Tokoh pendiri bani abbasiyah yang melakukan gerakan bawah tanah atau diam-diam adalah

Tokoh pendiri bani abbasiyah yang melakukan gerakan bawah tanah atau diam-diam adalah

Jawaban:

Dinasti Abbasiyah

Proses Pembentukan Dinasti Abbasiyah

Dinasti ini didirikan oleh Abu Abbas As Saffah (As Saffah berarti penumpah darah, Ia diberi gelar ini karena ia memiliki kemauan yang keras dan tidak segan-segan untuk menumpahkan darah guna mewujudkan keinginannya).

a)      Langkah-langkah Bani Abbas untuk mendirikan Daulat Abbasiyah :

Membentuk gerakan di bawah tanah dengan melakukan propaganda (menyusun kekuatan  secara diam-diam) dengan tokohnya antara lain :

Muhammad Al-Abbas

Ibrahim Al Imam

Abu Muslim Al-Khurasani

Dari ketiga tokoh propaganda tesebut Abu Muslim Al Khurasani merupakan propagandis yang paling sukses dan terkenal.

Menerapkan politik bersahabat, artinya keturunan Bani Abbas tidak memperlihatkan sikap bermusuhan dengan Bani Umayyah atau siapapun.

Menggunakan nama Bani Hasyim (Ahlul Bait). Hal ini dimaksudkan agar mendapat simpati umat dan dukungan dari kelompok pendukung Ali (Syiah).

Menjadikan Khurasan sebagai pusat kegiatan gerakan Bani Abbas yang dipimpin oleh Abu Muslim Al-Khurasani[1].

Strategi ini ternyata berhasil menghimpun kekuatan besar dan dahsyat yang tidak bisa dibendung lagi oleh golongan manapun juga. Dalam perjuangannya untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah, para tokoh pendiri Dinasti ini menerapkan cara kepemimpinan yang bersifat kolektif (kolegial leadership),namun tertutup dengan gerakan bawah tanah. Para tokoh pendiri Dinasti Abbasiyah menetapkan tiga kota sebagai pusat kegiatan, yaitu : Humaymah sebagai pusat perencanaan organisasi,Kufah sebagai kota penghubung dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis.

2.     Proses berdirinya Dinasti Abbasiyah

Proses berdirinya Dinasti Abbasiyah dimulai dari tahap persiapan dan perencanaan  yang dilakukan oleh Ali bin Abdulloh bin Abbas. Gerakan bawah tanah dan propaganda untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah ini dimulai ketika Dinasti Umayyah berada di bawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). Pada waktu itu Umar bin Abdul Aziz memimpin dengan adil. Negara dalam keadaan aman, tentram dan stabil. Ia juga menerapkan  persamaan hak kepada seluruh warga negara. Kondisi ini memberi peluang pada Bani Abbas untuk menyusun kekuatan dengan melakukan gerakan bawah tanah dan propaganda di kota Al Humaymah.[2]

Peluang emas yang dimiliki Bani Abbas untuk merebut kekuasaan Bani Umayyah itu terjadi pada masa Kholifah Marwan Bin Muhammad (127 – 132 H/ 745 – 750 M) yakni kholifah Bani Umayyah terakhir, di mana waktu itu pemerintahan Dinasti Umayyah mencapai puncak kekacauan yang sulit diatasi. Pemimpin gerakan Bani Abbasiyah pada waktu itu adalah Muhammad bin Ali (wafat tahun 743 M) kemudian diteruskan anaknya Ibrahim Al Imam dengan mengangkat Abu Muslim Al Khurasani sebagai panglima perang

Abu Muslim Al-Khurasani merupakan seorang pemuda yang pemberani, pada usia 19 tahun ia diangkat sebagai panglima perang oleh Ibrahim Al Imam. Ia banyak memperoleh dukungan di kota Khurasan. Pernah dalam sehari ia berhasil menarik simpati penduduk dari sekitar 60 desa di sekitar Merv. Abu Muslim Al Khurasani  mengajak golongan Syiah, golongan Alawiyyin (Bani Ali) untuk menentang Bani Umayyah yang telah menindas mereka.[3]

