Perlukah negara kita mengadakan kerjasama ekonomi dengan negara lain jelaskan pendapat kalian

Perlukah negara kita mengadakan kerjasama ekonomi dengan negara lain jelaskan pendapat kalian

Tiap negara akan menjalin dan menjaga hubungan internasional satu sama lain. Hubungan yang dibangun akan bersifat saling menguntungkan untuk kedua negara. Salah satu motivasi dari dibangunnya hubungan ini adalah untuk mensejahterakan ekonomi kedua bangsa. Negara yang melaksanakan hubungan internasional dengan negara lain, akan memiliki lebih banyak peluang untuk meningkatkan ekonomi mereka. Salah satu bentuk kegiatan yang bisa dilakukan adalah ekspor dan impor. Kegiatan ini terbukti sangat mampu membantu negara mengisi kas-nya. Di kesempatan kali ini kita akan membahas berbagai manfaat hubungan internasional dalam bidang ekonomi bagi negara kita, Indonesia.

Manfaat Hubungan Internasional Di Bidang Ekonomi

Kerja sama ekonomi internasional adalah sebuah bentuk kerjasama dalam bidang ekonomi yang dilakukan oleh suatu negara dengan negara lain, yang akan saling menguntungkan. Dua negara atau lebih akan bisa membangun sebuah bentuk kerjasama di bidang ekonomi yang memiliki dampak luar biasa bagi kemajuan negara. Mungkin salah satu bentuk dari kerja sama ini adalah

handphone

yang kamu gunakan, yang di impor dari luar negeri. Bayangkan saja jika suatu negara tidak melakukan kerja sama internasional ini, mungkin kamu tidak bisa membaca artikel ini dari gadget kamu.

Berikut ini adalah berbagai macam manfaat dari hubungan internasional yang dibangun di bidang ekonomi.

1. Perekonomian Negara Meningkat

Akan ada lebih banyak peluang yang terbuka bagi kedua negara untuk meningkatkan perekonomian mereka. Ekonomi akan tumbuh berkembang dengan adanya hubungan internasional tersebut.

2. Memancing Minat Minat Investor Asing

Mempromosikan sumber daya dalam negeri untuk menarik minat investor asing adalah salah satu manfaat dari kegiatan membangun hubungan internasional ini. Investor yang tertarik akan menanamkan modalnya dan membuka lapangan kerja baru bagi warga dalam negeri.

3. Peluang Ekspor Terbuka

Hubungan internasional dengan negara lain sama artinya dengan membuka tempat pemasaran baru bagi produk dalam negeri. Kesempatan untuk memperdagangkan hasil produksi dalam negeri akan semakin terbuka. Memudahkan terjadinya kegiatan ekspor.

4. Terbukanya Lapangan Kerja

Masyarakat bisa mencari pekerjaan di luar negeri karena pemerintah kedua negara sudah menjalin sebuah bentuk kerja sama internasional. Memberikan pilihan bagi masyarakat yang membutuhkan lapangan pekerjaan. Salah satu contohnya adalah TKI yang merantau ke berbagai negara tetangga dan menjadi “pahlawan devisa” bagi Indonesia.

Ketersediaan lapangan kerja yang meningkat juga bisa dipengaruhi dari semakin berkembangnya kegiatan ekspor dan impor. Karena salah satu faktor yang menentukan kelancaran sebuah produksi adanya jumlah tenaga kerja yang cukup di samping kebutuhan akan ketersediaan barang baku. Sehingga lapangan pekerjaan akan semakin terbuka lebar.

Baca Juga :   Perbedaan requirements elicitation dan specification

5. Kesempatan untuk Mengisi Devisa Negara

Negara akan bisa mengisi devisa dari berbagai kegiatan ekonomi secara internasional ini. Bisa didapatkan dari kegiatan ekspor dan impor, atau dari berbagai warga negara yang bekerja di negara lain.

6. Tercukupinya Kebutuhan dalam Negeri

Kebutuhan dalam negeri adalah hal yang sedikit susah untuk dipenuhi oleh suatu negara, mereka pasti akan saling melakukan kegiatan ekspor dan impor untuk bisa memenuhi kebutuhan negaranya.


7. Meningkatkan Kesejahteraan Warga Negara

Manfaat hubungan internasional di bidang ekonomi lainnya adalah dapat meningkatkan kesejahteraan warga negara.

