Berikut ini yang bukan tantangan dalam menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa yang berasal dari dalam negeri adalah

Berikut ini yang bukan tantangan dalam menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa yang berasal dari dalam negeri adalah

Tantangan dalam menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa dapat datang dari luar dan dalam negeri berupa ?

  1. kreatif dan inovatif
  2. etos kerja yang tinggi
  3. disiplin
  4. malas, korupsi, krisis ekonomi
  5. Semua jawaban benar

Jawaban: D. malas, korupsi, krisis ekonomi

Dilansir dari Encyclopedia Britannica, tantangan dalam menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa dapat datang dari luar dan dalam negeri berupa malas, korupsi, krisis ekonomi.

Kemudian, saya sangat menyarankan anda untuk membaca pertanyaan selanjutnya yaitu
Bentuk Penyimpangan terhadap UUD NRI tahun 1945 pada masa Orde Lama adalah, kecuali ?
beserta jawaban penjelasan dan pembahasan lengkap.

Tantangan Dalam Menjaga Keutuhan NKRI.
Macam Tantangan untuk Menjaga Keutuhan NKRI.
1. Tantangan Internal.

Top 1: Sebutkan 4 tantangan menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa …

Pengarang:
brainly.co.id – Peringkat
97

Ringkasan:

. 6. Pengakuan dari negara lain bisa didapatkan oleh suatu negara dengan cara. A. Mengucilkan diri b. Memperkuat persenjataanc. Kerja samad. Hubungan in. … ternasionale. Sistem otoriter​. Pelaksanaan pemilu diisyaratkan Pembukaan UUD N RI Tahun 1945 dalam pernyataan yang berbunyi . Setujukah bahwa mutu pendidikan itu ditentukan oleh Kurikulum ?. Jelaskan dan berikan sran-sarannya​. . Ancaman yang berdimensi politik yang bersumber dari dalam negeri dal

Hasil pencarian yang cocok:

sebutkan 4 tantangan menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa yang datangnya dari dalam negeri!! JAWABAN: yaitu, mengawal nkri agar tetap utuh … …

Top 2: Tantangan dalam Menjaga Keutuhan NKRI | kumparan.com

Pengarang:
m.kumparan.com – Peringkat
144

Ringkasan:
Ilustrasi NKRI. Foto: wikimedia.commons.orgNegara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menghimpun keseluruhan wilayah, suku bangsa, dan budaya dari Sabang hingga Merauke. Untuk menjaga keutuhan bangsa yang majemuk ini, dibutuhkan persatuan dan kesatuan yang kuat, seperti yang diamanatkan dalam sila ketiga Pancasila. Usaha untuk mempertahankan NKRI ini perlu dilakukan setiap waktu. Sebab potensi ancaman, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri pasti ada. Sebagai warga negara yang baik, kita

Hasil pencarian yang cocok:

20 Jan 2021 — Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) menghimpun keseluruhan wilayah, suku bangsa, dan budaya dari Sabang hingga Merauke. …

Top 3: Tantangan Dalam Menjaga Keutuhan Dan Kejayaan Bangsa Dapat …

Pengarang:
kuisatu.com – Peringkat
182

Ringkasan:
. Tantangan dalam menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa dapat datang dari luar dan dalam negeri berupa ? kreatif dan inovatif. etos kerja yang tinggi. disiplin. malas, korupsi, krisis ekonomi. Semua jawaban benar Jawaban: D. malas, korupsi, krisis ekonomi Dilansir dari Encyclopedia Britannica, tantangan dalam menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa dapat datang dari luar dan dalam negeri berupa malas, korupsi, krisis ekonomi.. Kemudian, saya sangat menyarankan anda untuk membaca pertanyaan sel

Hasil pencarian yang cocok:

7 Agu 2021 — Tantangan dalam menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa dapat datang dari luar dan dalam negeri berupa ? kreatif dan inovatif; etos kerja yang … …

Top 4: PPKn 8 Bab 6 Part 2 | Social Studies Quiz – Quizizz

Pengarang:
quizizz.com – Peringkat
120

Hasil pencarian yang cocok:

… tidaklah kecil Tantangan menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa dapat datang dari dalam dan luar negeri. Tantangan dari dalam negeri antara lain . …

