Apa perbedaan penggunaan peta dan penginderaan jauh untuk kajian transportasi darat dan laut

Apa perbedaan penggunaan peta dan penginderaan jauh untuk kajian transportasi darat dan laut

Penginderaan jarak jauh atau dalam bahasa Inggris disebut dengan remote sensing merupakan suatu metode dalam mengetahui dan memperoleh informasi atau data seakurat mungkin tentang suatu obyek atau wilayah tanpa harus melakukan survei fisik di lapangan atau berkontak langsung dengan obyek tertentu yang dimaksud. Bidang ini dipelajari dalam cabang-cabang ilmu geografi, terutama pada cabang ilmu Geografi Teknik yang bertujuan salah satunya untuk mengetahui atau mengkaji bumi beserta isinya, seperti letak atau posisi suatu wilayah.

Pada tampilan bumi yang sebenarnya kondisi atau posisi suatu pedesaan dan perkotaan memiliki wujud topografi yang berbeda dan rumit dengan dimensi yang heterogen, mulai dari struktur bangunan, sistem jaringan jalan serta transportasinya, dan luas lahan yang ada. Dengan demikian, penginderaan jarak jauh mengatasi permasalahan yang terkait dengan ruang wilayah dan bagaimana metode atau cara mengaturnya tanpa harus melakukan kontak langsung dengan wilayah atau ruang tersebut karena keterbatasan akses atau tidak memungkinkannya untuk melakukan survei secara nyata di lapangan.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam pemetaan dan pengaturan ruang wilayah telah mengubah paradigma visualisasi bentuk-bentuk permukaan bumi daratan dan perairan yang selama ini tidak dapat diwujudkan. Lebih detail, penginderaan jarak jauh dapat mempergunakan beberapa media, baik yang konvensional maupun mutakhir. Media ini meliputi penggunaan:

  • Teropong
  • Pesawat terbang
  • Balon udara
  • Drone (pesawat nirawak)
  • Satelit

Sedangkan, sumber data penginderaan jarak jauh dapat diperoleh dari pantulan radiasi sinar matahari atau citra satelit. Pemerolehan data penginderaan jarak jauh dengan mempergunakan sinar matahari dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Radiasi sinar matahari yang masuk ke bumi mengenai suatu obyek
  • Dari obyek tersebut, sinar dipantulkan dan direkam oleh alat sensor dan jika obyek tersebut memiliki suhu di atas 0 derajat Kelvin akan memancarkan tenaga panas yang direkam dengan sensor panas
  • Gasil dari pantulan tenaga panas dari obyek tadi menghasilkan data untuk penginderaan jarak jauh, baik berupa data digital maupun citra.

Sedangkan pada pemerolehan data dengan pesawat terbang atau satelit, data penginderaan jarak jauh dapat diperoleh dengan melakukan pemotretan atau penangkapan visual suatu obyek dengan menggunakan kamera yang kemudian data rekaman visualisasi tersebut diinterpretasikan.Interpretasi data penginderaan jarak jauh dapat dianalisa dengan cara:

  • Analisis monokuler, yaitu analisis citra dengan menggunakan mata telanjang, meja sinar dan kaca pembesar;
  • Analisis stereoskopik, yaitu analisis dengan menggunakan alat stereoskop dimana alat ini akan menampilkan citra 3 dimensi
  • Analisis digital, yaitu analisis citra dengan menggunakan sistem software komputer. Data penginderaaan jarak jauh meliputi beberapa unsur diantaranya adalah skala, bentuk, ukuran, pola, warna (rona), bayangan, situs (letak wilayah), tekstur, dan asosiasi.

Dari pemaparan di atas, penginderaan jarak jauh (remote sensing) berperan sangat besar, salah satunya, dalam mengatur sistem transportasi dan merupakan data yang sangat penting dalam membuat suatu kebijakan dalam bidang transportasi. Permasalahan transportasi dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan yang sangat signifikan karena berkaitan dengan perkembangan populasi penduduk, mobilitas, dan tata ruang lahan dan jalan yang semakin berkembang secara dinamis.

