Mengapa penerapan manajemen risiko perbankan di indonesia tidak mudah untuk dilakukan

Mengapa penerapan manajemen risiko perbankan di indonesia tidak mudah untuk dilakukan


Oleh:

19
Bank Berikan Keringanan Kredit Akibat Pandemik Covid

Industri perbankan tak luput dari pengaruh pandemi Covid-19. Beragam risiko hadir, salah satunya risiko kredit. Terdapat tekanan yang cukup tinggi terhadap proses intermediasi perbankan ke depan.

Hal itu antara lain potensi naik tajamnya kegiatan restrukturisasi kredit serta menyempitnya risk-appetite, sehingga penyaluran kredit akan menjadi sangat selektif. Kondisi ini berakibat pada mengecilnya jumlah kredit yang dibukukan.

Pertumbuhan kredit yang masih terlihat di Januari hingga Februari 2020 diperkirakan turun signifikan pada kuartal II/2020 sejalan dengan penurunan tajam dalam aktivitas ekonomi dan produksi di Tanah Air.

Menyikapi hal ini, perbankan perlu terus berbenah, berusaha untuk tidak panik. Saat ini adalah masa yang penuh tantangan, dan ketahanan perbankan dalam menghadapi perubahan sedang diuji. Apabila berhasil melewati tantangan ini, bukan tak mungkin kita dapat menyelesaikan tantangan lainnya dengan baik. Sebelum sampai ke sana, kita semua tentu bertanya, bagaimana caranya untuk tetap bertahan dalam kondisi pandemi?

Salah satu komponen penting yang harus dilakukan adalah manajemen risiko secara berkelanjutan, termasuk risiko kredit yang saat ini menjadi hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Risiko yang dikelola dengan baik dapat membantu perbankan untuk lebih ‘tahan banting’ dan menjaga performanya.

Ada tiga prinsip dalam portfolio management risiko kredit yang harus diperhatikan, yaitu menentukan risk appetite yang selaras dengan strategi bisnis, target dan key performance indicator (KPI), melakukan pengawasan dan monitoring serta mengambil langkah intervensi jika diperlukan. Ketiga hal tersebut harus aktif dilakukan agar bank dapat memastikan kinerja berjalan sesuai risk appetite yang telah ditentukan.

Di CIMB Niaga, kami mengelola portofolio kredit dengan mengubah sejumlah pendekatan. Pertama, dari sisi new booking. Kami selalu menyesuaikan kebijakan dengan situasi yang terkini.

Kedua, untuk menjaga kualitas aset, hal yang penting dilakukan adalah selalu melakukan pengawasan dan monitoring terhadap kinerja portofolio. Sesuai dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan, kami juga memberikan stimulus atau relaksasi yang kerangka dan implementasinya terus disesuaikan.

Baca Juga :   Nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa rengasdengklok yaitu

Selain itu kami juga memperketat parameter yang digunakan dalam early alert, memastikan kapasitas collection, dan melakukan review secara berkala atau bahkan jika diperlukan secara harian terkait dengan Days Past Due dari kredit yang disalurkan. Hal itu kami terapkan untuk semua portofolio, baik ritel maupun nonritel. Monitoring secara ketat diperlukan untuk memastikan kita dapat secepatnya mengambil tindakan jika diperlukan.

Ketiga, dari sisi portfolio management, kami melakukan stress test yang menyeluruh, yaitu terhadap potensi kerugian kredit, likuiditas, capital, dan profitabilitas. Untuk nonretail, kami juga melakukan analisa terhadap dampak kurs rupiah yang terus bergerak. Adapun untuk segmen ritel kami melakukan berbagai macam review terhadap strategi portofolio, termasuk di dalamnya adalah penggunaan scorecard.

Tak kalah pentingnya, legal document review terutama untuk debitur restrukturisasi atau yang mengajukan fasilitas stimulus juga harus dilakukan untuk meminimalisasi potensi resiko bank.

Masih dalam kaitan portfolio management, kami juga melakukan cukup banyak literasi terhadap portofolio yang kami pandang beresiko tinggi (vulnerable segment). Di sisi nonritel misalnya, kami menganalisis semua sektor yang rentan seperti perhotelan, restoran hingga minyak dan gas bumi. Dari situ, dapat diketahui action apa yang bisa dilakukan.

Keempat, dari sisi infrastruktur, kami juga terus menyiapkan dan membangun infrastruktur digital untuk melayani nasabah. Dalam kondisi yang terbatas, nasabah bisa mengajukan stimulus menggunakan digital channel tanpa harus datang ke kantor cabang.

Inilah yang menjadi key differentiating factor CIMB Niaga, yaitu kemampuan dalam mengelola portofolio serta melakukan interaksi dengan nasabah secara digital, sehingga pelayanan terhadap nasabah tetap menjadi prioritas pada masa yang penuh tantangan saat ini, termasuk dalam hal proses pemberian stimulus.

Tentu tidak mudah menghadapi berbagai perubahan saat ini. Di sisi lain, kondisi ini justru menjadi kesempatan bagi perbankan untuk saling berbagi dan bekerjasama membantu nasabah. Salah satunya dengan memberikan stimulus. Dengan kerja sama tersebut, harapannya bank dan nasabah bisa menjawab tantangan saat ini untuk mempertahankan kelangsungan bisnis ke depannya.