Top 5: 16 Tantangan Dalam Menjaga Keutuhan NKRI dan Penjelasannya

Pengarang:
artikelsiana.com – Peringkat
142

Ringkasan:
Istilah NKRI merupakan singkatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saat ini semangat untuk menjaga keutuhan NKRI terus disuarakan oleh masyarakat, organisasi dan pemerintah dengan sebutan NKRI Harga Mati dari berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan ekonomi.Slogan unuk menjaga keutuhan NKRI semakin sering disuarakan tidak akan senyaring ini apabila tidak terdapat ancaman yang menjadi tantangan-tangan untuk dihadapi.Walaupun, slogan untuk

Hasil pencarian yang cocok:

11 Sep 2021 — Sebab dengan majunya teknologi seakan-akan bangsa dari luar negeri, memasukkan budayanya dalam teknologi buatannya dan kemudian masuk ke … …

Top 6: Ini 2 Tantangan dalam Menjaga Keutuhan NKRI yang Harus …

Pengarang:
smadwiwarna.sch.id – Peringkat
127

Ringkasan:

Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi kewajiban setiap warga negara termasuk para siswa. Hanya saja semakin hari tantangan dalam menjaga keutuhan NKRI tersebut makin berat saja. Terjadinya polarisasi pada banyak aspek kehidupan membuat persatuan anak bangsa berpotensi semakin rapuh. Luasnya wilayah NKRI yang sebagian besar terdiri dari lautan, menjadi permasalahan tersendiri dalam menjaga keutuhannya. Belum lagi penduduk yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia ya

Hasil pencarian yang cocok:

20 Mar 2022 — Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia tentunya mempunyai kebudayaan dan kearifan lokal masing-masing yang tidak mudah untuk disatukan. Macam … …

Top 7: OPINI: Tantangan-Tantangan Persatuan Bangsa | IAIN PAREPARE

Pengarang:
iainpare.ac.id – Peringkat
129

Ringkasan:
Penulis: Dr. Joni Tapingku, M.Th. (Rektor IAKN Toraja)Lanjutan Opini sebelumnya http://www.iainpare.ac.id/moderasi-beragama-sebagai-perekat/ OPINI— Persoalan dan tantangan bangsa Indonesia tidaklah sedikit. Banyak dan kompleks. Tidak mungkin terselesaikan tanpa kolaborasi dan tanpa hadirnya kesatuan dan persatuan di antara segenap anak bangsa; tanpa hadirnya kesatuan hati anak bangsa. Di bawah ini diuraikan sejumlah persoalan dan tantangan yang mengancam persatuan bangsa. Tantangan Beyond Post-M

Baca Juga :   Top 11 kulot jeans anak perempuan 12 tahun hitam terbaik 2022

Hasil pencarian yang cocok:

15 Sep 2021 — Intoleransi ini sering dihubungkan dengan kepercayaan atau praktik agama lain. Dalam beberapa sumber, fakta menyebutkan bahwa tindak intoleransi … …

Top 8: REAKTUALISASI PANCASILA

Pengarang:
pusdik.mkri.id – Peringkat
110

Hasil pencarian yang cocok:

haluan dasar bagi keberlangsungan, keutuhan dan kejayaan bangsa yang … Dalam perjalanannya, sejarah konseptualisi Pancasila melintasi rangkaian panjang. …

Top 9: Tantangan Dalam Menjaga Keutuhan NKRI – BPK Penabur

Pengarang:
bpkpenabur.or.id – Peringkat
156

Hasil pencarian yang cocok:

BERITA LAINNYA – 04 February 2021. Indonesia dalam menjaga keutuhan NKRI,memiliki tantangan yang harus dihadapi. Tantangan itu ada dua yaitu tangangan … …

Penulis: Dr. Joni Tapingku, M.Th. (Rektor IAKN Toraja)

Lanjutan Opini sebelumnya

http://www.iainpare.ac.id/moderasi-beragama-sebagai-perekat/

OPINI— Persoalan dan tantangan bangsa Indonesia tidaklah sedikit. Banyak dan kompleks. Tidak mungkin terselesaikan tanpa kolaborasi dan tanpa hadirnya kesatuan dan persatuan di antara segenap anak bangsa; tanpa hadirnya kesatuan hati anak bangsa. Di bawah ini diuraikan sejumlah persoalan dan tantangan yang mengancam persatuan bangsa.

