jelaskan maksud sejarah secara sinkronik

jelaskan maksud sejarah secara sinkronik

Jelaskan pengertian sinkronik dalam sejarah? pertanyaan tersebut sering sekali keluar pada mata pelajaran sejarah, khususnya bidang sejarah peminatan di sekolah menengah atas (SMA). Oleh sebab itu, pada artikel kali ini kami akan menjelaskan pengertian berfikir sinkronik dalam sejarah beserta beberapa contohnya dalam kehidupan sehari-hari / bermasyarakat.

Selain pengertian sinkronik dalam sejarah, pada artikel sebelumnya penulis telah mengulas materi tentang konsep diakronik (kronologis) ruang dan waktu. Jika kalian mencari materi tersebut juga, maka tinggal cari saja melalui kolom pencarian pada blog sumber sejarah ini. Okeh, langsung saja simak pembahasan dibawah ini..



Baca Juga: Pengertian Diakronik dalam Sejarah

Jika konsep berfikir diakronis adalah catatan kejadian dari sebuah peristiwa sejarah yang diurutkan berdasarkan waktu terjadinya peristiwa tersebut, maka berbeda dengan berfikir sinkronik. Pengertian sinkronik dalam sejarah adalah mempelajari peristiwa sejarah dengan mementingkan struktur dari peristiwa tersebut, artinya melebar dalam ruang dan lebih mendetail tanpa membandingkan peristiwa yang terjadi sebelumnya.

Maksud dari pengertian konsep berfikir sinkronik dalam sejarah tersebut harus mencakup 5 W + 1 H. Jadi, dalam mempelajari dan mengkaji peristiwa sejarah harus terdapat pedoman What (apa), When (kapan), Who (siapa), Why (mengapa), where (dimana) dan How (bagaimana).

Itulah pedoman konsep berfikir sejarah, jadi tanpa harus mengurutkan peristiwa sejarah berdasarkan waktu saja. Namun harus mengetahui pedoman 5 W + 1 H tersebut. Sampai disini sudah paham? Jika sudah, berikut ini contoh berfikir sinkronik dalam sejarah :

Mempelajari peristiwa bersejarah “Bandung Lautan Api”, hal-hal yang harus dipahami dan dikuasai pada topik pembahasan tersebut antara lain :

  1. Apa pengertian peristiwa Bandung Lautan Api?
  2. Kapan terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api?
  3. Siapa saja tokoh yang terlibat dalam peristiwa Bandung Lautan Api?
  4. Mengapa peristiwa Bandung Lautan Api bisa terjadi?
  5. Dimana peristiwa Bandung Lautan Api berlangsung?
  6. Bagaimana jalannya peristiwa Bandung Lautan Api?

Itulah pertanyaan yang harus anda kuasai dalam menerapkan konsep berfikir Sinkronik. Untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut, bisa anda cari disini :
Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api Lengkap (klik link tersebut).

Baca Juga :

Demikian pembahasan singkat mengenai materiPengertian Sinkronik dalam Sejarah, semoga segala hal terkait topik tersebut dapat anda temukan jawabannya pada artikel ini. Semoga bermanfaat dan berguna, kurang lebihnya mohon maaf. Sekian, terimakasih. Jangan lupa baca artikel menarik dan informatif lainnya.

Baca Juga :   Apa saja peranan ular pada jaring jaring makanan di atas

Share ke teman kamu:

Tags
:

Jakarta

Belajar sejarah dapat dilakukan dengan cara
berpikir sinkronik
dan diakronik. Apa itu cara berpikir sinkronik dan diakronik?

Dilansir dari halaman web Rumah Belajar Kemdikbud, cara berpikir sinkronik adalah cara berpikir yang meluas dalam ruang, tetapi terbatas dalam waktu. Sementara itu, cara berpikir diakronik adalah cara berpikir yang memanjang dalam waktu, tetapi terbatas dalam ruang.

