Menurut Erikson Ada berapakah tahap perkembangan manusia yang akan dilalui sepanjang rentang kehidupannya?

Menurut Erikson Ada berapakah tahap perkembangan manusia yang akan dilalui sepanjang rentang kehidupannya?

Bukan hanya secara fisik, kepribadian dan karakter manusia pun mengalami perkembangan seiring dengan usianya. Hal ini diyakini oleh seorang ahli bernama Erik Erikson. Kepribadian manusia berkembang dalam serangkaian tahapan.

Erikson menggambarkan dampak pengalaman sosial di seluruh tahapan usia. Ia tertarik pada bagaimana interaksi sosial dan hubungan memainkan peranan dalam pengembangan dan pertumbuhan manusia. Di tiap tahapan perkembangan, dilandasi atas tahapan sebelumnya sebagai pintu gerbang untuk periode perkembangan selanjutnya.

Erikson meyakini, tiap orang mengalami konflik yang berfungsi sebagai titik balik pembangunan karakter. Ada potensi berkembang, ada pula potensi kegagalan. Tahapan ini disebut sebagai tahapan psikososial.

Lima dari delapan tahapan psikososial yang dialami manusia, terjadi dalam rentang usia bayi hingga remaja. Apa sajakah itu? Berikut
Popmama.com
merangkum lima tahapan psikososial anak hingga remaja, dilansir dari verywellmind.com:

1. Tahap #1: Kepercayaan vs Ketidakpercayaan (lahir hingga usia 18 bulan)

Freepik/Freepic.diller

Tahap pertama teori perkembangan psikososial Erikson terjadi antara kelahiran hingga usia satu tahun, dan ini merupakan tahap paling mendasar dalam kehidupan.

Seorang bayi masih sangat tergantung terhadap orang dewasa di sekitarnya. Pada tahapan ini, ia menggantungkan semua yang dibutuhkannya untuk bertahan hidup pada orangtua dan pengasuhnya.

Jika sang Pengasuh memberikan perawatan dan cinta yang memadai, bayi akan percaya bahwa ia aman. Begitu pula sebaliknya.

Tidak ada anak yang akan mengembangkan rasa kepercayaan 100 persen atau keraguan 100 persen.

2. Tahap #2: Otonomi vs Rasa Malu dan Keraguan (usia 2-3 tahun)

bellybelly.com.au

Tahap kedua dari teori psikososial Erikson ini terjadi selama masa kanak-kanak. Tahap ini berfokus pada pengembangan diri anak terhadap kontrol pribadi yang lebih besar.

Pada titik ini, anak mulai belajar mandiri. Mereka melakukan tindakan dasar sendiri dan membuat keputusan sederhana tentang apa yang mereka sukai. Dengan membiarkan mereka membuat pilihan dan mengontrolnya, orangtua dan pengasuh dapat membantu anak mengembangkan otonomi.

Anak yang berhasil melewati tahap ini, akan mengembangkan kepribadian yang percaya diri. Sedangkan mereka yang tidak berhasil, akan merasa tidak mampu dan ragu terhadap dirinya sendiri.

  1. 7 Makanan Ini Bisa Meningkatkan Kualitas Tidur Bayi
  2. Merek Susu Formula yang Baik untuk Pencernaan Bayi
  3. 11 Pilihan Warna Kamar Bayi, Bisa Pengaruhi Karakter si Kecil

3. Tahap #3: Inisiatif vs Rasa Bersalah (usia 3-5 tahun)

toddlerhub.com

Tahap ketiga perkembangan psikososial berlangsung selama tahun-tahun pra sekolah. Pada tahap ini, anak mulai menegaskan kuasa dan kendali mereka atas dunia melalui permainan dan interaksi sosial.

Anak-anak yang sukses pada tahap ini merasa mampu dan mampu memimpin orang lain. Mereka yang gagal mendapatkan keterampilan ini dibiarkan dengan rasa bersalah, keraguan diri, dan kurang inisiatif.

Baca Juga :   Gunung Doi Inthanon Terletak Di Negara

4. Tahap #4: Industri vs Inferioritas (usia 6-11 tahun)

Pixabay/MJ555

Tahap psikososial keempat berlangsung selama tahun-tahun sekolah awal, dari sekitar usia 5 tahun hingga 11 tahun.

Melalui interaksi sosial, anak mulai mengembangkan rasa bangga pada prestasi dan kemampuan mereka. Anak-anak yang didorong dan dipuji oleh orangtua dan guru, merasa berkompetensi dan kepercayaan pada keterampilan yang dimilikinya. Sebaliknya, mereka yang sedikit atau tidak mendapat dorongan dari orangtua, guru, atau teman sebay,a akan meragukan kemampuan mereka sendiri.

Anak yang berhasil menemukan keseimbangan pada tahap perkembangan psikososial ini akan memiliki kompetensi. Mereka merasa yakin akan kemampuan mereka untuk menangani tugas-tugas yang diberikan.