Tantangan Beyond Post-Modern Era

Kita sedang berada di zaman peradaban baru yang didominasi oleh “perang urat saraf”, yaitu melibatkan kekuatan teknologi terbarukan (updating technology). Tentu, teknologi yang terus terbarukan adalah anugerah Allah bagi manusia. Pada satu sisi, dengan adanya temuan dan teknologi yang semakin canggih akan semakin memanjakan dan memudahkan kita melakukan aktivitas dan pelayanan. Sebaliknya, dengan hadirnya teknologi terbarukan tersebut dapat menciptakan persoalan-persoalan baru yang menyeramkam. Inilah yang sedang mengemuka saat ini. Pemanfaatan media sosial yang kuat akan menjadi pemenang, baik dari sisi positif maupus sisi negatifnya. Penguasaan media cetak dan media elektronika yang semakin canggih memberikan referensi bahwa tantangan kita tidaklak sedikit. Teknologi dapat mengangkat derajat kehidupan manusia, tetapi pada saat yang sama pula dapat memusnahkan manusia itu sendiri.

Tantangan Intoleransi

Intoleransi adalah tindakan yang tidak toleran atau tidak memiliki tenggang rasa. Intoleransi ini sering dihubungkan dengan kepercayaan atau praktik agama lain. Dalam beberapa sumber, fakta menyebutkan bahwa tindak intoleransi beragama di Indonesia meningkat. Intoleransi ini sesungg merupakan buah dari kelalaian anak. bangsa untuk menjaga nilai, menjaga panji, menjaga semangat Pancasila yang merupakan buah dari kesepakatan bersama.

Persoalan Korupsi

Dalam berbagai kesempatan disebutkan bahwa korupsi adalah musuh bersama bahkan disebut sebagai kejahatan yang luar biasa (extraordinary crimes). Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah, memperberat hukuman, memperkuat KPK, dsb. seakan-akan tidak mempan – tidak menjadi efek jera – bagi para  pelakunya. Undang-Undang KPK yang baru yang walaupun telah disahkan oleh DPR/MPR RI tetapi masih meninggalkan persoalan yang perlu dipastikan lebih jauh. Timbulnya protes dari elemen masyarakat dalam pasal-pasal tertentu tidak terlepas dari semangat agar bangsa ini terbebaskan dari cengkeraman korupsi. Hanya saja, dalam berbagai analisis bahwa persoalan kita adalah kompleks. Praktik nepotisme, lemahnya penegakkan hukum, wibawa hukum yang merosot, rendahnya komitmen moral, rendahnya peran hati nurani menjadi pemicu utama terjadinya praktik-praktik korupsi ini. Tidak heran bila Binoto Nadapdap menulis buku dengan judul “Korupsi Belum Ada Matinya”. Kapan matinya? Ini merupakan pertanyaan untuk dijawab oleh seluruh anak bangsa.

Tantangan Radikalisme

Radikalisme pada umumnya diartikan sebagai paham yang menghendaki terjadinya perubahan signifikan dalam bidang politik dan juga sosial. Pendekatan yang dipakai dengan cara ekstrim/kekerasan yang berpotensi terjadinya konflik. Bentuk perwujudan dan gerakan radikalisme bervariasi. Dalam tulisan Ahmad Jainuri dikatakan bahwa radikalisme dari perspektif pemikiran didasarkan pada keyakinan tentang nilai, ide, dan pandangan yang dimiliki oleh seseorang yang dinilainya sebagai yang paling benar dan menganggap yang lain salah. Ia sangat tertutup, biasanya sulit berinteraksi dan hanya saling berbicara dengan kelompoknya sendiri. Orang yang memiliki pandangan seperti ini biasanya tidak menerima pemikiran orang lain, selain pikiran dan kelompoknya sendiri. Otoritas pengetahuan yang dimilikinya dikaitkan dan diperoleh dari figur tertentu yang dinilai tidak dimiliki oleh orang lain. Karena itu, biasanya kaum radikal tidak menerima figur lain sebagai sumber rujukan pengetahuannya. Dalam dialog biasanya ia tidak ingin memahami keanekaragaman pendapat yang dimiliki orang lain, tetapi ingin menyatukan pandangan yang berbeda itu dengan pandangan dan pendapat menurut standar diri sendiri, bahkan dengan memaksakan kehendak. Pada sisi lain, radikalisme tindakan dan gerakan ditandai oleh aksi ekstrem yang harus dilakukan untuk mengubah suatu keadaan seperti yang diinginkan. Contoh dalam bidang politik seperti tindakan makar, revolusi, demonstrasi, dan protes sosial yang anarkis.