Sebelum Abu Muslim Al Khurasani diangkat sebagai panglima perang, gerakan dakwah dan propaganda dilakukan secara diam-diam. Hal itu dilakukan karena belum berani melawan Dinasti Umayyah secara terang-terangan. Pada tahun 747 M setelah Abu Muslim Al Khurasani diangkat menjadi panglima perang, Ibrahim Al Imam menyuruhnya untuk merebut kota Khurasan dan menyingkirkan orang-orang Arab yang mendukung Dinasti Umayyah. Namun rencana ini tercium oleh khalifah Marwan II dan akhirnya Ibrahim Al Imam ditangkap dan dipenjara hingga meninggal. Selanjutnya komando perlawanan diambil alih keponakan Ibrahim Al Imam yang bernama Abdulloh bin Muhammad yang dikenal sebagai Abu Abbas As Saffah. Ia tetap menunjuk Abu Muslim Al Khurasani untuk menjadi panglima dan melakukan perlawanan di Khurasan.

Baca Juga :   Tiga tokoh yang merumuskan proklamasi kemerdekaan ditunjukan nomor….

Penjelasan:

Tokoh pendiri Dinasti Abbasiyah yang menetapkan kota Al Humaimah, Kufah, dan Hurasan sebagai pusat gerakan bawah tanah Bani Abbas ialah?

  1. Ali bin Abdullah
  2. Ibrahim al Imam
  3. Muhammad bin Ali
  4. Abul Abbas As Saffah
  5. Semua jawaban benar

Jawaban: D. Abul Abbas As Saffah

Dilansir dari Encyclopedia Britannica, tokoh pendiri dinasti abbasiyah yang menetapkan kota al humaimah, kufah, dan hurasan sebagai pusat gerakan bawah tanah bani abbas ialah abul abbas as saffah.

Kemudian, saya sangat menyarankan anda untuk membaca pertanyaan selanjutnya yaitu
Ancaman dan tergoyahnya kursi KePresidenan Soekarno adalah salah satu peristiwa yang berdampak kepada awal pemerintahan Orde Baru, yaitu?
beserta jawaban penjelasan dan pembahasan lengkap.

Jakarta

Dinasti Abbasiyah adalah dinasti kedua dalam sejarah Islam klasik yang menggantikan Dinasti Ummayah. Dinasti ini berkuasa selama lebih dari 5 abad.

Dikutip dari buku Sejarah Pendidikan Islam oleh J. Suyuthi Pulungan, nama Dinasti Abbasiyah diambil dari nama salah seorang paman Rasulullah SAW bernama al-Abbas ibn Abd al-Muthalib ibn Hasyim.

Bani Abbasiyah beranggapan bahwa mereka yang lebih berhak atas kekhalifahan Islam, bukan Bani Umayyah. Sebab, mereka memiliki nasab keturunan lebih dekat dari Nabi Muhammad SAW dari Bani Hasyim.

Pendiri Dinasti Abbasiyah adalah Abdullah As-Saffah bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas, atau lebih dikenal dengan Abdul Abbas As-Saffah. Dinasti ini berdiri antara tahun 132-656 H/ 750-1258 M. Daulah ini berkuasa selama lima setengah abad, kurang lebih 524 tahun.

Pembentukan kekhalifahan Bani Abbasiyah melalui proses yang cukup panjang. Setidaknya ada empat strategi yang diterapkan. Pertama, melalui kekuatan bawah tanah oleh Muhammad ibn Abdullah ibn Abbas.

Kedua, melalui upaya propaganda secara terus-menerus. Propaganda ini berisi rahasia tentang hak kekhalifahan yang seharusnya berada di tangan Bani Hasyim bukan Bani Umayyah.

Ketiga, pemanfaatan kaum Muslim non-Arab yang sebelumnya dianggap sebagai warga kelas dua. Keempat, propaganda terang-terangan yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Khurasani.

Para sejarawan membagi kekuasaan daulah ini menjadi tiga periode. Periode pertama berlangsung dari tahun 132-232 H/ 750-847 M, yaitu mulai dari kekuasaan Abdul Abbas As-Saffah sampai Abu al-Fadl Ja’far al-Mutawakkil.