5. Tahap #5: Identitas vs Kebimbangan (usia 12-18 tahun)

Freepik

Tahapan psikososial kelima terjadi selama tahun-tahun remaja yang sering bergejolak. Tahapan ini sangat penting dalam mengembangkan identitas yang akan terus memengaruhi perilaku dan pengembangan diri seseorang sepanjang hidup.

Selama masa remaja, anak mengeksplorasi kemandirian dan rasa memiliki dirinya. Mereka yang menerima dorongan dan penguatan diri yang tepat, akan muncul sebagai pribadi yang kuat dan mampu mengontrol kebebasan yang dimilikinya. Mereka tidak goyah dengan keyakinan dan keinginan dirinya, sehingga mereka tak merasa bingung tentang diri mereka sendiri, saat ini dan masa depan.

Tiap tahap perkembangan psikososial memang penting. Tetapi, Erikson menekankan khusus pada pengembangan identitas ego. Identitas ego adalah kesadaran diri yang dikembangkan melalui interaksi sosial. Identitas ego akan terus berubah karena pengalaman dan informasi baru yang kita peroleh dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain. Karena terus mendapat pengalaman baru tersebut, seorang remaja juga akan menghadapi tantangan yang membantu mengembangkan, atau justru menghambat perkembangan identitas.

Identitas pribadi kita dibentuk oleh pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain, dan identitas inilah yang membantu membimbing tindakan, keyakinan, dan perilaku kita seiring bertambahnya usia.

Tahapan perkembangan psikososial ini masih akan terus berlanjut pada tiga tahapan lainnya, sampai manusia berusia 65 tahun hingga meninggal dunia. Teori Erikson ini tentu memiliki keterbatasan dan kritik. Teori ini dianggap tidak dapat memberikan gambaran detil tentang apa-apa pengalaman yang perlu dilewati seseorang pada tiap tahapannya, agar sukses mengatasi konflik dan bergerak ke tahapan selanjutnya.

Di sisi lain, kekuatan teori ini memberikan gambaran luas untuk melihat perkembangan kepribadian manusia sepanjang hidup. Ini memungkinkan kita memilah mana hubungan sosial yang pengaruh penting terhadap pembangunan kepribadian seseorang.

Semoga informasi ini dapat memberikan pengetahuan baru terhadap perkembangan psikologis anak ya, Ma.

Baca Juga :   Bagaimana Prinsip Dalam Permainan Softball

Baca juga:

  • Bikin Pusing, ini Penyebab Anak Ditolak Lingkungan Sosialnya
  • Keterampilan Sosial yang Wajib Dikuasai Anak Sejak Dini
  • Lika-Liku Kehidupan Sosial Anak Remaja: Dijauhi Teman hingga Bullying

Bagaimana tahap-tahap perkembangan manusia sejak lahir hingga mati?

Banyak teori yang mencoba menjelaskannya. Salah satu teori tentang perkembangan manusia sejak bayi hingga dewasa adalah teori “Perkembangan Sosial Erik Erikson”.

Teori perkembangan sosial
Erik Erikson
membahas perkembangan di seluruh rentang hidup manusia, mulai lahir hingga mati.

Menurut Erik Erikson, ada 8 tahap perkembangan psikososial manusia.

1.
Hope: Trust vs. Mistrust
2.
Will: Autonomy vs. Shame and Doubt
3.
Purpose: Initiative vs. Guilt
4.
Competence: Industry vs. Inferiority
5.
Fidelity: Identity vs. Confusion
6.
Love: ntimacy vs. Isolation
7.
Care: Generativity vs. Stagnation
8.
Wisdom: Integrity vs. Despair

Mari kita bahas satu-persatu.

1. Tahap Membangun Kepercayaan (Trust vs. Mistrust)

Tahap pertama ini terjadi dalam rentang bayi berusia usia 0 – 18 bulan.
Tahap ini sangat kritis dalam perkembangan psikososial anak dan sangat dipengaruhi oleh Ibu dan pengasuh yang menemani anak sehari-hari.

Pada fase ini, anak belajar mengenali apakah dunia sekitar aman dan bisa dipercaya atau tidak.

Ketika orang tua atau pengasuh menanggapi kebutuhan anak dengan cara yang konsisten dan penuh perhatian, anak akan belajar untuk mempercayai dunia dan orang-orang di sekitarnya. Anak merasa aman dan melihat bahwa dunia sekitarnya adalah aman.

2. Tahap Membangun Otonomi (Autonomy vs. Shame & Doubt)

Tahap psikososial kedua berlangsung dalam rentang usia 18 bulan – 3 tahun.

Dalam fase ini, anak memulai mengembangkan otonomi diri, kemampuan melakukan sebuah hal secara mandiri. Proses stimulasi kemandirian seperti toilet training, makan minum sendiri, berpakaian, memilih dan bermain sendiri menjadi stimulasi krusial anak untuk mengembangkan kontrol dirinya.

