Bersikap tidak berarti harus membagi sama rata

Bersikap tidak berarti harus membagi sama rata

Adil menurut bahasa adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Adil
juga berarti tidak berat sebelah, tidak memihak atau menyamakan yang satu dengan yang lainnya. Adapun Adil menurut istilah adalah menegaskan sesuatu kebenaran terhadap masalah atau beberapa untuk dipecahkan sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya agar berlaku adil. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Artinya; “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS An-Nahl: 90)

Sebagai gambaran dari keadilan Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah ketika beliau menjadi kepala negara dan hakim, beliau selalu menerapkan keadilan dengan betul, hingga beliau
pernah menyatakan: “Jika sekiranya Fatimah binti Muhamad mencuri, niscaya aku potong tangannya”. (HR. Bukhori). Subhanallah, Rasulullah dengan tegas menyatakan tidak adanya pilih kasih dalam menegakkan keadilan bahkan jikalau putrinya Beliau mencuri maka Rasulullahlah yang akan memotong tangan putrinya sendiri.

Berlaku adil bukan berarti harus sama-sama rata dalam membagi sesuatu, akan tetapi adil lebih condong kepada meletakkan sesuatu sesuai tempatnya. Contohnya anak TK tidak mungkin mendapatkan uang saku sama dengan anak SMP, karena jika sama justru ini tidaklah adil. Jika adil adalah sifat dan sikap Fadlilah (utama) maka sebagai kebalikannya adalah sikap dzalim. dzalim berarti menganiaya, tidak adil dalam memutuskan perkara, berarti berat sebelah dalam tindakan, mengambil hak orang lain lebih dari batasnya atau memberikan hak orang lain kurang dari semestinya. Ada sebuah syair arab nan indah,yang perlu untuk kita cermati bersama:

“Aku mengenal keburukan bukan untuk berbuat keburukan. Namun aku mengenalnya agar bisa menjauhinya. Karena orang yang tidak mengenal keburukan, biasanya akan terjerumus ke dalamnya”.

Kedzaliman terbagi dua, yaitu mendzalimi diri sendiri, dan mendzalimi orang lain. Mendzalimi diri sendiri ada dua bentuk yaitu syirik dan perbuatan dosa atau maksiat. Mendzalimi orang lain adalah menyakiti perasaan orang lain, mensia-siakan atau tidak menunaikan hak orang lain yang wajib ditunaikan.  dzalim  secara istilah mengandung pengertian “berbuat aniaya terhadap diri sendiri atau orang lain dengan cara-cara batil yang keluar dari jalur syariat Agama Islam”.

Baca Juga :   Bagian yang menampung urine sebelum keluar adalah ... a. ureter b. pelvis c. kandung kemih d. uretra

Di antara perbuatan-perbuatan dzalim yang  mengotori hati yaitu ghasab (meminjam bukan haknya), sombong, dengki (tidak suka terhadap kebahagian orang lain), ghibah (membicarakan keburukan orang lain), fitnah (menuduh tanpa bukti yang kuat), adu domba (bermuka dua), dusta (bohong), ujub(bangga diri dengan merendahkan orang lain), dan lain sebagainya.  Dalam pergaulan dan interaksi kita dengan orang lain, sebaiknya benar-benar menjaga perkataan dan sikap kita agar tidak menyinggung dan menyakiti persaan orang lain, apalagi sampai berbuat dzalim. Kalau kita tidak sengaja melakukan kesalahan kepada orang lain saja, kita harus segera minta maaf, terlebih lagi bila kita dengan sengaja melakukannya.

Yang lebih berbahaya lagi, apabila kita menyakiti seseorang dan orang tersebut tidak ikhlas, serta berdoa memohon kepada Allah, mengadukan kedzaliman yang menimpanya dan memohon pertolongan dan perlindungan dari Allah. Serta dalam doanya, ia menyatakan bahwa ia tidak ikhlas atas perbuatan dzalim yang dilakukan seseorang, maka tunggu saja, keadilan dari Allah, pasti akan mendatangi orang yang telah mendzaliminya, entah itu di dunia ini atau di akhirat kelak.

Islam dan perbuatan dzalim

Ketahuilah, harta, darah dan kehormatan seorang muslim haram atas muslim yang lain. Dalam konteks apapun, tidak dibenarkan merampas harta, menumpahkan darah atau mencemarkan kehormatan seorang muslim kecuali dengan alasan kebenaran. Ini dipertegas oleh Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji wada’ (perpisahan);

“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram (untuk ditumpahkan, dirampas dan dicemarkan), seperti haramnya hari kalian ini, di negeri ini (makkah), dan bulan kalian ini”. (HR. Imam Bukhari). Maka kita memohon kepada Allah Ta’ala semoga dijauhkan dari sifat sifat dzalim, baik pada diri sendiri atau orang lain. Wallahu a’lam bish shawwab. Qm

Mutiara Hikmah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata; “Seorang mukmin itu berbeda dengan orang kafir disebabkan dia beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, membenarkan apa saja yang dikabarkan oleh para Rasul tersebut, menaati segala yang Dia perintahkan dan mengikuti apa saja yang diridhai dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan bukannya (pasrah) terhadap ketentuan dan takdir-Nya yang berupa kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan-kemaksiatan. Akan tetapi (hendaknya) dia ridha terhadap musibah yang menimpanya bukan terhadap perbuatan-perbuatan tercela yang telah dilakukannya. Maka terhadap dosa-dosanya, dia beristighfar (minta ampun), dan dengan musibah-musibah yang menimpanya dia bersabar.”