Periode kedua berlangsung dari tahun 232-590 H/ 847-1184 M, yaitu dari khalifah Abu Ja’far Muhammad al-Muntasir sampai Abu al-‘Abbas Ahmad Nasir. Sementara itu, periode ketiga berlangsung dari tahun 590-656 H.

Pada masa pemerintahan Abdul Abbas As-Saffah hingga Abu al-Fadl Ja’far al-Mutawakkil, Daulah Abbasiyah dipimpin oleh khalifah yang kuat. Mereka adalah pemimpin angkatan tentara dan telah mengarungi peperangan.

Pada periode pertama, Bani Abbasiyah mencapai puncak keemasannya. Kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Para khalifah merupakan tokoh kuat dan menjadi pusat kekuasaan politik sekaligus agama. Selain itu, periode ini juga menjadi landasan perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan Islam.

Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam Dirasat Islamiyah II menjelaskan, Abdul Abbas As-Saffah hanya memerintah dalam waktu yang sangat singkat, yaitu dari tahun 750 M sampai 754 M. Beberapa pendapat condong pada Abu Ja’far al-Mansur sebagai pembina sebenarnya dari Daulah Abbasiyah.

Pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah berada di Kota Baghdad. Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Lalu, dalam rangka menjaga stabilitas negara baru, al-Mansur memindahkan ibukota negara ke kota Baghdad, dekat ibukota Persia. Pemindahan dilakukan pada tahun 762 M.

Lihat juga video ‘Abdul Qodir Jaelani Berbagi Ilmu Islam Sampai ke Luar Negeri’:

(nwy/nwy)

 Mereka mempropagandakan bahwa “menggulingkan kekuasaan pemerintah Dinasti Umayyah merupakan perintah agama”.  Di samping itu untuk meraih simpati umat dan dukungan kaum Syiah mereka tidak mengusung nama Bani Abbas tetapi mengusung nama Bani Hasyim. Mereka mengatakan bahwa jabatan khalifah merupakan hak keluarga Nabi.  Gerakan mereka didukung oleh kaum Syiah, Khawarij dan Mawali di kota Khurasan yang sebelumnya selalu ditindas oleh Dinasti Umayyah.  Persamaan nasib sebagai kelompok yang tertindas inilah yang membuat ketiga kelompok itu mendukung propaganda ini.  Jadi latar belakang lahirnya Dinasti Abbasiyah, yaitu kekecewaan yang menumpuk dan bersatu akibat dari kekeliruan dan kesalahan para penguasa Dinasti Umayyah dalam mengambil kebijakan.  Gerakan menentang Dinasti Umayyah semakin membesar saat Dinasti Umayyah dijabat khalifah yang terkahir yaitu Marwan bin Muhammad Marwan II.