Dalam artikel ini, kita akan kupas tuntas cara berpikir sinkronik mulai dari ciri-ciri hingga contohnya.

Berdasarkan e-Modul Sejarah Indonesia Kelas X: Konsep Berpikir Kronologis, Diakronik, Sinkronik, Ruang, dan Waktu dalam Sejarah, kata sinkronik berasal dari bahasa Yunani, yaitu “syn” yang berarti dengan dan “chronoss” yang berarti waktu.

Dengan begitu, cara berpikir sinkronik hanya akan menganalisis sesuatu pada kondisi tertentu dan lebih menekankan pada struktur. Tujuan cara
berpikir sinkronik
dalam mempelajari sejarah adalah untuk mengkaji pola-pola, gejala-gejala, dan karakter sebuah peristiwa dalam masa tertentu. Cara berpikir ini memang biasa digunakan dalam ilmu-ilmu sosial.

Ciri-ciri dari cara
berpikir sinkronik
adalah:

1. Mempelajari peristiwa sejarah yang terjadi pada masa tertentu.2. Menitikberatkan kajian peristiwa pada pola-pola, gejala, dan karakter.3. Bersifat horizontal.4. Tidak memiliki konsep perbandingan.5. Jangkauan kajian lebih sempit.6. Memiliki kajian yang sangat sistematis.

7. Kajian bersifat serius dan mendalam.

Contoh Cara Berpikir Sinkronik

Supaya detikers lebih memahami cara berpikir sinkronik, simak contoh yang dikutip dari buku Sejarah Indonesia oleh Windriati, S.Pd., di bawah ini, yuk.

Contoh 1: Keadaan Ekonomi di Indonesia pada 1998

Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk pada 1998, bahkan Presiden Soeharto pun mengundurkan diri dari jabatannya. Pada tahun tersebut, Indonesia memiliki banyak utang perusahaan dan negara yang jatuh tempo di tahun yang sama. Hal ini tentu membuat banyak perusahaan gulung tikar.

Akibatnya, angka pengangguran meningkat dan pendapatan per kapita Indonesia turun drastis dari 1.155 USD per kapita pada 1996 menjadi 610 USD per kapita pada 1998. Selain itu, terjadi pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika hingga Rp 15.000 per dollar Amerika. Hal ini membuat harga barang meningkat pesat dan inflasi semakin tidak terkendali.

Baca Juga :   Aliran Pencak Silat Yang Berasal Dari Bali Yaitu

Contoh 2: Suasana Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Jakarta

Pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa paling penting bagi seluruh masyarakat Indonesia. Peristiwa bersejarah ini terjadi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 yang sekarang menjadi Jalan Proklamasi. Pembacaan Proklamasi dihadiri oleh sekitar 500 orang dari berbagai kalangan dengan membawa apa pun yang bisa dijadikan sebagai senjata.

Meskipun Jepang sudah kalah dari Sekutu, tentara Dai Nippon (Jepang) masih berada di Jakarta. Namun, suasana di Jakarta tetap kondusif. Sebelum dibacakan di kediaman Sukarno, Proklamasi rencananya akan dibacakan di Lapangan Ikada.

Namun, karena takut terjadi pertumpahan darah, lokasi pembacaan akhirnya dipindahkan. Perubahan ini membuat sekitar 100 anggota Barisan Pelopor berjalan kaki dari Lapangan Ikada ke kediaman Sukarno. Akibatnya, meraka datang terlambat dan menuntut pembacaan ulang Proklamai. Namun, Mohammad Hatta menolak tuntutan tersebut dan hanya memberikan amanat singkat.

Dengan demikian, dari dengan cara
berpikir sinkronik
dapat dilihat bahwa kajian yang dipaparkan dalam contoh di atas terbatas dalam waktu, yaitu keadaan ekonomi pada 1998 dan pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945, tetapi meluas pada ruang (suasana, karakter, dan pola).