Jika kemandirian anak dan kontrol dirinya berkembang, anak bisa mengatasi rasa malu dan keraguan akan kemampuannya.

3. Tahap Berinisiatif (Initiative vs. Guilt)

Tahap psikososial ketiga berlangsung dalam rentang usia 3 – 5 tahun.

Dalam fase ini, anak mulai mencoba dan mengembangkan inisiatifnya. Anak banyak bertanya dan mencoba hal-hal baru yang ada di sekitarnya.

Jika pertanyaan dan keingintahuan ini difasilitasi, anak akan mengembangkan kepercayaan diri untuk berinisiatif. Sebaliknya, jika keingintahuan anak diabaikan dan anak sering mendapat larangan/kritikan saat ingin mencoba sesuatu, anak akan merasa bersalah atau inisiatif dan keingintahuannya.

4. Tahap Merasa Mampu (Industry vs. Inferiority)

Tahap perkembangan psikososial anak selanjutnya adalah saat anak mulai masuk usia sekolah: 6 – 11 tahun.

Dalam rentang usia ini, anak-anak mulai berinteraksi dengan temannya di sekolah dan mulai menjalani kegiatan belajar yang lebih formal. Anak mulai mengembangkan rasa bangga, mampu memahami/melakukan, dan mencapai prestasi dengan kemampuan mereka.

Baca Juga :   Melaksanakan Tugas Dan Kewajiban Dengan Baik Merupakan Contoh Sikap

Dalam tahap ini, anak-anak membutuhkan apresiasi, dukungan dan dorongan untuk mengembangkan rasa mampu (kompetensi). Sebaliknya, tantangan anak pada fase ini adalah merasa rendah diri (inferior) karena tidak mampu dan tidak mendapatkan dukungan/apresiasi yang dibutuhkannya.

5. Tahap Membangun Identitas (Identity vs. Confusion)

Tahap perkembangan psikososial ke-5 terjadi saat anak mulai menginjak masa remaja (12 – 18 tahun).

Pada fase ini, anak mulai membangun identitas dirinya. Anak bertanya-tanya dan mencari jawaban untuk pertanyaan: siapa saya? Pada fase membangun identitas pribadi ini, anak remaja mengeksplorasi perilaku, peran, dan identitas yang berbeda.

Para remaja yang menemukan rasa identitas akan merasa aman, mandiri, dan siap menghadapi masa depan, sementara mereka yang tetap bingung mungkin merasa tersesat, tidak aman, dan tidak yakin akan tempat mereka di dunia.

Itulah sebabnya, penting bagi orangtua dan orang dewasa memberikan dukungan yang memberikan anak agar bisa menemukan identitas dirinya dengan nyaman dan aman.

6. Tahap Menjalin Kedekatan (Intimacy vs. Isolation)

Di tahap awal dewasa (19 – 40 tahun), seseorang mulai berada dalam tahap tahap psikososial keenam yang berfokus pada pembentukan hubungan yang intim dan penuh kasih dengan orang lain.

Seseorang mulai mengenal pacaran, melakukan pernikahan, membentuk keluarga, dan membangun persahabatan.

Jika berhasil membangun hubungan cinta dengan orang lain, individu dapat mengalami cinta dan menikmati keintiman. Mereka yang gagal membentuk hubungan yang intim dengan orang lain bisa merasa terisolasi dan sendirian.

7. Tahap Dewasa (Generativity vs. Stagnation)

Tahap dewasa dijalani dalam rentang usia 40 – 65 tahun.

Dalam tahap psikososial berikutnya, tantangan yang dihadapi bergeser menjadi rasa berguna dan bertumbuh. Seseorang membutuhkan tujuan dan berkontribusi yang melampaui individualitasnya.

Membesarkan keluarga, bekerja, dan berkontribusi pada komunitas adalah contoh cara seseorang mengembangkan rasa memiliki tujuan. Mereka yang gagal menemukan cara untuk berkontribusi mungkin merasa terputus dan tidak berguna.

8. Tahap Kematangan (Integrity vs. Despair)

Tahap psikososial terakhir dimulai sekitar usia 65 tahun.

Selama periode waktu ini, individu melihat kembali hidupnya. Pertanyaan utama selama tahap ini adalah, “Apakah saya menjalani kehidupan yang bermakna?”

Mereka yang merasa hidupnya bermakna akan merasakan kedamaian, kebijaksanaan, dan kepuasan, bahkan ketika menghadapi kematian.

Sebaliknya, seseorang yang merasa gagal dan tidak menjalani hidup dengan baik, mereka akan merasakan kepahitan, penyesalan, bahkan perasaan putus asa.

Menurut Erikson Ada berapakah tahap perkembangan manusia yang akan dilalui sepanjang rentang kehidupannya?

Posted by: pskji.org