Baca Juga :   10 komponen kelistrikan mobil dan fungsinya

B. Proses Pembentukan Dinasti Abbasiyah

Dinasti ini didirikan oleh Abu Abbas As Saffah As Saffah berarti penumpah darah, Ia diberi gelar ini karena ia memiliki kemauan yang keras dan tidak segan-segan untuk menumpahkan darah guna mewujudkan keinginannya.  Langkah-langkah Bani Abbas untuk mendirikan Daulat Abbasiyah : 1. Membentuk gerakan di bawah tanah dengan melakukan propaganda menyusun kekuatan secara diam-diam dengan tokohnya antara lain : -Muhammad Al-Abbas -Ibrahim Al Imam -Abu Muslim Al-Khurasani Dari ketiga tokoh propaganda tesebut Abu Muslim Al Khurasani merupakan propagandis yang paling sukses dan terkenal. 2. Menerapkan politik bersahabat, artinya keturunan Bani Abbas tidak memperlihatkan sikap bermusuhan dengan Bani Umayyah atau siapapun. 3. Menggunakan nama Bani Hasyim Ahlul Bait. Hal ini dimaksudkan agar mendapat simpati umat dan dukungan dari kelompok pendukung Ali Syiah. 4. Menjadikan Khurasan sebagai pusat kegiatan gerakan Bani Abbas yang dipimpin oleh Abu Muslim Al-Khurasani. Strategi ini ternyata berhasil menghimpun kekuatan besar dan dahsyat yang tidak bisa dibendung lagi oleh golongan manapun juga. Dalam perjuangannya untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah, para tokoh pendiri Dinasti ini menerapkan cara kepemimpinan yang bersifat kolektif kolegial leadership,namun tertutup dengan gerakan bawah tanah. Para tokoh pendiri Dinasti Abbasiyah menetapkan tiga kota sebagai pusat kegiatan, yaitu : Humaymah sebagai pusat perencanaan organisasi, Kufah sebagai kota penghubung dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis  Proses berdirinya Dinasti Abbasiyah dimulai dari tahap persiapan dan perencanaan yang dilakukan oleh Ali bin Abdulloh bin Abbas. Gerakan bawah tanah dan propaganda untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah ini dimulai ketika Dinasti Umayyah berada di bawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz 717-720 M. Pada waktu itu Umar bin Abdul Aziz memimpin dengan adil. Negara dalam keadaan aman, tentram dan stabil. Ia juga menerapkan persamaan hak kepada seluruh warga negara. Kondisi ini memberi peluang pada Bani Abbas untuk menyusun kekuatan dengan melakukan gerakan bawah tanah dan propaganda di kota Al Humaymah Peluang emas yang dimiliki Bani Abbas untuk merebut kekuasaan Bani Umayyah itu terjadi pada masa Kholifah Marwan Bin Muhammad 127 – 132 H = 745 – 750 M yakni kholifah Bani Umayyah terakhir, di mana waktu itu pemerintahan Dinasti Umayyah mencapai puncak kekacauan yang sulit diatasi. Pemimpin gerakan Bani Abbasiyah pada waktu itu adalah Muhammad bin Ali wafat tahun 743 M kemudian diteruskan anaknya Ibrahim Al Imam dengan mengangkat Abu Muslim Al Khurasani sebagai panglima perang  Abu Muslim Al-Khurasani merupakan seorang pemuda yang pemberani, pada usia 19 tahun ia diangkat sebagai panglima perang oleh Ibrahim Al Imam. Ia banyak memperoleh dukungan di kota Khurasan. Pernah dalam sehari ia berhasil menarik simpati penduduk dari sekitar 60 desa di sekitar Merv. Abu Muslim Al Khurasani mengajak golongan Syiah, golongan Alawiyyin Bani Ali untuk menentang Bani Umayyah yang telah menindas mereka.  Sebelum Abu Muslim Al Khurasani diangkat sebagai panglima perang, gerakan dakwah dan propaganda dilakukan secara diam-diam. Hal itu dilakukan karena belum berani melawan Dinasti Umayyah secara terang-terangan. Pada tahun 747 M setelah Abu Muslim Al Khurasani diangkat menjadi panglima perang, Ibrahim Al Imam menyuruhnya untuk merebut kota Khurasan dan menyingkirkan orang-orang Arab yang mendukung Dinasti Umayyah. Namun rencana ini tercium oleh khalifah Marwan II dan akhirnya Ibrahim Al Imam ditangkap dan dipenjara hingga meninggal. Selanjutnya komando perlawanan diambil alih keponakan Ibrahim Al Imam yang bernama Abdulloh bin Muhammad yang dikenal sebagai Abu Abbas As Saffah. Ia tetap menunjuk Abu Muslim Al Khurasani untuk menjadi panglima dan melakukan perlawanan di Khurasan.  