Nah itu dia beberapa manfaat dari dibangunnya sebuah hubungan kerjasama internasional dalam bidang ekonomi bagi bangsa kita. Jika kamu memiliki pertanyaan untuk hal ini, silahkan tanyakan di kolom komentar ya, jangan lupa juga untuk di share!

Wabah COVID-19 terus mengganggu perekonomian Indonesia. Data terakhir mencatat pertumbuhan ekonomi minus 5,32% di triwulan kedua. Untuk pulih dari penurunan ekonomi, Indonesia membutuhkan segala bantuan yang tersedia, termasuk dari luar negeri.

Meskipun isolasi jangka pendek penting untuk menghentikan penyebaran coronavirus, kegagalan bekerja sama dengan negara lain akan mengurangi kemampuan kita dalam menghadapi dampak wabah COVID-19. Terkait hal ini, aspek ekonomi perlu ditangani secara kolektif, terutama melalui kerja sama dengan negara lain.

Menteri luar negeri Retno Marsudi mengatakan kerja sama antar negara untuk penanganan COVID-19 merupakan sebuah keharusan untuk mengeksplorasi cara-cara yang lebih inovatif dalam meningkatkan kerja sama antara negara-negara dengan bahan baku, teknologi, dan kapasitas sumber daya manusia untuk menghadapi pandemi ini.

Tren ini pun terjadi di seluruh dunia.

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) sepakat untuk memperkuat kerja sama dengan bertukar informasi dan pengembangan riset.

Negara-negara Uni Eropa bahkan menyebut diri mereka Tim Eropa untuk penanganan COVID-19 yang menganggarkan 36 miliar Euro atau Rp 627 triliun untuk negara mitra mereka yang memiliki sistem kesehatan dan ekonomi yang rentan.

Australia dan WHO bekerja bersama untuk mendukung respons Indonesia terhadap COVID-19.
flickr/kedubesaustralia, CC BY-SA

Dalam bidang ekonomi, setidaknya ada tiga aspek yang bisa melibatkan kerja sama antarbangsa:

1. Dukungan finansial.

Kita semua menyadari bahwa wabah yang tidak terduga ini telah menyebabkan tekanan tambahan pada anggaran nasional banyak negara.

Dalam konteks Indonesia, dengan adanya tambahan pengeluaran untuk mengatasi wabah COVID-19, Kementerian Keuangan telah memperkirakan defisit anggaran akan melebar melampaui batas defisit tiga persen yang biasanya diberlakukan setiap tahun anggaran.

Baca Juga :   Peternakan Ayam petelur biasanya menggunakan kandang dengan satu per satu di namakan sistem

Presiden telah menandatangani peraturan presiden yang menyatakan defisit APBN 2020 diperkirakan mencapai Rp1,03 kuadriliun (US$73,4 miliar) atau sekitar 6,34% dari produk domestik bruto (PDB). Ini berarti defisit lebih dari dua kali lipat dari batas defisit biasa.

Masalah lainnya jumlah pendapatan negara juga turun akibat aktivitas produksi dan perdagangan yang berkurang selama pandemi.

Hingga paruh pertama tahun ini, misalnya, penerimaan pajak pemerintah hanya mencapai Rp531,8 triliun atau turun 12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berbagai bantuan dukungan bilateral dapat menjadi salah satu alternatif untuk menambal defisit tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa negara telah menunjukkan niatnya untuk memberikan fasilitas keuangan kepada Indonesia.

Dukungan mereka akan meningkatkan kapasitas Indonesia untuk mengatasi beban tambahan selama pemulihan ekonomi.

Hingga Juni 2020, pemerintah telah mendapat dukungan finansial dari negara lain sebanyak sekitar US$1,8 miliar.

Jepang, misalnya, baru-baru ini mengumumkan dukungan keuangan sebesar 50 miliar yen atau setara dengan Rp6,9 triliun untuk membantu upaya pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi dan menjaga kinerja perekonomian. Pinjaman ini memiliki bunga 0.01% dengan lama pinjaman 15 tahun.

Namun, bantuan utang luar negeri memiliki potensi risiko. Untuk itu, pemerintah selalu berhati-hati dalam mengambil bantuan luar negeri dan hanya mengambil yang memiliki risiko minimum.

2. Bantuan teknis.

Penanganan program pemulihan ekonomi membutuhkan keterlibatan yang luas dengan berbagai pemangku kepentingan utama, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri.