Baca Juga :   Apakah fungsi karbon dioksida bagi makhluk hidup terutama tumbuhan brainly?

Tantangan Terorisme

Achmad Jainuri menulis bahwa istilah teror dan terorisme telah menjadi idiom ilmu sosial yang sangat populer pada dekade 1990-an dan awal 2000-an sebagai bentuk kekerasan atas nama agama. Meskipun sesungguhnya terorisme bukanlah sebuah istilah baru, tetapi teror dan terorisme telah muncul sepanjang sejarah kehidupan umat manusia. Lebih lanjut Jainuri menjelaskan bahwa terorisme bagian dari gerakan radikalisme yang paling mutakhir di abad ini telah mencapai puncak ancaman peradaban. Pada tahun 1980, CIA (Central Intelligence Agency) mendefinisikan terorisme sama dengan ancaman atau penggunaan kekerasan untuk tujuan politik yang dilakukan oleh individu atau kelompok atas nama atau menentang pemerintah yang sah, dengan menakut-takuti masyarakat yang lebih luas dari pada korban langsung teroris. Tulisan A.M. Hendropriyono tentang terorisme lebih komprehensif. Dalam Bab IV bukunya yang berjudul Terosisme: Fundamentalis Kristen. Yahudi, Islam menyuguhkan informasi dan penilaian terhadap terosisme itu sendiri sebagai ancaman ketahanan di bidang ketahanan politik, pertahanan dan keamanan, serta kemanusiaan. Persoalan terorisme merupakan persoalan yang tidak gampang dipahami. Ada berbagai kisi yang tidak dapat dimengerti. Banyak pakar menyatakan bahwa pemahaman radikalisme yang sebenarnya tidaklah dibentuk oleh sebab yang tunggal tetapi banyak kisi lain yang belum dapat dipahami secara tuntas. Ada misteri (hidden agenda).

Tantangan Kemiskinan

Menurut data dan persentase penduduk miskin di Indonesia per Maret 2017 mencapai 27,77 juta. Secara terperinci disebutkan bahwa angka tersebut bertambah 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,7 juta orang (10,70 persen). Kemiskinan terjadi bukan hanya karena kekurangan sumber daya alam, tetapi juga karena faktor sumber daya manusia yang sangat terbatas dalam pengetahuan dan ketrampilan mengelola sumber daya alam.

Hal ini, tentu menyangkut dimensi pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Karena itu, memang persoalan keindonesiaan kita adalah persoalan kompleks. Dapat dikatakan, kondisi ini telah menahundan terbiarkan selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang luar biasa tetapi masih saja berhadapan dengan kemiskinan. Karena itu, perlu introspeksi diri secara jujur tentang keindonesiaan dan berbenah agar keluar dari petaka kemiskinan.

Tantangan Alzheimer Sejarah

Salah satu pidato kenegaraan Presiden Soekarno yang disampaikan dalam rangka memperingati Ulang Tahun kemerdekaan RI ke-21 Tahun 1966 berjudul “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”  atau yang umumnya dikenal dengan sebutan Jasmerah. Jasmerah ini bersi penuturan data dan fakta-fakta sejarah yang diuraikan secara gamblang. Berisi gagasan dan semangat patriotisme. Berisi awasan dan sekaligus tindakan antisipatif. Berisi semangat juang tanpa pamrih. Berisi ajakan untuk mengisi kemerdekaan tanpa pamrih. Telah 76 tahun Indonesia merdeka ini merupakan momentum untuk mengingat kembali sejarah bangsa yang tertorehkan dalam banyak catatan dan pengalaman.

