Sebuah gerakan keagamaan yang menganggap Khalifah Abu Jafar al Mansur sebagai Tuhan adalah

Sebuah gerakan keagamaan yang menganggap Khalifah Abu Jafar al Mansur sebagai Tuhan adalah

Khalifah Abu Ja’far al-Manshur memiliki nama lengkap Abu Ja’farAbd. Allah ibn Muhammad al-Manshur. Dia merupakan khalifah kedua Bani Abbasiyah yang memimpin tahun 709-813 M. Al-Manshur adalah adik dari khalifah pertama yang telah membangun Bani Abbasiyah, yakni khalifah Abu al-Abbas al-Saffah.

Pada masa pemerintahannya, dia telah berhasil mengalahkan pemberontakan kaum Syi’ah. Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah. Setelah mengalahkan pemberontakan dari kelompok Syi’ah.

Baca juga :
Menggelorakan Kembali Peran Khalifah di Bumi Indonesia

Al-Mansur membawa pasukannya untuk meredam tiga ancaman utama, yaitu : dari penduduk Syria, bekas pusat kekuasaan Umayyah, yang masih belum mau menjadi bawahan pusat kekuasaan baru di Baghdad, dari Abu Muslim yang tidak mau membagi kekuasaannya dengan pemerintah pusat, dan dari kelompok Syi’ah serta orang-orang yang kecewa dengan pemerintahan baru.

Ketiga ancaman tersebut satu persatu dapat dilumpuhkan dan dipadamkan sehingga kekuasaan Abbasiyah semakin kkokoh dan luas. Masa al-Mansur ini dapat dikatakan sebagai tahun-tahun perjuangan dan konsolidasi kekuasaan Abbasiyah. Visi politik dan pendekatan pragmatis khalifah al-Mansur sangat berperan dalam menjaga stabilitas pemerintahan. Tulang punggung kekuatan Abbasiyah adalah keluarga besar Bani Abbas.

Baca juga :
Mengambil Butir-butir Keteladanan Khalifah Umar Bin Khattab dari Film Series Omar

Pada masa pemerintahannya, al-Mansur memindahkan ibu kota negara yang mulanya adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah ke kota Baghdad, dekat bekas ibu kkota Persia, Ctesiphon pada tahun 762 M. Pemindahan ini bertujuan untuk memantapkan dan menjaga stabilitas negara Abbasiyah yang baru berdiri.

Dengan demiikian pusat pemerintahan Bani Abbasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru itu, al-Mansur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif.

Di bisang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengankat wazir (perdana menteri) sebagai kokordinator dari kementerian tang ada. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata.. Dia juga meningkatkan peranan jawatan pos yang sudah ada sejak masa Bani Umayyah dengan tambahantugas. J

Baca juga :
Khalifah Spiritual, Khalifah Islam Damai Saat Ini

ika dahulu jawatan pos hanya bertugas untuk mengirim surat, maka pada masa al-Mansur jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan dengan lancar. Para direktur jawatan pos juga bertugas untuk melaporkan tingkah laku gubernur daerah-daerah itu kepada khalifah al-Mansur.

Baca Juga :   Apa saja yang menjadi tujuan dari operasi sistem tenaga listrik?

Page 2

Khalifah Abu Ja’far al-Manshur memiliki nama lengkap Abu Ja’farAbd. Allah ibn Muhammad al-Manshur. Dia merupakan khalifah kedua Bani Abbasiyah yang memimpin tahun 709-813 M. Al-Manshur adalah adik dari khalifah pertama yang telah membangun Bani Abbasiyah, yakni khalifah Abu al-Abbas al-Saffah.

Pada masa pemerintahannya, dia telah berhasil mengalahkan pemberontakan kaum Syi’ah. Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah. Setelah mengalahkan pemberontakan dari kelompok Syi’ah.

Baca juga :
Menggelorakan Kembali Peran Khalifah di Bumi Indonesia

Al-Mansur membawa pasukannya untuk meredam tiga ancaman utama, yaitu : dari penduduk Syria, bekas pusat kekuasaan Umayyah, yang masih belum mau menjadi bawahan pusat kekuasaan baru di Baghdad, dari Abu Muslim yang tidak mau membagi kekuasaannya dengan pemerintah pusat, dan dari kelompok Syi’ah serta orang-orang yang kecewa dengan pemerintahan baru.