Selain itu, permasalahan tersebut diperberat dengan bertambahnya produksi kendaraan bermotor dan konsumsi terhadapnya. Dari masalah ini, maka pengaturan sistem transportasi yang baik dan berkelanjutan sangat diperlukan oleh para pemangku kebijakan. Salah satunya dengan menggunakan penginderaan jarak jauh dalam mengatur bidang transportasi darat. Menurut beberapa ahli manfaat penginderaan jauh dalam bidang transportasi darat adalah sebagai berikut:

  1. Data observasi dengan menggunakan sistem penginderaan jarak jauh tidak menganggu aktifitas transportasi;
  2. Dapat menjangkau lokasi atau tempat yang tidak memungkinkan secara fisik untuk memetakan pembukaan jalur transportasi baru dan menghemat dana;
  3. Penggunaan dana dalam memperbaiki tingkat ketelitian (spasial dan spectral) dapat diminimalisir;
  4. Merencanakan konektifitas dan aksesbilitas pada suatu sistem transportasi yang menghubungkan daerah terpencil dengan daerah perkotaan;
  5. Memprediksikan pengembangan wilayah dengan penentuan sistem transportasinya;
  6. Mengetahui kondisi jalan yang ada, baik kondisi jalan propinsi, daerah, dan nasional;
  7. Penentuan zonanisasi (zoning) transportasi;
  8. Membuat pemodelan transportasi yang diinginkan bagi pembuat kebijakan transportasi;
  9. Memprediksikan laju pertumbuhan transportasi dari tahun ke tahun;
  10. Memantau tata guna lahan terkait dengan jalur transportasi; dan
  11. Mengetahui struktur dan letak jalan.

Dari beberapa manfaat penginderaan jauh dalam bidang transportasi darat tersebut diatas, pada umumnya proses perencanaan sistem transportasi menggunakan 4 model tahapan, yang terdiri dari:

  • Model bangkitan perjalanan
  • Model sebaran pergerakan
  • Model pemilihan moda transportasi
  • Model pemilihan rute

Jadi, penginderaan jarak jauh sangat berperan penting di era sekarang ini dalam menghadapi permasalahan transportasi yang tidak pernah ada habisnya. Hal ini dikarenakan penginderaan jarak jauh (remote sensing) telah memudahkan dalam mengetahui dan menentukan suatu lokasi yang dilalui jalur transportasi tanpa harus melakukan pengamatan secara fisik pada lokasi tersebut.

Selain itu pembukaan sistem transportasi yang terintegrasi dapat dilakukan dengan mudah dengan hanya membuat tampilan model 3 dimensi dari data penginderaan jarak jauh tersebut dan dapat menghasilkan suatu rekomendasi yang berharga bagi para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan dalam membuat suatu regulasi yang bermanfaat dan berguna bagi sistem transportasi ke depannya.




Pemanfaatan Peta, Penginderaan Jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG)






Kompetensi Dasar



3.3 Menganalisis jaringan trasnportasi dan tata guna lahan dengan peta dan/atau citra penginderaan jauh serta Sistem Informasi Geografis (SIG) kaitannya dengan pengembangan potensi wilayah dan kesehatan lingkungan.



4.3 Menyajikan peta tematik berdasarkan pengolahan citra penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pengembangan potensi wilayah dan kesehatan lingkungan


KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 PEMANFAATAN PETA UNTUK JARINGAN TRANSPORTASI









A. Tujuan Pembelajaran





Setelah kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan kalian mampu memahami konsep



dan perencanaan transportasi dengan baik




B. Uraian Materi





1. Konsep Transportasi





a. Pengertian Jaringan Transportasi



Istilah transportasi berasal dari kaat berasal dari bahasa Latin, yaitu



yaitu transportare, terdiri atas kata trans yang berarti seberang atau sebelah



lain dan kata portare yang berarti mengangkut atau membawa.




Jaringan





transportasi
adalah serangkaian simpul dan ruang kegiatan atau kawasan



yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu



kesatuan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas.









Beberapa pengertian transportasi yaitu sebagai berikut:






1) Papacostas (1987)

mengatakan bahwa transportasi adalah suatu sistem



yang terdiri dari fasilitas tertentu berdasarkan arus dan sistem kontrol



yang memungkinkan orang atau barang dapat berpindah dari suatu



tempat ke tempat lain secara efisien dalam setiap waktu untuk



mendukung aktivitas manusia.