Bagi perbankan, sekarang adalah saatnya untuk mengubah cara bekerja dan menyesuaikan diri. Perbankan harus agile, bisa mengambil keputusan dengan cepat, lebih fleksibel dan pandai beradaptasi dengan dinamika perubahan yang sangat cepat.

Baca Juga :   Yang sebangun dengan karton yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 16 cm 24 cm adalah

Kami mampu merespon tuntutan ini dengan memanfaatkan kekuatan teknologi dan infrastruktur yang sudah dibentuk dalam beberapa tahun terakhir. Tentu hal itu dilakukan tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian yang menjadi pondasi dasar perbankan.

Dengan menjalankan hal tersebut, kami optimistis mampu keluar dari kondisi ini dengan baik dan menjadi perusahaan yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Bank merupakan lembaga keuangan yang memiliki peranan penting dalam memajukan perekonomian suatu negara, termasuk juga di Indonesia. Hal ini terjadi karena bank memiliki fungsi utama, yakni menghimpun dana dari masyarakat, kemudian menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Pentingnya peranan bank ini, tentunya membuat siapa saja yang melakukan kerjasama apapun kepada bank mengetahui bagaimana sistem manajemen risiko bank. Bank yang baik akan menjalankan berbagai fungsinya secara baik, dan dapat memelihara kepercayaan masyarakat secara baik.

Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah suatu pendekatan secara terstruktur dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman, suatu rangkaian aktifitas manusia, termasuk juga penilaian resiko, pengembangan strategi untuk pengelolaannya, serta mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan atau pengelolaan sumberdaya. Manajemen risiko dalam kegiatan operasional bank meliputi identifikasi risiko, pengukuran dan penilaian, beserta bagaimana cara meminimalkan efek negative atau risiko yang didapat dari hasil keuangan dan modal bank.

Untuk melakukan manajemen risiko, suatu bank wajib memiliki suatu unit organisasi khusus. Hal ini dilakukan untuk menekan kemungkinan terjadinya resiko pasar meliputi resiko suku bunga, resiko valuta asing, resiko perubahan harga pasar sekuritas, derivative keuangan dan komoditas. Selain itu, unit organisasi dibentuk juga untuk menekan kemungkinan terjadinya resiko kredit, resiko likuiditas, resiko eksposur, resiko investasi, dan masih banyak lainnya. Berbagai resiko tersebut, terjadi karena banyak factor. Oleh sebab itu cara penanganannya pun disesuaikan dengan masing-masing jenis resiko yang dialami.

Untuk meminimalisir resiko-resiko tersebut terjadi, maka suatu bank harus memiliki keahlian dan kompetensi yang memadai, sehingga segala bentuk permasalahan yang muncul dapat diatasi dengan mudah. Pedoman Standart Penerapan Manajemen Risiko Bank Umum :

Baca Juga :   Penyebab penyakit flu burung dipelajari dalam cabang biologi

1. Penerapan Manajemen Risiko Secara Umum

Penerapan manajemen risiko secara umum mencakup beberapa pengawasan aktif meliputi dewan komisaris dan direksi, kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit, kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, serta pengendalian resiko.

2. Penerapan Manajemen Risiko Untuk Masing-Masing Risiko

Penerapan manajemen risiko untuk masing-masing risiko mencakup bagaimana penerapan manajemen dilakukan pada masing-masing risiko, yakni meliputi risiko kredit, risiko pasar, risiko lukuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategi, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi. Kedelapan risiko ini harus benar-benar memiliki manajemen yang baik sehingga mengurangi kemungkinan adanya hal-hal yang bisa merugikan bank.

3. Penilaian Profil Resiko

Penilaian profil resiko mencakup penilaian terhadap risiko inheren dan penilaian terhadap kualitas penerapan manajemen risiko yang mencerminkan pengendalian risiko, baik digunakan oleh bank secara individual maupun bank secara konsolidasi. Penilaian tersebut juga dilakukan terhadap 8 resiko, yakni risiko kredit, risiko pasar, risiko lukuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategi, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi. Untuk menerapkan penilaian profil resiko, bank harus mengacu pada ketetapan yang telah dibuat oleh Bank Indonesia, yakni mengenai penilaian tingkan kesehatan bank umum.

Setiap nasabah pasti menginginkan untuk bisa bekerja sama dengan baik terhadap bank. Oleh sebab itu, bank pun harus pula memberikan pelayanan yang baik kepada nasabah. Tentunya dengan adanya manajemen resiko ini diharapkan segala permasalahan terhadap bank dapat diselesaikan dengan baik, sehingga tidak merugikan nasabah. Hal inilah mengapa manajemen risiko bank sangat perlu diterapkan. Jika manajemen sudah berjalan dengan baik, kepercayaan nasabah pun pasti juga akan meningkat. Jika sudah begini, operasional bank dalam melayani masyarakan kan berjalan dengan lancar. Demikian tadi, sedikit informasi menganai manajemen risiko bank. Semoga informasi ini dapat memberikan pembelajaran baru, terutama bagi anda yang belum mengetahui apa itu manajemen risiko.

Source : google.com ( www.carajadikaya.com/manajemen-risiko-di-bank )

Mengapa penerapan manajemen risiko perbankan di indonesia tidak mudah untuk dilakukan

Posted by: pskji.org