Tokoh-tokoh pendiri Bani Abbasiyah 1. Muhammad bin Ali bin Abdullah, 2. Ibrahim al Imam, 3. Abu Muslim Al Khurasani, 4. Abul Abbas as-Shaffah 5. Abu Ja’far al Mansyur.  Silsilah Bani Abbasiyah dan Khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah 1. Silsilah Bani Abbasiyah Dalam silsilah Bani Umayyah terdapat tiga keluarga besar yang saling bersaing memperebutkan kekuasaan, yaitu : a. Keluarga Alawiyyin didukung oleh kaum Syiah b. Keluarga Umayyah c. Keluarga Abasiyah Qushai Abdul Uzza Abdul Manaf Abdul Syams Hasyim Abdul Mutholib Abdullah Abu Tholib Abbas Nabi Muhammad SAW Ali Abdullah Hasan Husein Ali Muhammad Ibrahim Al Iman Abdullah Saleh Abdul Samd Abdullah I Abul Abbas As Saffah Abu Ja’far Al Manshur II Muhammad Al Mahdi III Al-Mahdi IV Harun Al-Rasyid V Al-Amin VI Al Ma’mun 2. Khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah a. Periode pertama Kholifah Dinasti Abbasiyah pada periode pertama adalah sebagai berikut : 1. Abu Abbas As-Saffah 132 – 136H = 750-754M 2. Abu Ja’far Al-Mansur 136 – 158H = 754-775M 3. Muhammad Al-Mahdi 158-169H = 775-785M 4. Muhammad Al-Hadi 169 – 170H = 785 – 786M 5. Harun Ar-Rasyid 170 – 193H = 786-809M 6. Abdullah Al-Amin 193 – 198H = 809-813M 7. Al Ma’mun 198 – 218 = 813 – 833 M 8. Al Mu’tashim Billah 218 – 227H = 833-842M 9. Abu Ja’far Al-Watsiq 227 – 232H = 842-847M. b. Periode Kedua Khalifah Dinasti Abbasiyah pada periode kedua adalah sebagai berikut : 1. Al-Mutawakil 232 – 247H = 847-861M 2. Al-Muntshir 247 – 248H = 861-862M 3. Al-Mu’tain 248 – 252H = 862-866M 4. Al-Mu’taz 252 – 255H = 866-869M 5. Al-Muhtadi 255 – 256H = 869-870M 6. Al-Mu’tamid 256 – 279H = 870-892M 7. Al-Mu’tadhid 279 – 289H = 892-902M 8. Al-Muktafi 289 – 295H = 902-908M 9. Al-Muqtadi 295 320H = 908-932M 10. Al-Qohir 320 – 322H = 932-934M 11. Ar-Rodhi 322 – 329H = 934-941M 12. Al-Muttaqi 329 – 333H = 941-945M 13. Al-Mustaqfi 333 – 334H = 945-946M. c. Periode ketiga Kholifah Dinasti Abbasiyah pada periode ketiga adalah sebagai berikut : 1. Al-Muti 334 – 363H = 946-974M 2. At-Tho’I 363 – 381H = 974–991M 3. Al-Qodir 381 – 422H = 991-1031M d. Periode keempat Khalifah Dinasti Abbasiyah pada periode keempat adalah sebagai berikut : 1. Al-Qoyyim 422 – 467H = 1031-1075M 2. Al-Muqtadi 467 – 487H = 1075-1094M 3. Al-Mustazhir 487 – 512H = 1094-1118M 4. Al-Musytarsid 512 – 529H = 1118-1135M 5. Al-Rasyid 529 – 530H = 1135-1136M 6. Al-Muktafi 530 – 555H = 1136-1160M 7. Al-Mustanjid 555 – 566H = 1160-1171M 8. Al-Mustadi 566 – 575H = 1171-1180M 9. An-Nashir 575 – 622H = 1180-1125M e. Periode kelima Kholifah Dinasti Abbasiyah pada periode kelima adalah sebagai berikut : 1. Az-Zahir 622 – 623H = 1225-1226M 2. Al-Mustanshir 623 – 640H = 1226-1242M 3. Al-Musta’shim 640 – 656H = 1242-1258M Dari ke-37 khalifah ini setidaknya terdapat tiga khalifah yang menonjol yaitu Abu Ja’far Al Mansur, Harun Ar Rasyid dan Abdulloh Al Ma’mun. Dari ketiga khalifah yang menonjol ini khalifah yang terkenal dari Dinasti Abbasiyah adalah Harun Ar Rasyid.

Baca Juga :   Negoisasi berarti tawar-menawar harga struktur teks negoisasi adalah

C. Baghdad Sebagai Pusat Kekuasaan

Tokoh pendiri bani abbasiyah yang melakukan gerakan bawah tanah atau diam-diam adalah

Posted by: pskji.org