2) Morlok (1978)

mendefinisikan transportasi sebagai “suatu tindakan,



proses, atau hal yang sedang dipindahkan dari suatu tempat ketempat



lainnya.”





3) Warpani (2002)

mengatakan bahwa transportasi atau perangkutan



adalah kegiatan perpindahan orang dan barang dari satu tempat (asal) ke



tempat lain (tujuan) dengan menggunakan sarana (kendaraan).

Baca Juga :   Sebutkan definisi tari kreasi baru dari 4 tokoh tari di Indonesia dan berilah contohnya






Jaringan transportasi adalah suatu sistem untuk memindahkan orang



atau barang dari suatu tempat ke tempat lain, yang terdiri dari beberapa



komponen yang saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain.







Beberapa komponen dalam sistem transportasi antara lain:






1) Benda yang digerakkan (manusia dan barang)





Sistem transportasi adalah suatu produk sistem perjalanan dari tempat



asal ke tempat tujuan. Manusia dan barang menjadi objek pengangkutan



yang diangkut menggunakan sarana transportasi.





2) Sarana transportasi





Sarana transportasi adalah alat perhubungan bagi masyarakat dalam



memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup masyarakat



diaplikasikan dalam berbagai kegiatan, misalnya kegiatan perdagangan,


perindustrian, pertanian, dan sebagainya.





3) Prasarana transportasi





Prasarana transportasi merupakan segala sesuatu yang menjadi



penunjang utama terselenggaranya suatu proses pemindahan benda.





Prasarana transportasi diantaranya terdiri dari jalan, terminal, dan



sebagainya.








b. Pengelompokan Jalan Menurut Sistem, Fungsi dan Status







1) Pengelompokan Jalan Menurut Sistem





Sistem jaringan jalan terdiri atas sistem jaringan jalan primer dan



sistem jaringan jalan sekunder.




a) Sistem jaringan jalam primer




Sistem jaringan jalan primer merupakan sistem jaringan jalan



dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk



mengembangkan semua wilayah di tingkat nasional.




b) Sistem jaringan jalan sekunder




Sistem jaringan jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan



dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk



masyarakat di dalam kawasan perkotaan.








2) Pengelompokan Jalan Menurut Fungsi





Jalan umum menurut fungsinya dikelompokkan menjadi empat, yaitu:




a) Jalan arteri




Jalan arteri merupakan jalan umum yang berfungsi melayani



angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.




b) Jalan kolektor




Jalan kolektor merupakan jalan umum yang berfungsi melayani



angkutan pengumpulan atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak



sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi.




c) Jalan lokal




Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani



angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan



rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.








d) Jalan lingkungan




Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani



angkutan lingkungan denga ciri perjalanan jarak dekat, dan



kecepatan rata-rata rendah.








3) Pengelompokan Jalan Menurut Status





Status jalan adalah pengelompokan jalan berdasarkan administrasi



pemerintahan. Tujuan pengelompokan ialah agar jalan memiliki



kepastian hukum dan di bawah wewenang yang jelas. Jalan umum



menurut statusnya dikelompokkan ke dalam:




a) Jalan Nasional




Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam



sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antar ibu kota



provinsi dan jalan strategis nasional dengan jalan tol.




b) Jalan Provinsi




Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan



primer yang menghubungkan jalan ibukota provinsi dengan ibukota



kabupaten atau kota, serta antar ibukota kabupaten atau kota



dengan jalan strategis provinsi.




c) Jalan Kabupaten




Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan



primer yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota



kecamatan, antar ibukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan



pusat kegiatan lokal, antar pusat kegiatan lokal, serta jalan umum



dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan



jalan strategis kabupaten.




d) Jalan Kota




Jalan kota adalah jalan umum daalm sistem jaringan jalan sekunder



yang menghubungkan antar pusat pelayanan dalam kota,



menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, memghubungkan



antar persil, serta menghubungkan antar pusat permukiman yang



berada di dalam kota.




e) Jalan Desa




Jalan desa adalah jalan umum yang menghubungkan kawasan



dan/atau antar permukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.








c. Parameter Utama dalam Penentuan Jaringan Transportasi










Ada dua faktor yang menjadi parameter utama dalam penentuan jaringan



transportasi, yaitu:




1) Aksesibilitas




Konsep dasar dari interaksi atau hubungan antara tata guna



lahan dan transportasi adalah aksesibilitas (Peter, 1975:307).



