Apa perbedaannya antara orang orang yang beriman dan kaum muslimin?

Apa perbedaannya antara orang orang yang beriman dan kaum muslimin?

Ada sebuah perkataan yang masyhur dikalangan para ulama tentang mukmin dan muslim yaitu :

إذا اجتمع افترق وإذا افترق اجتمع

“Ketika (dua istilah itu) berkumpul maka artinya berbeda, dan ketika tidak berkumpul maka artinya sama”.

Maksudnya adalah ketika disebutkan : – “Fulan Mukmin” artinya dia juga seseorang yang muslim.

– Atau ketika disebutkan “Fulan Muslim” artinya dia juga seseorang yang beriman.

Yang artinya tidak ada perbedaan antara keduanya, baik mukmin maupun muslim, seseorang yang mukmin maka dia muslim dan seseorang yang muslim maka dia juga seseorang yang mukmin.

Namun ketika dua istilah itu digabung dalam satu kalimat, maka maknanya berbeda. Ketika kata Islam bersanding dengan iman maka maknanya adalah sesuatu yang mengarah kepada amal dhahir seperti shalat, zakat puasa, haji dan sebagainya.

Dan ketika orang yang mengerjakan amal-amal dhohir ini disertai keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Imanun Qolbi) maka dia adalah mukmin, dan bagi yang mengerjakan amalan-amalan tersebut hanya sebatas dhahirah saja tidak disertai keimanan maka dia sama seperti kondisi orang-orang munafik yang hanya menampakkan amalan dhahir padahal hatinya sangat benci kepada islam.

Sedangkan iman sendiri maknanya adalah amal batiniyah (amal yang ada pada hati seseorang) seperti rukun iman yang enam, iman kepada allah, malaikatnya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, yaumul akhir, qada dan qadar. Atau amal qulub (hati) yang lain, seperti khouf (takut kepada allah), raja’ (berharap kepada allah) dan sebagainya.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu.” [Q.S. Al Hujurat : 14]

Ayat ini menunjukkan bahwasanya Islam adalah perkataan dengan lisan dan amal melalui perbuatan, sedangkan iman adalah penyerahan diri terhadap hal-hal yang batin/ i’tiqod (keyakinan) dan hati meyakininya dengan sebenar-benarnya keyakinan.

Akan tetapi terkadang juga dapat bermakna berbeda, tidak semua muslim adalah mukmin sebagimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kisah nabi luth alaihis salam :

.فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ* فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Maka Kami tidak mendapati di dalamnya (negeri itu), kecuali sebuah rumah dari orang-orang Muslim (Luth).” [Q.S. Ad Dzariyat : 35-36]

Dalam ayat ini allah mensifati orang-orang yang ada di dalam rumah nabi Luth dengan Islam, termasuk juga istrinya yang hanya menampakkan islam padahal dia sangat benci dan kafir terhadap agama yang dibawa oleh nabi Luth, sedangkan Allah memberikan sebutan bagi orang-orang yang selamat sebagai orang-orang mukmin dengan iman yang sebenar-benarnya.

Kesimpulannya, iman dan Islam ketika disebutkan secara terpisah maka yang satu melengkapi makna yang lain, seseorang yang mukmin maka dia juga seseorang yang muslim sebagaimana sebaliknya, akan tetapi jika disebutkan dalam satu kalimat maka muslim artinya seseorang yang mengerjakan amalan-amalan dhahir (yang tampak), sedangkan mukmin adalah orang yang mengerjakan amalan-amalan batin (yang tersembunyi).

Baca Juga :   beda ct scan dan rontgen

Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam.

______ Yoshi Putra Pratama

(Mahasiswa Universitas Islam Madinah)

Mukmin/Mu’min
(bahasa Arab:
مؤمن‎) adalah istilah Islam dalam bahasa Arab yang sering disebut dalam Al-Qur’an, berarti “orang beriman”, dan merupakan seorang Muslim yang dapat memenuhi seluruh kehendak Allah, dan memiliki iman kuat dalam hatinya. Selain itu, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa mu’min tidak serta-merta berarti “orang beriman” namun orang yang menyerahkan dirinya agar diatur dengan Din Islam. Selain itu, mu’min juga dapat dikatakan orang yang memberikan keamanan atas Muslim.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah “kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Al-Hujurat [49]:14)

Ayat ini menjelaskan perbedaan antara seorang Muslim dan orang beriman.

