Mengapa kerajaan banten disebut banten girang

Mengapa kerajaan banten disebut banten girang

Loading Preview

Sorry, preview is currently unavailable. You can download the paper by clicking the button above.


Perbesar

Bangunan Keraton Kaibon yang dulunya menjadi tempat tinggal para ibu suri Keraton Banten (Liputan6.com / Nefri Inge)

Banten Girang adalah suatu tempat, yang oleh para peneliti kepurbakalaan diyakini sebagai pusat pemerintahan kerajaan bercorak Hindu-Budha, sebelum berdirinya Kesultanan Banten.

Eksistensi Banten Girang disebutkan dalam beberapa naskah kuna atau babad. Wahanten Girang pernah disebutkan dalam Carita Parahyangan yang menyatakan bahwa Wahanten Girang dikalahkan oleh Arya Bubrah, yakni tokoh yang ditafsirkan sebagai Fatahillah Khan, panglima Demak – Cirebon yang mengalahkan Kalapa.

Dalam laman resmi BPCB Banten menyebutkan bahwa, lima lempeng prasasti yang ditemukan di desa Kebantenan, Bekasi, dua di antaranya menyebutkan kata “banten”. Beberapa ahli menyatakan kata “banten” tersebut merujuk pada Banten Girang.

“Jika dikaji berdasarkan asal bahasanya, dalam bahasa Jawa Kuno, banten berarti selamatan/sesaji. Pabanten diartikan sebagai tempat untuk melakukan sesaji. Kampung Banten berarti kampung tempat melakukan persembahan,” dikutip dari laman resmi BPCB Banten (09/02).

Sejarawan Banten, menyebutkan bahwa, Banten Girang kemudian ditaklukkan oleh pasukan Islam yang berasal dari Demak dan Cirebon. Setelah penaklukkan tersebut, berdirilah Kesultanan Banten dan pusat pemerintahan berpindah ke daerah utara di pesisir pantai teluk Banten, yang sekarang dikenal sebagai Banten Lama.

Daerah pesisir tersebut kemudian menjadi Kesultanan Banten yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini semula menguasai hampir seluruh bekas Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Namun Sunda Kelapa atau Batavia direbut oleh Belanda, sedangkan Cirebon dan Parahiyangan direbut oleh Mataram. Daerah Kesultanan Banten kemudian diubah menjadi keresidenan oleh Belanda.

Saat ini Banten Girang hanya berupa bukit kecil di barat sungai Cibanten di Kampung Sempu. Nama-nama tempat yang masih tersisa di Banten Girang antara lain Asem Reges, yang menurut cerita berasal dari pohon asem yang ditanam di dekat makam Ki Jongjo. Nama lain adalah Telaya, dimana pada tahun 1682 nama Banten Girang diganti menjadi Tirtalaya, yang kemudian disingkat menjadi Telaya.

Baca Juga :   Poster Niaga Bertujuan Untuk Menawarkan

Di tepi jurang terdapat goa buatan yang dipercaya dahulu digunakan oleh Prabu Pucuk Umun untuk bersemedi. Pandaringan, menurut cerita merupakan bekas kolam pada masa kejayaan Banten Girang, sehingga dinamakam pandaringan yang berarti tempat menyimpan makanan.

Banusri merupakan bekas pasar, serta Alas Dawa yang berada di sebelah selatan kawasan Banten Girang, dahulu merupakan hutan.

Dalam laman resmi BPCB Banten menyebutkan bahwa, Banten semakin berkembang setelah bersentuhan dengan kebudayan luar. Pengaruh budaya dari luar tersebut datang dari india yang membawa agama Hindu dan Budha.

Di samping membawa pengaruh agama Hindu dan Budha, masuknya pengaruh India juga berdampak pada sistem sosial dan pemerintahan di Nusantara, ditandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan.

Salah satu kerajaan Hindu yang pernah ada di Banten ialah kerajan Banten Girang yang diperkirakan ada pada sekitar abad ke-10 sampai dengan abad ke-16. Masuknya pengaruh Islam kemudian berdampak pada mundurnya pengaruh Hindu – Budha di Banten.

Scroll down
untuk melanjutkan membaca

SuaraBanten.id –
Sejarah kerajaan Banten yang menjadi cikal bakal Provinsi Banten tak lepas dari wilayah Banten Girang.

Lokasi Banten Girang yang terletak di Kampung Telaya, Desa Sempu, Kecamatan Serang merupakan cikal bakal Banten itu berada di pedalaman pesisir.

Dalam sejarah, Banten Girang merupakan pusat pemerintahan Banten yang disebut Kadipaten Banten saat masih menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Sunda.

Penguasa Banten pada saat itu yakni Arya Surajaya atau Prabu Pucuk Umun. Agama yang dianut Prabu Pucuk Umun dan rakyatnya ketika itu adalah Hindu-Budha.

Baca Juga: Mengenal Pakaian Adat Banten, Pakaian Suku Baduy yang Pertahankan Nilai Keluhuran

Sementara itu, Maulana Hasanudin yang meruapakan pemimpin pertama Kesultanan Banten saat itu masih sibuk mengajarkan agama Islam sempat tantang Prabu Pucuk Umun bertanding ayam sakti.

Sejumlah wisatawan beraktifitas di kawasan wisata religi Kesultanan Banten di Kasemen, Serang, Banten, Minggu (7/6). [ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman]

Dikutip dari situs Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, berdasarkan penelitian yang dilakukan Claude Guillot pada tahun 1988 hingga 1992, situs Banten Girang merupakan situs pemukiman atau perkotaan.