Aksesibilitas adalah konsep yang menggabungkan sistem pengaturan



tata guna lahan secara geografis dengan sistem jaringan transportasi



yang menghubungkannya.


Aksesibilitas adalah suatu ukuran



kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan



berinteraksi satu sama lain dan ‘’mudah’’ atau ‘’susahnya’’ lokasi



tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi (Black dalam



Tamin, 2000:32).


Gerak manusia kota dalam kegiatannya adalah dari



rumah ke tempat bekerja, ke sekolah, ke pasar, ke toko, ke tempat



hiburan, kemudahan bagi penduduk untuk menjembatani jarak antara



berbagai pusat kegiatan disebut tingkatan daya jangkau atau



aksesibilitas (Jayadinata, 1992:156).







Interaksi seperti dikemukakan tersebut menunjukan bahwa



pekerjanya sistem interaksi tata guna lahan dan transportasi sangat



dinamis dan melibatkan unsur-unsur lain sebagai pembentuk watak



setiap komponen seperti pada komponen tata guna lahan terliput



adanya unsur kependudukan, sosial ekonomi, ekonomi wilayah, harga



lahan dan sebagainya.


Selain itu komponen sistem transportasi terliput



adanya unsur kemajuan teknologi, keterbatasan sistem jaringan , sistem



operasi dan lain sebagainya.


Implikasi dari perubahan atau



perkembangan sistem aktivitas adalah meningkatkan kebutuhan



prasarana dan sarana dalam bentuk pemenuhan kebutuhan



aksesibilitas, peningkatan aksesibilitas ini selanjutnya akan memicu



berbagai perubahan tata guna lahan.


Proses perubahan yang saling



mempengaruhi ini akan berlangsung secara dinamis.


Apabila tata guna lahan saling berdekatan dan jaringan



transportasi antar tata guna lahan tersebut mempunyai kondisi baik,



maka aksesibilitas tinggi, sebaiknya, jika aktivitas tersebut saling



terpisah jauh, dan hubungan transportasi jelek, maka aksesibilitas



rendah. Sedangkan kombinasi antar keduanya mempunyai aksesibilitas



menengah.



2) Bangkitan dan pergerakan




Bangkitan pergerakan adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan



jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan dan



jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona.



Pergerakan lalu-lintas merupakan fungsi tata guna lahan yang



menghasilkan pergerakan lalu-lintas.



Bangkitan dan tarikan tergantung



pada dua aspek tata tata guna lahan menurut (Tamin, 2000:41), yaitu :




a. Maksud perjalanan, merupakan ciri khas sosial suatu pejalanan.



Misalnya ada yang bekerja, sekolah, dan sebagainya.



b. Jarak dari Pusat Kegiatan, yang berkaitan dengan kepadatan



penduduk dan pemilihan moda.



c. Peruntukan penggunaan lahan, adalah ciri khas alami yang dapat



dijadikan parameter dalam menentukan perencanaan jaringan



transportasi.



d. Pemilihan moda perjalanan, merupakan sisi lain dari maksud



perjalanan yang dapat digunakan untuk mengelompokan macam



perjalanan.

Baca Juga :   Jelaskan 4 cara terpadu pengembangan sosial emosional pada anak tk


Setiap moda mempunyai kekhususan dalam transportasi



kota dan mempunyai beberapa keuntungan disamping sejumlah



kekurangan.









2. Perencanaan Transportasi







a. Konsep Perencanaan Transportasi





Perencanaan transportasi adalah suatu perencanaan kebutuhan



prasarana transportasi seperti jalan, terminal, pelabuhan, pengaturan serta



sarana untuk mendukung sistem transportasi yang efisien, aman dan lancar



serta berwawasan lingkungan.


Permasalahan dalam perencanaan



transportasi yaitu pada sifat tansportasi yang lebih sebagai suatu sistem



dengan pola interaksi yang kompleks, sehingga perencanaan transportasi



dapat menjadi suatu kegiatan yang rumit dan memakan waktu, serta usaha



dan sumber daya yang besar.