Juga:

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Surah An-Nisa’ [4]:136)

Ayat ini mengacu pada orang yang beriman, yang diperintah untuk tetap beriman, dan menjelaskan banyaknya syarat-syarat beriman.

Perbedaan antara orang beriman dan orang yang tunduk adalah salah satu poin penting dalam munculnya ajaran tasawuf yang menitik beratkan pada keimanan yang bersifat bathin (qalbu). Tasawuf sendiri adalah ilmu dan tatacara (practice) untuk mencapai maqam yakin tersebut, selain maqam para pecinta Allah. Mereka mengetahui rahasia-rahasia hati dan paham mengenai teori dasar psikoanalis yakni alam sadar dan alam bawah sadar (hati). “Sesungguhnya hati hanya bisa ditundukkan dengan keyakinan” (Al-Ghazali/Ihya Ulumuddin)

Pemahaman akan perbedaan antara orang yang tunduk dan orang yang beriman dalam qalbu (hati) dapat semakin dimengerti dengan mempelajari teori psikoanalisis, bahwa manusia itu memiliki dua komponen penting dalam dirinya, yakni alam sadar dan alam bawah sadar. Alam bawah sadar (subconsciousness) adalah tempat munculnya hasrat (hawa nafsu) dan emosi. Dalam psikoanalisis, keyakinan terdalam itu terletak pada alam bawah sadar dan keyakinan inilah yang akan menggerakkan hasrat kita. Sebagai contoh jika keyakinan dalam alam bawah sadar mengatakan bahwa “harta adalah parameter kemuliaan” maka hasrat kita akan berusaha mencari harta, tetapi keyakinan pada alam bawah sadar mengatakan bahwa “Allah adalah parameter kemuliaan”, maka otomatis hasrat akan mencari Allah. Dalilnya, nabi ﷺ bersabda: “Tidak sempurna iman kalian sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang kubawa.” (HR Ahmad dan Al-Thabrari).

  • Al-Muminun
  • Ummul Mu’min
  • Amirul Mu’minin
  • Al Mu`min
  • http://www.inminds.co.uk/imam-cassiem-talk.html
  • Rumah Minimalis Diarsipkan 2019-07-15 di Wayback Machine.

Diperoleh dari “https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mu%27min&oldid=19380581”

Dapatkan
pahala berdakwah
dan gratis buku
Rahasia Rezeki Berlimpah, klik di sini untuk detailnya

MUSLIM BELUM TENTU MUKMIN

Pertanyaan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam al-Qur’an:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا
 ۖ

قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

 ۖ

وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا

 ۚ

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Baca Juga :   Berilah dua sikap yang kita ambil dari semangat kebangkitan nasional

Orang-orang Arab badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah, “Kalian belum beriman, tapi katakanlah, ‘Kami telah berislam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian, dan jika kalian taat kepada Allâh dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujurat/49:14]

Apa makna ayat ini? Apakah ada beda antara iman dan Islam?

Syaikh Shalih fauzan hafizhahullâh menjawab[1]:
Agama Islam mempunyai tiga tingkatan. Pertama, islam, kemudian (kedua) yang lebih tinggi dari islam yaitu iman dan tingkatan ketiga yang paling tinggi yaitu ihsan. Tentang tiga tingkatan ini telah diterangkan dalam hadits Jibril Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dalam hadits itu disebutkan bahwa Jibril Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masing-masing tingkatan ini dan dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian diakhir hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para Sahabatnya setelah orang asing yang bertanya itu pergi:

Dialah Jibril Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang datang kepada kalian untuk mengajari kalian urusan agama kalian.  [HR.Al-Bukhâri, no. 50 dan Muslim, no.7]

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya secara berurutan, mulai dari urutan yang paling rendah lalu yang lebih tinggi kemudian yang paling tinggi.