Tentu, pengalaman selama 76 tahun adalah pengalaman yang penuh makna. Selingan persoalan juga silih berganti yang menjadikannya semakin kuat dan dewasa. Para pejuang dan pendiri bangsa telah rela memberikan segala-galanya. Mereka memberi tanpa merasa berkekurangan. Mereka memberi tidak untuk kepentingan golongan atau kepentingan sektarian. Mereka memberi dengan kepentingan besar, yaitu kepentingan bangsa dan negara. Kepentingan rumah besar kita bernama Indonesia.

Merajut Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Dalam konteks kompleks yang telah dipaparkan di atas, pertanyaan urgen yang mesti kita jawab ialah, bagaimana kita merajut persatuan dan kesatuan bangsa yang sehat, harmonis, dan langgeng? Sebagai sesama anak bangsa, ada beberapa perspektif yang mesti dibangun sebagaimana diuraikan di bawah ini.

Perlunya Kesadaran Kuat tentang Wawasan Kebangsaan

Seluruh komponen bangsa harus memiliki kesadaran ini, tidak terkecuali seluruh pemeluk agama. Dalam agama Kristen, Alkitab memberi bukti bahwa betapa pentingnya mendukung bangsa dan negara. Semangat kebangsaan ditunjukkan secara terbuka bebera teks Alkitab

Para pendiri bangsa Indonesia (the founding fathers) semula telah menyadari bahwa kenyataan pluralisme bangsa Indonesia dari segi suku, budaya, daerah, dan terutama agama yang d berpotensi melahirkan konflik dan perpecahan yang mengancam keutuhan bangsa. Sesungguhnya kemajemukan adalah kekayaan yang patut disyukuri. Pilar-pilar kebangsaan semestinya dikedepankan karena sudah merupakan konfesi/konsensus bersama dan bersifat final, yaitu: NKRI, UUD 1945, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Pendidikan yang Berkarakter

Pendidikan yang berkarakter merupakan upaya sadar yang dilakuakan seseorang atau sekelompok orang untuk menginternalisasikan nilai-nilai pada seseorang yang lain sebagai pencerahan agar peserta didik mengetahui, berfikir, dan bertindak secara bermoral dalam menghadapi setiap situasi. Tujuan dari pendidikan yang berkarakter adalah untu membentuk pribadi seseoranng menjadi manusia yang baik.

Dewasa ini, pendidikan karakter di Indonesia semakin menjadi pusat perhatian dalam dunia pendidikan. Hal ini disebabkan karena penurunan moral para penerus bangsa yang semakin mengkhawatirkan. Tidak sedikit kasus-kasus beredar tentang turunnya moral anak bangsa, mulai dari perlakuan yang tidak sopan kepada guru/dosennya, tawuran, dan tindak asusila. Berbagai masalah inilah yang membuat perhatian pemerintah semakin tertuju pada pendidikan yang berkarakter. Namun usaha yang dilakukan oleh pemerintah terhadap peserta didik sepertinya tidak sejalan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar lingkungannya, terutama di lingkungan sekolah atau kampus. Tidak sedikit tenaga pendidik yang memberikan contoh yang tidak baik kepada peserta didik. Padahal karakter dari seorang tenaga pendidik sangat berperan penting dalam pembentukan karakter seorang anak.

Baca Juga :   Apa perbedaan dari meristem primer dan meristem sekunder?

Jadi tenaga pendidik tidak hanya memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang bagaimana karakter yang baik itu, bagaimana seharusnya kita sebagai manusia itu berperilaku, tapi juga tenaga pendidik harus memberikan contoh yang baik pula kepada peserta didik agar sosialisasi yang diberikan itu dapat berjalan dengan sempurna dan agar pendidikan karakter itu dapat berjalan dengan sempurna pula. Pun peserta didik seharusnya juga harus memiliki kemampuan dalam memfilter mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang tidak baik. Kesimpulannya, tenaga pendidik dan peserta didik harus bekerja sama agar pendidikan karakter di Indonesia berhasil.

