Jelaskan apa yang menjadi tolak ukur rasionalitas dalam perilaku individu?

Jelaskan apa yang menjadi tolak ukur rasionalitas dalam perilaku individu?

Ditulis Oleh:

 Romadhon Falaqh

Intern Assistant of PKEBS

Ekonomika Islam memiliki pandangan tersendiri untuk menjelaskan perilaku konsumen. Berbeda dengan konsep rasionalitas dalam ekonomika konvensional, Hossain (2014) memaparkan sebuah konsep yang bernama islamic economic rationalism (IER). Hal sama diulas pula oleh Ramli dan Mirza (2007) dengan membagi dua elemen rasionalitas islami menjadi worldview  dan self-interest. Pada elemen self-interest, individu akan membatasi kepentingan diri menurut sharia compliance. Begitu pula IER dijelaskan bahwa agama adalah key determinant, sedangkan sumber syariah berasal dari ajaran agama. Diiringi faktor exogenous dalam perilaku konsumen yang berupa efek agama, kepercayaan, budaya serta legal and political framework (Kahf, 2004), pemikiran-pemikiran tersebut dapat disimpulkan bahwa individu muslim itu sangat mempertimbangkan ihwal halal dan haram dari produk baik barang maupun jasa yang akan dikonsumsinya.

Berangkat dari penjelasan di atas, barang/jasa yang halal tentu adalah pilihan tepat bagi para konsumen yang ber-IER. Keseimbangan konsumen muslim yang rasional (IER) adalah memaksimumkan success/falah yang berarti kebahagian dunia dan akhirat (Kahf, 2004). Falah tersebut dicapai melalui setiap aktivitas individu termasuk konsumsi yang sesuai dengan sharia-compliant ethics and faith values (Ghassan, 2015). Ghassan menerangkan utilitas atas pencapaian falah tersalurkan melalui kepuasan materialistic dan metaphysic reward. Konsumsi yang berlandaskan ajaran Islam seperti menggunakan barang/jasa yang halal akan membawa maslahat/utilitas (Ramli dan Mirza, 2007) sehingga dapat memaksimumkan falah.

Daftar Pustaka:

Ghassan, H. B. (2015). Islamic Consumer Model, Fairness Behavior and Asymtotic Utility. Munich Personal RePEc Archive, 1- 39.

Hossain, B. (2014). Economic Rationalism and Consumption: Islamic Perspective. International Journal of Economics, Finance and Management, 273 – 281.

Kahf, M. (2004). The Demand Side or Consumer Behavior: Islamic Perspective.

Ramli, A. M., & Mirza, A. A. (2007). The Theory of Consumer Behavior: Conventional vs. Islamic. 2nd Islamic Conference (iECONS) 2007. Islamic Science University of Malaysia.

Konsumsi tidak lepas dari bagian dari kegiatan ekonomi yang sangat penting dan mencakup seluruh perilaku konsumen jual beli produk atau pelayanan agar suatu keinginan terpenuhi, ada tiga paradigma dalam kunsumsi yaitu rasional economic man, positivism, dan hukum say, yang mana hukum say yang di kemukakan oleh jeam babtis say (1767-1832) berasumsi bahwa  nilai produksi selalu sama dengan pendapatan, jadi dalam pasar persaingan sempurna tidak akan ada exces suplay (kelebihan penawaran) terdapat suatu keyakinan bahwa terdapat selalu keseimbangan (aquilibrium) yang bersifat alamiah.

Jeam babtis say juga menyatakan bahwa penawaran menciptakan permintaannya sendiri, hukum say ini tidak hanya mempunyai dampak terhadap perilaku produksi yang mengabaikan pembatasan secara proporsional tetapi juga akan berpengaruh terhadap perilaku konsumsi  karna tidak ada pembatasan produksi maka industri di paksa untuk menawarkan barangnya dengan berbagai cara melalalui industri periklanan, dikembangkan cara-cara untuk menciptakan dan mendorong konsumsi sebagai lifestayle atau gaya hidup dalam masyarakat.

Baca Juga :   Apa nama alat penghasil listrik dari tenaga angin?

Maka dari itu kegiatan konsumsi yang di lakukan jangan sampai merugikan sesama dan jangan hanya mementingakan diri sendiri (self interest) untuk mendapatkan kepuasan maksimal (utilitarialisme) dalam hukum say juga di jelaskan bahwa industri juga harus berkembang melalui cara yang lebih efisien dan tepat entah itu melalui periklanan dan sejenisnya.