Mengingat ragam kepentingan para pemangku kepentingan dan dampak dari kebijakan yang diambil untuk program pemulihan, kita perlu belajar dari pengalaman negara lain untuk memprediksi bahwa kebijakan kita akan berdampak positif pada pemulihan ekonomi.

Beberapa negara telah melaksanakan program pemulihan dan melakukan. evaluasi. Evaluasi mereka terhadap program-program yang telah dilaksanakan dapat menjadi acuan yang baik bagi kita untuk mengembangkan langkah-langkah pemulihan ekonomi yang tepat secara waktu maupun sasaran.

Misalnya, Australia telah membagi pengalamannya kepada Indonesia dalam mengembangkan kebijakan dan program untuk memulai kembali operasi bisnis serta merangsang ekonomi.

Dalam sebuah pertemuan secara daring, anggota parlemen Australia telah memaparkan kebijakan pemulihan ekonomi, salah satunya dengan mempunyai dua alokasi dana internal bagi untuk tingkat nasional dan negara bagian agar distribusi dana bisa menjadi lebih cepat.

Australia juga berbagi caranya membuat rumusan kebijakan fiskal guna mendukung kegiatan ekonomi pasca lockdown.

Pemerintah Australia merespons Covid-19 yang mulai masuk ke negaranya sejak 25 Januari 2020 lalu dengan menyiapkan tiga paket ekonomi senilai A$260 miliar setara dengan Rp2.783 triliun atau 13,3% dari produk domestik bruto negaranya.

Baca Juga :   Tata cara membuat essay yang baik dan benar

Paket ekonomi yang pertama digunakan untuk mendukung investasi dunia usaha dan membayar stimulus untuk beberapa wilayah tertentu. Paket ekonomi yang kedua difokuskan untuk mendukung rumah tangga dan menyiapkan langkah-langkah untuk memastikan aliran kredit yang berkelanjutan. Sementara paket ekonomi ketiga dialokasikan untuk program yang bertujuan untuk mendukung dunia usaha dan menekan seminimal terjadinya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Langkah-langkah yang diambil Australia mirip dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang memiliki anggaran sebesar Rp 677,2 Triliun yang dialokasikan untuk kesehatan, perlindungan sosial, insentif dunia usaha, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pembiayaan korporasi serta Kementerian Lembaga dan Pemerintah daerah.

Sekali lagi, tidak ada satu negara pun yang tahu persis formula yang tepat untuk menangani dampak wabah COVID-19. Namun, berbagi informasi dan pengalaman serta bekerja sama dengan negara lain diperlukan untuk memperkaya pengetahuan kita, guna mengambil tindakan pemulihan yang tepat.

3. Diplomasi Ekonomi.

Selama proses pemulihan ekonomi, penting untuk mempromosikan kepentingan ekonomi kita di luar negeri, terutama kepada negara mitra yang memiliki hubungan erat di bidang perdagangan, keuangan, investasi, dan pariwisata.

Mereka memiliki semua potensi yang akan berkontribusi dalam memulihkan perekonomian kita dengan berbagai cara.

Sebagai contoh, wabah telah memicu kesadaran banyak negara bahwa ketergantungan yang terlalu besar pada negara tertentu sebagai mitra dagang akan membatasi kemampuannya dalam melakukan upaya mitigasi pada saat krisis, terutama ketika rantai pasokan terganggu.

Contohnya ketika negara-negara Eropa dan Amerika Serikat berebut pasokan masker dari China, hal ini bisa menjadi peluang untuk mempromosikan Indonesia sebagai mitra alternatif dalam waktu dekat.

Secara khusus, misi diplomatik Indonesia memainkan peran penting dalam meningkatkan sentimen atau citra positif internasional terhadap program pemulihan ekonomi kita. Sehingga dunia internasional melihat Indonesia sebagai negara yang kredibel dan potensial sebagai mitra dagang.

Menurut pakar hubungan internasional asal Inggris,Nicholas Bayne dan Stephen Woolcock diplomasi ekonomi bekerja lebih luas dari kementerian luar negeri.

Contohnya saja Kementerian Luar Negeri baru-baru ini bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk menciptakan persepsi positif perekonomian RI guna mendorong investasi dan perdagangan Indonesia.

Semangat kebersamaan yang dihadirkan melalui kerja sama antar negara mengirimkan pesan yang kuat bahwa kita memiliki teman baik, tidak hanya di masa damai, tetapi juga di masa krisis.

Perlukah negara kita mengadakan kerjasama ekonomi dengan negara lain jelaskan pendapat kalian

Posted by: pskji.org