Baca Juga :   Salah satu ciri norma hukum bila dibandingkan dengan norma lainnya adalah dari segi sanksinya yaitu

Penafsiran tersebut berdasarkan pada temuan struktur pertahanan yang berbentuk parit dan dinding tanah dengan pola yang tidak teratur. Diperkirakan situs ini berasal dari abad ke-10 dan mencapai puncaknya pada abad ke-13 hingga 14 Masehi.

Periodisasi tersebut mengacu pada keramik asing, keramik lokal, pecahan prasasti, benda-benda logam, mata uang, sisa hewan, batu-batuan, dan manik-manik yang ditemukan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guillot.

Adapun Banten Ilir atau Banten Lama pada masa itu berfungsi sebagai pelabuhan. Di tepi Sungai Cibanten, terdapat goa buatan yang dipahat pada sebuah tebing jurang. Goa ini memiliki dua pintu masuk yang di dalamnya terdapat tiga ruangan.

Baca Juga: Sulah Nyanda, Rumah Adat Banten Dibangun Dengan Syarat Tak Merusak Alam

Pada pertengahan tahun 1990-an, ditemukan sebuah arca Dwarapala di Sungai Cibanten, tidak jauh dari Situs Banten Girang. Sebagaimana dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Sungai Cibanten dahulu kala berfungsi sebagai jalur transportasi yang menghubungkan wilayah pesisir dengan pedalaman.

Banten Girang. Sumber: Kemdikbud.go.id


Banten adalah bandar atau kota pelabuhan kecil di ujung barat pulau Jawa yang terletak di bagian dalam sebuah teluk. Para pelaut di zaman dulu melihat teluk ini dengan berpatokan pada Gunung Gede yang menjulang setinggi 600 meter di pedalaman. Bandar ini terletak di bagian dalam muara Sungai Cibanten yang bersumber dari kaki Gunung Karang. Aliran sungai ini pendek hanya sekitar tiga puluh kilometer, tetapi menyambungkan laut dengan pegunungan vulkanis Karang-Pulasari-Aseupan yang subur.


Sepanjang aliran sungai inilah tercatat situs-situs tua penting yang berkaitan dengan berbagai babak sejarah Banten, yakni Kasunyatan, Odel, Kelapadua, Serang dan Kota Lama Banten Girang.


Banten berasal dari bahasa Jawa kuno “pabanten” yang artinya tempat untuk menaruh sesaji atau persembahan. Sementara “girang” bisa berarti jaya atau senang tetapi dalam kaitannya dengan kota lama Banten, nama Banten Girang berarti “Banten Hulu”.

Sumber: Kemdikbud.go.id


Banten Girang adalah sebuah dataran tinggi yang dekat dengan Desa Sempu. Saat ini masuk wilayah Kota Serang. Letaknya sekitar 10 km dari pelabuhan Banten yang sekarang. Kota tua ini ditandai dengan makam keramat yang dinamai sebagai makam Ki Jongjo. Konon makam ini adalah makam kakak beradik Ki Jong dan Agus Jo yang dijadikan satu sebagai pemeluk Islam yang pertama di Banten.

Baca Juga :   Segi Banyak Yang Memiliki 5 Sudut Sama Besar Disebut


Fakta sejarah Ki Jongjo semakin dikuatkan dengan kronik Portugis yang ditulis Joao de Barros yang menulis tentang Falatehan yang pada kurun abad 16 pergi ke “Bintam” (Banten). Di sana dia diterima oleh tokoh terkemuka yang kemudian masuk Islam.


Banten Girang menjadi tempat yang bersejarah dan dikeramatkan karena berbagai alasan. Di balik makam diduga terdapat watu gulang (batu bersiran). Orang menyebutnya sebagai tahta Pucuk Umun yang merupakan ratu-pandita “hindu” yang terakhir di sana. Babad setempat, Sajarah Banten bercerita tentang Ki Jongjo seorang punggawa akuan yang ditugaskan di sana. Ketika Hasanudin datang ke sana dia langsung memihak pada penguasa Islam yang baru itu.

Sumber: Wikimedia Commons


Satu abad kemudian muncul berita tentang Banten Girang dari pedagang yang ikut kapal kolonial Inggris. Namanya Abdul Mafakir (1596-1651) dan diceritakan dia tinggal di Kelapadua. Pada masa itu Kelapadua adalah pusat pengolahan tebu orang-orang Tiongkok yang telah lama membangun perkebunan tebu dan industri gula. Ahli sejarah menginterpretasikan bahwa tempat tinggal pedagang itu adalah Banten Girang. Interpretasi ini sesuai dengan data Belanda tentang tempat tinggal Sultan Haji di tahun 1678 yang tertulis dia tinggal di hulu Kelapadua.


Data ini lebih diperkuat lagi dengan catatan W Caeff, residen Belanda yang tinggal di akhir abad 17. Dia mencatat bahwa Sultan Ageng, penguasa Banten, pada tahun 1674 telah memutuskan untuk mengadakan rapat bukan di Banten tetapi di “keraton lama” agar menjadi rahasia. Dua tahun kemudian dia menulis bahwa Sultan Ageng memutuskan membangun istana di Banten Girang atau Banten lama sebagai tempat berlindung kaum wanita jika meletus perang. Dari keterangan tersebut terlihat bahwa peninggalan pra-Islam di Banten Girang tidak ditelantarkan.


Sumber artikel: indonesia.go.id, kebudayaan.kemdikbud.go.id

Mengapa kerajaan banten disebut banten girang

Posted by: pskji.org