Dalam perspektif islam perilaku konsumen selalu berpedoman kepada ajaran islam di mulai dari barangnya harus baik dan halal (halalan thoyyiban) secara zat dan cara memperolehnya, membedakan antara kebutuhan (need) dan keinginan (want) serta prefrensi konsumen muslim berdasarkan prinsip keadilan, kebersihan, dan kesederhanaan, kemurahan hati dan harus moralitas.

Perlu kita ketahui tujuan konsumsi dalam islam adalah maslahah dan falah yang di dalamnya mengandung usur manfaat dan berkah, unsur manfaat adalah pemenuhan kebutuhan fisik, psikis, material yang bersifat duniawi sedangkan berkah adalah pemenuhan kebutuhan spritual dan bersifat ukhrawi (pahala dan ridha allah).

Dapat disimpulkan dengan menerapkan nilai-nilai islam dalam konsumsi, maka dapat di wujudkan kesejahteraan yang memeberikan maslahah baik secara individu maupun sosial keberuntungan (falah) serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Titik tolaknya adalah merubah perilaku individu masyarakat menjadi konsumen yang islami untuk dapat mendapatkan nilai-nilai konsumsi alam islam maka di perlukan pemahaman melalui kajian perilaku konsumen dalam perspektif islam tujuannya untuk mengetahui secara umum penyebab permasalahan yang di timbulkan dari perilaku konsumen konvensional dan solusi yang di tawarkan oleh islam.

Dalam artikel ini fokus utama dalam mengurai akar masalah yang ada dalam perilaku konsumen konvensional yaitu landasan filosofis perilaku konsumen konvensional yang melipiti: paradigma rasional economic man, positivism, dan hukum say. Perilaku konsumen muslim berbeda dengan konsumen konvensional mengutamakan self inferest dan utilitarialisme yang bertujuan  memaksimalkan kepuasan dan mengabaikan kepentingan orang lain. Sedangkan perilaku konsumen muslim dilandasi islamic man yang di dalam al-quran di sebut dengan `ibadurrahman,yaitu hamba-hamba allah yang di istimewakan karn sifat- sifat istimewanya, hal ini mencerminkan keseimbangan yang menjadi prinsip mendasar dalam.

Daftar Pustaka

Hendrie Anto, M. B. 2003. Pengantar Ekonomika Mikro Islami. Yogyakarta: Ekonesia.

Muflih, Muhammad. 2006. Perilaku Konsumen Dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam.
Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

Lihat Edukasi Selengkapnya


Page 2

Konsumsi tidak lepas dari bagian dari kegiatan ekonomi yang sangat penting dan mencakup seluruh perilaku konsumen jual beli produk atau pelayanan agar suatu keinginan terpenuhi, ada tiga paradigma dalam kunsumsi yaitu rasional economic man, positivism, dan hukum say, yang mana hukum say yang di kemukakan oleh jeam babtis say (1767-1832) berasumsi bahwa  nilai produksi selalu sama dengan pendapatan, jadi dalam pasar persaingan sempurna tidak akan ada exces suplay (kelebihan penawaran) terdapat suatu keyakinan bahwa terdapat selalu keseimbangan (aquilibrium) yang bersifat alamiah.

Jeam babtis say juga menyatakan bahwa penawaran menciptakan permintaannya sendiri, hukum say ini tidak hanya mempunyai dampak terhadap perilaku produksi yang mengabaikan pembatasan secara proporsional tetapi juga akan berpengaruh terhadap perilaku konsumsi  karna tidak ada pembatasan produksi maka industri di paksa untuk menawarkan barangnya dengan berbagai cara melalalui industri periklanan, dikembangkan cara-cara untuk menciptakan dan mendorong konsumsi sebagai lifestayle atau gaya hidup dalam masyarakat.

Baca Juga :   Kenapa atletik disebut induk dari semua cabang olahraga

Maka dari itu kegiatan konsumsi yang di lakukan jangan sampai merugikan sesama dan jangan hanya mementingakan diri sendiri (self interest) untuk mendapatkan kepuasan maksimal (utilitarialisme) dalam hukum say juga di jelaskan bahwa industri juga harus berkembang melalui cara yang lebih efisien dan tepat entah itu melalui periklanan dan sejenisnya.

Dalam perspektif islam perilaku konsumen selalu berpedoman kepada ajaran islam di mulai dari barangnya harus baik dan halal (halalan thoyyiban) secara zat dan cara memperolehnya, membedakan antara kebutuhan (need) dan keinginan (want) serta prefrensi konsumen muslim berdasarkan prinsip keadilan, kebersihan, dan kesederhanaan, kemurahan hati dan harus moralitas.