Ketiga ancaman tersebut satu persatu dapat dilumpuhkan dan dipadamkan sehingga kekuasaan Abbasiyah semakin kkokoh dan luas. Masa al-Mansur ini dapat dikatakan sebagai tahun-tahun perjuangan dan konsolidasi kekuasaan Abbasiyah. Visi politik dan pendekatan pragmatis khalifah al-Mansur sangat berperan dalam menjaga stabilitas pemerintahan. Tulang punggung kekuatan Abbasiyah adalah keluarga besar Bani Abbas.

Baca juga :
Mengambil Butir-butir Keteladanan Khalifah Umar Bin Khattab dari Film Series Omar

Pada masa pemerintahannya, al-Mansur memindahkan ibu kota negara yang mulanya adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah ke kota Baghdad, dekat bekas ibu kkota Persia, Ctesiphon pada tahun 762 M. Pemindahan ini bertujuan untuk memantapkan dan menjaga stabilitas negara Abbasiyah yang baru berdiri.

Dengan demiikian pusat pemerintahan Bani Abbasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru itu, al-Mansur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif.

Di bisang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengankat wazir (perdana menteri) sebagai kokordinator dari kementerian tang ada. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata.. Dia juga meningkatkan peranan jawatan pos yang sudah ada sejak masa Bani Umayyah dengan tambahantugas. J

Baca juga :
Khalifah Spiritual, Khalifah Islam Damai Saat Ini

ika dahulu jawatan pos hanya bertugas untuk mengirim surat, maka pada masa al-Mansur jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan dengan lancar. Para direktur jawatan pos juga bertugas untuk melaporkan tingkah laku gubernur daerah-daerah itu kepada khalifah al-Mansur.

Lihat Sosbud Selengkapnya


Page 3

Khalifah Abu Ja’far al-Manshur memiliki nama lengkap Abu Ja’farAbd. Allah ibn Muhammad al-Manshur. Dia merupakan khalifah kedua Bani Abbasiyah yang memimpin tahun 709-813 M. Al-Manshur adalah adik dari khalifah pertama yang telah membangun Bani Abbasiyah, yakni khalifah Abu al-Abbas al-Saffah.

Baca Juga :   Ciri-ciri makhluk hidup kelas 3 tema 1

Pada masa pemerintahannya, dia telah berhasil mengalahkan pemberontakan kaum Syi’ah. Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah. Setelah mengalahkan pemberontakan dari kelompok Syi’ah.

Baca juga :
Menggelorakan Kembali Peran Khalifah di Bumi Indonesia

Al-Mansur membawa pasukannya untuk meredam tiga ancaman utama, yaitu : dari penduduk Syria, bekas pusat kekuasaan Umayyah, yang masih belum mau menjadi bawahan pusat kekuasaan baru di Baghdad, dari Abu Muslim yang tidak mau membagi kekuasaannya dengan pemerintah pusat, dan dari kelompok Syi’ah serta orang-orang yang kecewa dengan pemerintahan baru.

Ketiga ancaman tersebut satu persatu dapat dilumpuhkan dan dipadamkan sehingga kekuasaan Abbasiyah semakin kkokoh dan luas. Masa al-Mansur ini dapat dikatakan sebagai tahun-tahun perjuangan dan konsolidasi kekuasaan Abbasiyah. Visi politik dan pendekatan pragmatis khalifah al-Mansur sangat berperan dalam menjaga stabilitas pemerintahan. Tulang punggung kekuatan Abbasiyah adalah keluarga besar Bani Abbas.

Baca juga :
Mengambil Butir-butir Keteladanan Khalifah Umar Bin Khattab dari Film Series Omar

Pada masa pemerintahannya, al-Mansur memindahkan ibu kota negara yang mulanya adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah ke kota Baghdad, dekat bekas ibu kkota Persia, Ctesiphon pada tahun 762 M. Pemindahan ini bertujuan untuk memantapkan dan menjaga stabilitas negara Abbasiyah yang baru berdiri.