Oleh karena itu dalam perencanaan



transportasi dilakukan pembatasan-pembatasan terhadap tingkat maupun



lingkup analisisnya, sehingga hasil perencanaan transportasi lebih bersifat



indikatif dibandingkan sifat kepastiannya.


Perencanaan transportasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk



merencanakan dan memprediksi kebutuhan tansportasi di masa yang akan



datang. Data yang dibutuhkan dalam perencanaan transportasi meliputi



data kependudukan (demografi), penggunaan lahan, kondisi ekonomi dan



data kebutuhan perjalanan (demand travel).


Data ini digunakan untuk



anlisis pola mobilitas penduduk. Selain itu ada yang digunakan dalam kajian



transportasi yaitu lokasi pekerjaan, waktu yang diperlukan untuk tiba di



lokasi pekerjaan, kepemilikan kendaraan, dan jenis kendaraan digunakan.



Terdapat beberapa konsep perencanaa transportasi yang telah



berkembang sampai saat ini, yang paling populer adalah “Model



Perencanaan Transportasi Empat Tahap”.


Menurut Tamin (2000), model



perencanaan ini merupakan gabungan dari beberapa seri submodel yang



masing-masing harus dilakukan secara terpisah dan berurutan.



Adapun keempat dari submodel tersebut yaitu sebagai berikut









a) Pemodelan bangkitan dan tarikan pergerakan (Trip Generation and Trip



Atraction)




Tahap bangkitan dan tarikan pergerakan bertujuan



memperkirakan jumlah pergerakan yang akan dilakukan pada setiap



tempat asal (i) ke tempat tujuan (j) misalnya anak sekolah yang pergi ke



sekolah.


Data atau informasi yang digunakan dalam penentuan bangkitan



dan tarikan pergerakan, yaitu penggunaan lahan, penduduk, dan kondisi



sosial ekonomi.



Jumlah bangkitan dan tarikan pergerakan merupakan informasi



yang sangat penting dalam memperkirakan pegerakan antarwilayah.



Pergerakan antarwilayah juga sangat dipengaruhi oleh tingkat



aksesibilitas sistem jaringan jalan antar wilayah tersebut.













b) Pemodelan sebaran/distribusi pergerakan (Trip Distribution)


Tahap distribusi pergerakan merupakan interaksi antar



penggunaan  lahan, angan transportasi, dan arus lalu lintas. Pola



distribusi (sebaran) arus lalulintas antara tempat asal (i) ke tempat



tujuan (d) merupakan hasil interaksi antara lokasi dan penggunaan



lahan.


Di dalam pemodelan distribusi pergerakan dikenal istilah interaksi



spasial. Interaksi spasial dalam geografi adalah arus manusia, barang,



uang, atau informasi.


Interaksi ini dikarenakan adanya perbedaan



potensi wilayah. Misalnya indramayu merupakan salah satu wilayah



penghasilan beras sedangkan Jakarta tidak. Maka dari itu terjadi



distribusi pergerakan dari Indramayu ke Jakarta.













c) Pemodelan pemilihan moda (Model Split)


Pemilihan moda merupakan bagian terpenting dalam perencanaan



transportasi karena dilakukannya pemilihan jenis angkutan umum.




Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan moda, antara lain



sebagai berikut.




– Kepemilikan kendaraan pribadi, semakin tinggi pemilikan kendaraan



pribadi akan semakin kecil pula ketergantungan pada angkutan



umum.



– Struktur rumah tangga, hal ini berdasarkan kondisi rumah tangga



seperti umur keluarga da jumlah anggota keluarga, dimana semakin



banyak umur dan jumlah anggota keluarga semakin tinggi peluang



untuk mempunyai kendaraan pribadi.



– Pendapatan, semakin tingi pendapatan akan semakin besar peluang



menggunakan kendaraan pribadi.



– Tujuan pergerakan, misalnya orang akan menggunakan kendaraan



pribadi karena ketepatan waktu, kenyamanan, yang tidak dapat



dipenuhi oleh angkutan umum.



– Waktu terjadinya pergerakan, pada malam hari orang akan



menggunakan kendaraan pribadi karena tidak adanya angkutan



umum.



