2016 lalu. Seperti yang dilansir katadata, Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Industri Pemberdayaan Daerah I Made Dana Tangkas menyebut tenaga kerja di sektor manufaktur didominasi lulusan SMP. Sedangkan lulusan SMK dan SMA belum bisa menghasilkan kebutuhan minimum bagi manufaktur.

Dominasi pekerja dengan Pendidikan rendah khususnya pada sektor industri manufaktur menimbulkan pertanyaan apakah para tenaga kerja siap dengan industri 4.0 yang banyak berkaitan dengan ekonomi digital dan teknologi robotik?

Pemerintah pun menyadari hal tersebut dan melakukan beberapa persiapan, salah satunya penguatan sumber daya manusia (SDM). Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah telah mengalokasikan dana yang lebih substansial di sektor pendidikan dan kesehatan.

Kemenperin pun juga telah menyiapkan empat strategi guna memasuki industri 4.0 diantaranya melalui peningkatan keterampilan memahami teknologi internet serta mendorong pemanfaatan teknologi digital.

Upaya menyambut industri 4.0 tidak hanya soal kecanggihan teknologi yang digunakan, kualitas SDM ketenagakerjaan tidak kalah penting dan mesti menjadi perhatian utama pemerintah.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman

(tirto.id – hnf/dra)

Penulis: Hanif Gusman Editor: Suhendra

© 2022 tirto.id – All Rights Reserved.

Dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat Indonesia pekerja di Indonesia lebih banyak bertipe

Posted by: pskji.org