Baca Juga :   Diketahui himpunan A 1 3 5 7 dan B a,b,c,d maka banyaknya korespondensi satusatu dari A ke B adalah

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Shutter Stock


Rasa sayang orang tua kepada

anak

tak perlu dipertanyakan lagi besarnya. Ya Moms, sebagai orang tua, Anda pasti sangat menyayangi anak-anak Anda tanpa terkecuali.


Meski begitu, tetap saja ada anak yang menganggap bahwa orang tuanya tidak adil atau pilih kasih dengan saudara kandungnya. Entah itu hanya perasaan sang anak atau memang tanpa sadar, orang tua berlaku tidak adil pada anak-anaknya.


Ya, cobalah untuk introspeksi diri, Moms. Bila ternyata sikap yang Anda lakukan, tanpa sadar memunculkan kecemburuan antar anak, maka segera cari solusinya. Menurut Direktur Rumah Quran dan Bahasa Al-Mujtaba, Dr. Mauidlotun Nisa, Lc., S.Pd.I., M.Hum, Islam mengajarkan orang tua untuk bersikap adil terhadap anak-anaknya.


“Jika orang tua tidak adil kepada anak padahal level kebutuhan anak itu sama, maka ini jelas tidak boleh,” ujar Dr Mauidlotun Nisa, Lc., S.Pd.I., M.Hum, saat dihubungi kumparanMOM, Kamis (16/4).


Petunjuk untuk bersikap adil pun dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW, dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.


عن النعمان بن بشير  أن أباه أعطاه غلاما فقالت أمه: لا أرضى حتى يشهد رسول الله عليه الصلاة والسلام فذهب بشير بن سعد إلى النبي ﷺ وأخبره بما فعل فقال: أكل ولدك أعطيته مثل ما أعطيت النعمان فقال: لا، فقال الرسول: اتقوا الله واعدلوا بين أولادكم.


Sungguh aku telah memberi pemberian berupa seorang budak milikku kepada anakku ini.” Kemudian Rasulullah SAW. bersabda: “ Apakah semua anakmu kau beri seperti (anakmu) ini?” Dia menjawab: “ Tidak.” Maka Rasulullah SAW. bertanya : “ Apakah engkau senang apabila mereka (anak-anakmu) semuanya berbakti kepadamu dengan sama?” Dia menjawab: “ Aku mau (wahai Rasulullah).” Lalu Rasulullah SAW. bersabda: “ Kalau begitu, jangan kau lakukan (pilih kasih).” (HR. Muslim)

Baca Juga :   Berikan contoh suatu peristiwa yang didalamnya ada objek dan subjek sejarah


Lantas, sikap adil seperti apa yang perlu dilakukan

orang tua
?

Tips Parenting Islami Foto: Shutterstock


Ustazah Nisa menjelaskan bahwa yang dimaksud adil di sini adalah bukan berarti sama rata atau sama kuantitas. Tetapi, orang tua harus adil sesuai dengan kebutuhan anak-anaknya.


“Tp harus diingat bahwa adil dalam arti proporsional, tidak harus sama,” jelasnya.


Misalnya saja, Moms, adil yang dimaksud bukan berarti Anda harus membagi uang jajan sekolah anak dengan nilai yang sama. Tentunya, kakak yang sudah duduk di bangku SMP punya kebutuhan yang lebih banyak, sehingga ia perlu dapat uang jajan yang lebih besar dibanding adik yang masih SD.


Keadilan di sini maksudnya adalah memberikan sesuatu yang sesuai dengan porsinya. Kebutuhan anak yang sudah SMP dengan yang masih SD tentu berbeda. Hal ini yang perlu Anda jelaskan juga kepada anak-anak, bahwa adil itu bukan berarti sama rata, melainkan sesuai dengan porsinya.


Kemudian, jika dalam kasih sayang, tentu Anda tidak boleh membedakan antara anak satu dengan anak lainnya. Kasih sayang harus Anda berikan sama rata dan tidak boleh dibeda-bedakan.


Nah Moms, oleh karena itu penting sekali orang tua bersikap adil pada anak-anaknya. Jika tidak, hal ini akan menimbulkan permusuhan pada anak-anak. Mereka pun bisa kehilangan rasa kasih sayang antar saudara dan berdampak pada sikap tidak menghormati pada orang tua.


“Ketika orang tua bersikap adil, anak-anak terhindar dari permusuhan atau kecemburuan.

Anak

memiliki karakter berjiwa besar karena penghormatan dan kasih sayang orang tua, sehingga perkembangan pribadinya menjadi baik dan akan menjadi anak yg sholih serta taat kepada Allah dan kedua orang tua,” pungkasnya.

Bersikap tidak berarti harus membagi sama rata

Posted by: pskji.org