– Jarak perjalanan, semakin jauh jaraknya cenderung menggunakan



angkutan umum







d) Model pemilihan rute perjalanan (Trafic Assigment)




Setiap orang dalam melakukan pergerakan akan mencari rute



untuk meminimalkan biaya dan waktu perjalanan. Dalam proses



pemodelan pemilihan rute, data yang digunakan antara lain permintaan



angkutan dan jaringan jalan.


Faktor yang menjadi pertimbangan dalam



pemilihan rute pergerakan, yaitu waktu tempuh, jarak, biaya (bahan



bakar dan lainnya), kemacetan dan antrian, jenis jalan raya (jalan tol,



arteri), pemandangan kawasan tertib lalu lintas dan marka jalan, serta



kebiasan.


Pemilihan rute sangat diperlukan untuk dapat menghindari



kemacetan dan kendala-kendala lain yang biasa terjadi di jalan misalnya



saat akan melakukan perjalanan yang harus melewati jalan yang sudah



teridentifkasi macet maka kita bisa mencari jalur alternatif lain untuk



mencapai tempat tujuan.









b. Tujuan Perencanaan Transportasi





Perencanaan transportasi ditujukan untuk mengatasi masalah



transportasi yang sedang terjadi atau kemungkinan terjadi di masa



mendatang.



Tujuan perencanaan transportasi adalah
untuk mencari



penyelesaian masalah transportasi dengan cara yang paling tepat dengan



menggunakan sumber daya yang ada.


Penyediaan ruang gerak bagi alat



angkut merupakan kebutuhan mutlak yang banyak merombak bentuk



jaringan ’urat nadi’ kota besar dunia, dan juga telah melanda Indonesia.



Salah satu permasalahan yang paling umum terkait transportasi adalah



kemacetan.




Kemacetan lalu lintas adalah situasi atau keadaan tersendatnya lalu



lintas yang ditandai dengan menurunnya kecepatan perjalanan dari



kecepatan yang seharusnya atau bahkan terhentinya lalu lintas. Kemacetan



merupakan permasalahan yang umum terjadi dan banyak terjadi di kotakota besar yang pada gilirannya mengakibatkan kota menjadi tidak efisien



dan bisa mengakibatkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.



Kemacetan lalu lintas bisa disebabkan oleh beberapa aspek.




Ada



beberapa aspek penting yang mempengaruhi kemacetan lalu lintas, yaitu:







1) Tipe lingkungan jalan atau penggunaan lahan sisi jalan






Tipe lingkungan jalan menurut Munawir (2004) terbagi menjadi :




a) Komersial,
yaitu penggunaan lahan untuk kegiatan komersial (misal:



pasar, pertokoan, perkantoran) dengan akses samping jalan langsung



untuk kendaraan dan pejalan kaki.




b) Pemukiman,
yaitu penggunaan lahan untuk pemukiman dengan akses



samping jalan langsung untuk kendaraan dan pejalan kaki.









2) Tipe pelayanan jalan






Menurut Dirjen Bina Marga (1997) Tingkat pelayanan jalan (level of





service) adalah
ukuran kualitatif yang digunakan untuk menerangkan



mengenai kondisi operasional dalam arus lalu lintas dan penilaiannya



oleh pemakai jalan (pada umumnya dinyatakan dalam kecepatan, waktu



tempuh, kebebasan bergerak, interupsi lalu lintas, keenakan,



kenyamanan, dan keselamatan).


Tingkat pelayanan jalan dapat



digunakan untuk mengetahui kondisi lalu lintas pada suatu jalan dan



dapat digunakan sebagai indikator kemacetan yang didasarkan pada



kondisi lalu lintas pada suatu jalan yang dibedakan menjadi enam



tingkatan.








Tabel 1. Tingkat Pelayanan Kemacetan Lalu Lintas

Baca Juga :   Bagaimana arah Revolusi Indonesia setelah adanya Serangan Umum 1 Maret 1949














3) Volume lalu lintas



Menurut Silva Sukirman (1994) Volume lalu lintas adalah jumlah



dari arus lalu lintas yang menunjukkan jumlah kendaraan yang melintasi



satu titik pengamatan dalam satuan waktu (hari, jam, menit). Dalam



pengambilan data, setiap kendaraan yang dicatat masih memakai



ekuivalensi mobil penumpang (emp). Hasil tersebut kemudian



dikonversikan menggunakan nilai satuan mobil penumpang (smp) per


jam. Tujuan mengubah emp menjadi smp adalah untuk menyamakan



satuan kendaraan.