Dua contoh di atas juga sekaligus menutup pembahasan kita mengenai cara berpikir sinkronik dalam belajar sejarah, nih.

Simak Video “Serba-serbi Sejarah Hari Valentine 14 Februari

(pal/pal)

Ilustrasi berpikir/menimbang. Shutterstock.com


TEMPO.CO
,

Jakarta

– Sesuatu yang dapat melintasi batas waktu disebut diakronik, sedangkan kajian yang lebih menitik beratkan untuk meneliti gejala-gejala yang lebih luas dinamakan sinkronik. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut. Melansir dari repositori.kemdikbud.go.id dalam Modul Sejarah Indonesia Kelas X KD 3.1 dan 4.1 dijelaskan apa itu diakronik dan sinkronik.

Diakronik adalah konsep berpikir secara runtun atau kronologis yang dimaksudkan sebagai catatan terkait peristiwa yang terjadi secara runtun yang berdasarkan pada waktu kejadian tersebut. Sedangkan dalam bahasa Yunani, sinkronik yang berasal dari kata “Syn” yang artinya “Dengan”, dan “Chronoss” yang berarti “Waktu” menekankan kepada struktur dan kerap digunakan untuk meneliti ilmu-ilmu sosial. Sinkronik memiliki makna yang luas di dalam ruang, akan tetapi mempunyai batasan waktu.

Baca Juga :   Pihak yang bertanggung jawab menjaga lingkungan kampung adalah

Diakronik dan sinkronik dapat digunakan untuk mempelajari sejarah atau berpikir sejarah. Dilansir dari sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id diakronik berasal dari dua kata yakni “Dia” dalam bahasa latin berarti “Melalui/Melampaui”, dan “Chronicus” yang artinya “Waktu”. Jadi maksud diakronik ialah memanjangkan waktu namun terbatas akan ruang.

Berpikir sejarah secara diakronik artinya berpikir secara kronologis dalam menganalisis suatu hal. Kronologi sejarah dapat membantu mengurutkan kembali suatu peristiwa berdasarkan susunan waktu yang tepat, serta memudahkan dalam proses perbandingan antara kejadian yang terjadi pada waktu yang sama namun di tempat yang berbeda.

Dengan pendekatan diakronik, sejarah berusaha untuk menganalisis perubahan sesuatu dari masa ke masa yang mungkin dianggap sebagai perubahan yang terjadi sepanjang waktu.

Melalui pendekatan ini, sejarawan akan menganalisis dampak terhadap evolusi dari suatu variabel yang memungkinkan sejarawan untuk melakukan pengendalian alasan lahirnya situasi tertentu dari kondisi sebelumnya, atau alasan dari berkembangnya keadaan tertentu.

Memahami peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dengan menelusuri perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia sejak masa penjajahan Belanda dapat menjadi contoh. Oleh karenanya, berpikir sejarah secara akronisdi sangat mementingkan proses terjadinya sebuah peristiwa.

Adapun berpikir sejarah secara sinkronik ialah dengan berpikir secara luas dalam ruang namun terbatas waktu. Sinkronik menganalisa suatu kejadian pada saat tertentu dengan titik tetapnya ada pada waktu. Sinkronik hanya menganalisis kondisi suatu peristiwa, tidak berupaya untuk membuat kesimpulan terkait perkembangan peristiwa yang ikut serta dalam suatu situasi.

Peristiwa sejarah, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dengan menguraikan aspek sosial, ekonomi, politik, dan hubungan internasional menjadi contoh. Intinya berpikir sejarah secara sinkronik adalah cara berpikir yang khusus untuk ilmu-ilmu sosial.

PUSPITA AMANDA SARI

Baca: Deretan Kota yang Hilang di Dunia Kini Jadi Situs Warisan Sejarah

jelaskan maksud sejarah secara sinkronik

Posted by: pskji.org