Terkait ayat di atas, ketika orang-orang arab badui (pedalaman) itu datang kepada Nabi di awal-awal keislaman mereka dan mengklaim diri mereka telah sampai pada martabat yang sebenarnya belum mereka capai. Mereka baru berada pada tingkatan Islam (berislam) namun mengklaim telah berada pada tingkatan iman (beriman), padahal mereka belum sampai pada tingkatan itu. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menjawab pernyataan mereka ini  dengan firman-Nya:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا
 ۖ

قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

 ۖ

وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا

 ۚ

إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Orang-orang Arab badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah, “Kalian belum beriman, tapi katakanlah, ‘Kami telah berislam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian, dan jika kalian taat kepada Allâh dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujurat/49:14]

Jadi, mereka di awal-awal keislaman mereka belum tertanam keimanan yang mantap dalam hati mereka. Meski mereka telah memiliki keimanan, namun keimanan mereka masih sangat rapuh atau kadar keimanannya masih sedikit.

Dan dari firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, “karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian,” bisa dipahami bahwa keimanan itu akan masuk dalam hati mereka di belakang hari. Mereka ini bukan orang-orang kafir atau munafik. Mereka ini kaum Muslimin, mereka sudah memiliki iman akan tetapi kadarnya masih sedikit, sehingga belum berhak disebut sebagai kaum Mukminin. Kelak, keimanan akan tertanam kuat dalam hati mereka, berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla , yang artinya, ” karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian,”

Baca Juga :   Luas selimut tabung yang memiliki diameter 10 cm dan tinggi 4 cm adalah

Adakah beda antara Islam dan iman? Kata Islam dan iman jika disebutkan secara bersamaan (dalam satu kalimat atau konteks-red) maka masing-masing memiliki makna yang berbeda. Maksudnya, Islam memiliki makna sendiri begitu juga kata iman  memiliki arti tersendiri, sebagaimana dalam hadits Jibril Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Islam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَأَنْ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi (dengan benar) kecuali Allâh dan engkau bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allâh, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat dan engkau berpuasa di bulan Ramadhan serta berhaji ke Baitullah jika engkau mampu melakukan perjalanan kesana.

Jibril Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang iman, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

Baca Juga
Bertawakkal Hanya Kepada Allah Azza Wa Jalla

الإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Iman adalah engkau beriman kepada Allâh, beriman kepada para Malaikat-Nya, kitab–kitab-Nya, beriman kepada para rasul-Nya, mengimani hari akhir dan engkau beriman dengan taqdir, baik yang bagus maupun yang buruk. [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

Berdasarkan penjelasan ini, bisa disimpulkan, bahwa islam itu merupakan gambaran dari ketundukan secara zhahir atau fisik, sementara iman merupakan ketundukan hati kepada Allâh.

Ini jika kedua kata itu disebutkan dalam konteks yang sama.

Adapun jika kedua kata itu disebutkan dalam konteks yang berbeda, maksudnya kata “Islam” saja yang disebutkan atau kata iman saja, maka makna masing-masing kata masuk ke kata yang satu itu. Misalnya, jika kata islam saja yang disebutkan maka makna kata “iman” masuk dalam  satu kata Islam itu. Begitu juga jika yang disebutkan hanya kata iman, maka makna islam masuk dalam kata  iman tersebut. Oleh karena itu, para ahli ilmu mengatakan bahwa kedua kata itu, jika disebutkan bersama maka maknanya berbeda dan jika disebutkan terpisah, maka maknanya menyatu.

Jadi, iman menurut ahli sunnah wal jamaah adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.

Dengan pengertian ini, maka makna Islam masuk disitu. Karena pengertian Islam  adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Demikian juga iman

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote

[1]  Majmu’ Fatawa syaikh Shalih Fauzan, hlm. 10-12

Apa perbedaannya antara orang orang yang beriman dan kaum muslimin?

Posted by: pskji.org