Adapun nilai ekuivalensi mobil penumpang menurut Dirjen Bina



Marga (1997) untuk standar perkotaan tersaji pada tabel berikut.


Tabel 2. Nilai Ekuivalensi Kelas Kendaraan




4) Kapasitas jalan



Kapasitas jalan dapat diartikan sebagai kemampuan ruas jalan



untuk menampung arus atau volume lalu lintas dalam satuan waktu



tertentu, dinyatakan dalam jumlah kendaraan yang melewati potongan



jalan tertentu dalam satu jam (kendaraan/jam), atau dengan



mempertimbangkan berbagai jenis kendaraan yang melalui suatu jalan



digunakan satuan mobil penumpang sebagai satuan kendaraan dalam



perhitungan kapasitas maka kapasitas menggunakan satuan mobil



penumpang per jam (smp/jam).


Menurut Dirjen Bina Marga (1997) hambatan samping adalah



dampak terhadap kinerja dari aktivitas samping segmen jalan, hambatan



samping tersebut antara lain adalah pejalan kaki, angkutan umum dan



kendaraan lain parkir atau berhenti, kendaraan masuk atau keluar sisi



jalan, dan kendaraan lambat seperti becak dan kereta kuda.







c. Hal-Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Perencanaan Transportasi




Merencanakan perangkutan pada dasarnya adalah memperkirakan



kebutuhan angkutan di masa depan yang harus dikaitkan dengan masalah



ekonomi, sosial, dan lingkungan.



Berikut ini beberapa hal-hal yang perlu



dipertimbangkan dalam perencanaan transportasi:




1) Sarana yang telah ada didayagunakan secara optimum dan ditujukan



guna merancang dan membangun berbagai sarana baru.



2) Sarana harus direncanakan untuk memenuhi kebutuhan lalu-lintas yang



sudah ada maupun yang akan ada, diletakkan pada lokasi yang tepat di



dalam daerah atau kota, dan secara ekonomi harus dapat



dipertanggungjawabkan.



3) Perangkutan harus memberikan keuntungan maksimum kepada



masyarakat dengan meminimumkan penggunaan waktu dan biaya.






4) Pada saat yang sama harus diperhitungkan pula peningkatan tuntutan



akan perkembangan kota atau tata tata guna lahan serta perluasan



wilayah perkotaan







d. Tahapan Proses Perencanaan




Tahapan proses perencanaan perangkutan, diantaranya meliputi:




1) Pendataan kondisi yang ada, meliputi tata guna lahan, kependudukan,



pemilikan kendaraan, lalu-lintas orang da kendaraan, sarana angkut,



kegiatan ekonomi, sumber keuangan, dan bangkitan lalu-lintas.




2) Kebijaksanaan pemerintah untuk masa yang akan datang, meliputi



pengawasan dan kebijaksanaan pemerintah atas perkembangan



pertanahan, serta ciri khas jaringan perhubungan yang akan datang.




3) Perkiraan perkembangan wilayah kota,
meliputi perkiraan jumlah



kependudukan, kegiatan ekonomi, pemilihan kendaraan, tata guna lahan,



dan jaringan perhubungan di masa yang akan datang.




4) Perkiraan lalu-lintas di masa yang akan datang,
meliputi bangkitan lalulintas di masa depan, pilihan moda angkutan atau ragam kendaraan,



perpindahan antarzona, pembebanan dari pergerakan antarzona ke



dalam jaringan perangkutan, dan evaluasi.









3. Penginderaan Jauh untuk Kajian Transportasi





Peran penginderaan jauh dalam kajian transportasi yaitu untuk



penyediaan data penggunaan lahan, pengumpulan data sosial ekonomi, dan



inventarisasi jaringan transportasi.








a. Penyediaan data penggunaan lahan





Perencanaan transportasi memerlukan data penggunaan lahan untuk



menentukan pola pergerakan, volume, distribusi sarana angkutan, dan



tingkat aksesibilitas sistem transportasi.