Dengan demiikian pusat pemerintahan Bani Abbasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru itu, al-Mansur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif.

Di bisang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengankat wazir (perdana menteri) sebagai kokordinator dari kementerian tang ada. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata.. Dia juga meningkatkan peranan jawatan pos yang sudah ada sejak masa Bani Umayyah dengan tambahantugas. J

Baca juga :
Khalifah Spiritual, Khalifah Islam Damai Saat Ini

ika dahulu jawatan pos hanya bertugas untuk mengirim surat, maka pada masa al-Mansur jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan dengan lancar. Para direktur jawatan pos juga bertugas untuk melaporkan tingkah laku gubernur daerah-daerah itu kepada khalifah al-Mansur.

Lihat Sosbud Selengkapnya


Page 4

Khalifah Abu Ja’far al-Manshur memiliki nama lengkap Abu Ja’farAbd. Allah ibn Muhammad al-Manshur. Dia merupakan khalifah kedua Bani Abbasiyah yang memimpin tahun 709-813 M. Al-Manshur adalah adik dari khalifah pertama yang telah membangun Bani Abbasiyah, yakni khalifah Abu al-Abbas al-Saffah.

Baca Juga :   Tentukan Empat Kelipatan Pertama Dari Bilangan 6

Pada masa pemerintahannya, dia telah berhasil mengalahkan pemberontakan kaum Syi’ah. Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah. Setelah mengalahkan pemberontakan dari kelompok Syi’ah.

Baca juga :
Menggelorakan Kembali Peran Khalifah di Bumi Indonesia

Al-Mansur membawa pasukannya untuk meredam tiga ancaman utama, yaitu : dari penduduk Syria, bekas pusat kekuasaan Umayyah, yang masih belum mau menjadi bawahan pusat kekuasaan baru di Baghdad, dari Abu Muslim yang tidak mau membagi kekuasaannya dengan pemerintah pusat, dan dari kelompok Syi’ah serta orang-orang yang kecewa dengan pemerintahan baru.

Ketiga ancaman tersebut satu persatu dapat dilumpuhkan dan dipadamkan sehingga kekuasaan Abbasiyah semakin kkokoh dan luas. Masa al-Mansur ini dapat dikatakan sebagai tahun-tahun perjuangan dan konsolidasi kekuasaan Abbasiyah. Visi politik dan pendekatan pragmatis khalifah al-Mansur sangat berperan dalam menjaga stabilitas pemerintahan. Tulang punggung kekuatan Abbasiyah adalah keluarga besar Bani Abbas.

Baca juga :
Mengambil Butir-butir Keteladanan Khalifah Umar Bin Khattab dari Film Series Omar

Pada masa pemerintahannya, al-Mansur memindahkan ibu kota negara yang mulanya adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah ke kota Baghdad, dekat bekas ibu kkota Persia, Ctesiphon pada tahun 762 M. Pemindahan ini bertujuan untuk memantapkan dan menjaga stabilitas negara Abbasiyah yang baru berdiri.

Dengan demiikian pusat pemerintahan Bani Abbasiyah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru itu, al-Mansur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif.

Di bisang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengankat wazir (perdana menteri) sebagai kokordinator dari kementerian tang ada. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata.. Dia juga meningkatkan peranan jawatan pos yang sudah ada sejak masa Bani Umayyah dengan tambahantugas. J

Baca juga :
Khalifah Spiritual, Khalifah Islam Damai Saat Ini

ika dahulu jawatan pos hanya bertugas untuk mengirim surat, maka pada masa al-Mansur jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan dengan lancar. Para direktur jawatan pos juga bertugas untuk melaporkan tingkah laku gubernur daerah-daerah itu kepada khalifah al-Mansur.

Lihat Sosbud Selengkapnya

Sebuah gerakan keagamaan yang menganggap Khalifah Abu Jafar al Mansur sebagai Tuhan adalah

Posted by: pskji.org