Pendidikan Berbasis Keluarga

Salah satu fungsi keluarga dalam perspektif pendidikan adalah sebagai tempat bagi penanaman nilai-nilai positif bagi kehidupan, pengembangan, dan pemantapan keterampilan, tingkah laku dan pengetahuan dalam hubungan dengan fungsi-fungsi lain. Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Tanpa pendidikan, manusia tidak mungkin berperadaban atau tidak mungkin berkebudayaan. Pengetahuan dapat bertambah karena melalui proses pendidikan, baik pendidikan formal (resmi), informal (keluarga, lingkungan, teladan), maupun non formal (kursus). Melalui pendidikan, manusia bisa mengembankan kemampuan imajinasi menjadi kenyataan.

Mengingat begitu pentingnya pendidikan, melalui jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 yang menekankan tentang tujuan pendidikan. Pada pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Diharapkan melalui rumusan tujuan pendidikan nasional ini memberikan arah bagi pendidikan yang baik dan relevan untuk menjawab kebutuhan konteks Indonesia. Hanya saja, yang terlihat selama ini justru sangat jauh dari cita-cita ideal bangsa. Di mana-mana ditemukan hal-hal yang kontras dengan tujuan pendidikan. Degradasi mentalitas-moralitas-spiritualitas anak bangsa sangat terasa memilukan dan memalukan. Perilaku koruptif di luar aturan main menjadi hal yang seakan-akan dilegitimasi. Semua mengatasnamakan kebenaran dan hukum. Semua mencari pembenaran. Semua mencari kambing hitam, dst.

Penanaman Nilai Pendidikan dalam Konteks Plural

Sebagai bangsa yang kaya raya dengan sumber daya alam tetapi juga kaya raya dari sisi budaya, kesadaran terhadap nilai pendidikan dalam konteks plural perlu digemakan. Salah kesadaran pluralitas keyakinan dibincangkan oleh Julianus Mojau dalam bukunya yang berjudul Meniadakan atau Merangkul: Pergulatan Teologis Protestan dengan Islam Politik di Indonesia. Buku ini, tidak hanya menggumuli tentang tantangan yang kompleks, tetapi juga berbicara tentang kekayaan dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Salah satu tekanan tulisan ini terangkum dalam harapan yang tertuang dalam prakatanya yang menyatakan, “Semoga buku ini akan memberi sumbangan kecil dengan cara terssendiri pada usaha kita bersama memelihara proses menjadi Indonesia dengan semangat kebangsaan emansipatoris dan juga boleh saling menerima perbedaan antarelemen masyarakat (suku, agama, bahasa, dan budaya serta pilihan orientasi ideologi) sebagai fitra-sosiologis-teologis proses menjadi Indonesia. Dengan begitu, hidup damai bukanlah sekadar sebuah retorika, melainkan menjadi praksis hidup bersama”.

Tekanan utama dari pikiran ini adalah: Pertama, perlunya  pemeliharaan (perawatan) secara berkesinambungan; Kedua, perlunya semangat kebangsaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai/emansipasi ketika berhadapan dengan keragaman/kepelbagaian sebagai kekayaan; Ketiga, perlunya implementasi riil dalam konteks hidup bersama. Di luar kesadaran terhadap nilai-nilai ini akan kacau. Di luar ini akan terganggu.

Penutup

Harus diakui bahwa kita sedang menghadapi berbagai bentuk pertentangan dan konflik – yang  datang silih berganti – dengan berbagai wajah dan bentuk. Hal ini terjadi karena banyak faktor, antara lain belum terbiasanya dengan keterbukaan dan perbedaan (pluralitas). Orang juga belum terbiasa dengan perkembangan kemajuan dalam sebuah iklim yang terbuka, demokratis, dan plural. Pada gilirannya, hal ini menimbulkan kecurigaan dan gesekan yang tidak sedikit di antara berbagai elemen masyarakat dan bangsa.

Karakter moderasi beragama meniscayakan adanya keterbukaan, penerimaan, dan kerjasama dari masing-masing kelompok yang berbeda. Karenanya, setiap individu pemeluk agama, apa pun suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politiknya harus mau saling mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan pemahaman keagamaan di antara setiap pemeluk agama.

Akhirnya, mari kita senantiasa menyerukan sama seperti seruan Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama pada masanya, bahwa “Beragama hakikatnya berindonesia, dan berindonesia hakikatnya beragama”.

Berikut ini yang bukan tantangan dalam menjaga keutuhan dan kejayaan bangsa yang berasal dari dalam negeri adalah

Posted by: pskji.org