Data penggunaan lahan dapat



menentukan harga lahan yang sangat penting dalam perencanaan dan



pengembangan kawasan perdagangan, permukiman, industri, dan jasa.


Kemudian data lokasi tempat tinggal penduduk (permukiman), dan lokasi



beraktivitas penduduk (bekerja, sekolah, rekreasi) merupakan faktor yang



sangat berpengaruh dalam pergerakan penduduk sehingga data penggunaan



lahan sangat penting untuk perencanaan transportasi.


Setiap citra



penginderaan jauh dapat menampilkan data penggunaan lahan dengan waktu



perekaman yang berbeda sehingga dapat digunakan untuk memperoleh



informasi perubahan penggunaan lahan dalam perencanaan transportasi.














b. Pengumpulan data sosial ekonomi dan jumlah penduduk



Kondisi sosial ekonomi dan karakteristik penduduk pada suatu wilayah



mencerminkan pola penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap



kebutuhan transportasi, misalnya menentukan jumlah bangkitan pergerakan.



Informasi mengenai jumlah penduduk pada suatu wilayah merupakan



parameter penting dalam perencanaan transportasi.


Penginderaan jauh



merupakan sumber data yang dapat digunakan dalam memperkirakan jumlah



penduduk.


Untuk memperkirakan jumlah penduduk melalui citra



penginderaan jauh yaitu dengan menghitung jumlah unit bangunan dan tipe



ukuran bangunan rumah dikalikan dengan jumlah penghuni tipe rumah



tersebut.


Kategori untuk setiap rumah, yaitu jumlah keluarga besar, keluarga



sedang, dan keluarga kecil. Sedangkan kepadatan, kategorinya padat, sedang,



dan jarang.


Untuk mengetahui pola persebaran penduduk dapat diestimasi



dari pola permukiman penduduk.









c. Inventarisasi jaringan transportasi (kondisi jalan)





Citra penginderaan jauh resolusi tinggi dapat menampilkan data



jaringan jalan, sungai, rel kereta api dengan sangat jelas. Bahkan fungsi jalan



dapat dibedakan dari citra seperti jalan tol, jalan arteri, jalan kolektor, dan



jalan lokal.


Selain jaringan jalan, pada citra juga dapat ditampilkan



persimpangan jalan, tempat parkir, terminal, bandar udara, dan stasiun



kereta api. Informasi yang detail dan akurat tentang jaringan jalan



merupakan dasar untuk manajemen dan perencanaan transportasi.


Citra



satelit penginderaan jauh dapat menyediakan sumber informasi spasial



jaringan jalan seperti lokasi, panjang jalan, lebar jalan, kualitas jalan (jalan



beraspal, jalan paving blok, jalan tanah).


Informasi tersebut dapat digunakan



untuk memperbaiki data sistem transportasi yang sudah ada.














C. Rangkuman



Berdasarkan uraian materi maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:



1. Transportasi merupakan kegiatan memindahkan orang atau barang dari satu tempat (asal) ke tempat lain (tujuan).



2. Sistem jaringan jalan dibedakan menjadi dua yaitu sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringa jalan sekunder.



3. Berdasarkan fungsinya jalan dibedakan menjadi jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal dan jalan lingkungan.



4. Status jalan dibedakan menjadi jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota dan jalan desa.



5. Sistem jaringan transportasi terdiri dari benda yang diangkut, sarana transportasi dan prasarana transportasi



6. Parameter utama jaringan transportasi adalah aksesibilitas, bangkitan dan pergerakan.








D. Latihan Soal





Jawablah pertanyaan berikut dengan jelas !



1. Jelaskan klasifikasi jalan menurut fungsinya !



2. Sebutkan faktor yang memperngaruhi kemacetan !



3. Apa yang dimaksud perencanaan transportasi ?



4. Jelaskan perbedaan pemodelan bangkitan dan tarikan dengan pemodelan



sebaran pergerakan !



5. Bagaimana peran penginderaan jauh untuk kajian transportasi ?













Apa perbedaan penggunaan peta dan penginderaan jauh untuk kajian transportasi darat dan laut

Posted by: pskji.org