Perlu kita ketahui tujuan konsumsi dalam islam adalah maslahah dan falah yang di dalamnya mengandung usur manfaat dan berkah, unsur manfaat adalah pemenuhan kebutuhan fisik, psikis, material yang bersifat duniawi sedangkan berkah adalah pemenuhan kebutuhan spritual dan bersifat ukhrawi (pahala dan ridha allah).

Dapat disimpulkan dengan menerapkan nilai-nilai islam dalam konsumsi, maka dapat di wujudkan kesejahteraan yang memeberikan maslahah baik secara individu maupun sosial keberuntungan (falah) serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Titik tolaknya adalah merubah perilaku individu masyarakat menjadi konsumen yang islami untuk dapat mendapatkan nilai-nilai konsumsi alam islam maka di perlukan pemahaman melalui kajian perilaku konsumen dalam perspektif islam tujuannya untuk mengetahui secara umum penyebab permasalahan yang di timbulkan dari perilaku konsumen konvensional dan solusi yang di tawarkan oleh islam.

Dalam artikel ini fokus utama dalam mengurai akar masalah yang ada dalam perilaku konsumen konvensional yaitu landasan filosofis perilaku konsumen konvensional yang melipiti: paradigma rasional economic man, positivism, dan hukum say. Perilaku konsumen muslim berbeda dengan konsumen konvensional mengutamakan self inferest dan utilitarialisme yang bertujuan  memaksimalkan kepuasan dan mengabaikan kepentingan orang lain. Sedangkan perilaku konsumen muslim dilandasi islamic man yang di dalam al-quran di sebut dengan `ibadurrahman,yaitu hamba-hamba allah yang di istimewakan karn sifat- sifat istimewanya, hal ini mencerminkan keseimbangan yang menjadi prinsip mendasar dalam.

Daftar Pustaka

Hendrie Anto, M. B. 2003. Pengantar Ekonomika Mikro Islami. Yogyakarta: Ekonesia.

Muflih, Muhammad. 2006. Perilaku Konsumen Dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam.
Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

Lihat Edukasi Selengkapnya


Page 3

Konsumsi tidak lepas dari bagian dari kegiatan ekonomi yang sangat penting dan mencakup seluruh perilaku konsumen jual beli produk atau pelayanan agar suatu keinginan terpenuhi, ada tiga paradigma dalam kunsumsi yaitu rasional economic man, positivism, dan hukum say, yang mana hukum say yang di kemukakan oleh jeam babtis say (1767-1832) berasumsi bahwa  nilai produksi selalu sama dengan pendapatan, jadi dalam pasar persaingan sempurna tidak akan ada exces suplay (kelebihan penawaran) terdapat suatu keyakinan bahwa terdapat selalu keseimbangan (aquilibrium) yang bersifat alamiah.

Baca Juga :   Cara Kerja Aluminium Chlorohydrate Aicioh Sebagai

Jeam babtis say juga menyatakan bahwa penawaran menciptakan permintaannya sendiri, hukum say ini tidak hanya mempunyai dampak terhadap perilaku produksi yang mengabaikan pembatasan secara proporsional tetapi juga akan berpengaruh terhadap perilaku konsumsi  karna tidak ada pembatasan produksi maka industri di paksa untuk menawarkan barangnya dengan berbagai cara melalalui industri periklanan, dikembangkan cara-cara untuk menciptakan dan mendorong konsumsi sebagai lifestayle atau gaya hidup dalam masyarakat.

Maka dari itu kegiatan konsumsi yang di lakukan jangan sampai merugikan sesama dan jangan hanya mementingakan diri sendiri (self interest) untuk mendapatkan kepuasan maksimal (utilitarialisme) dalam hukum say juga di jelaskan bahwa industri juga harus berkembang melalui cara yang lebih efisien dan tepat entah itu melalui periklanan dan sejenisnya.

Dalam perspektif islam perilaku konsumen selalu berpedoman kepada ajaran islam di mulai dari barangnya harus baik dan halal (halalan thoyyiban) secara zat dan cara memperolehnya, membedakan antara kebutuhan (need) dan keinginan (want) serta prefrensi konsumen muslim berdasarkan prinsip keadilan, kebersihan, dan kesederhanaan, kemurahan hati dan harus moralitas.

Perlu kita ketahui tujuan konsumsi dalam islam adalah maslahah dan falah yang di dalamnya mengandung usur manfaat dan berkah, unsur manfaat adalah pemenuhan kebutuhan fisik, psikis, material yang bersifat duniawi sedangkan berkah adalah pemenuhan kebutuhan spritual dan bersifat ukhrawi (pahala dan ridha allah).

Dapat disimpulkan dengan menerapkan nilai-nilai islam dalam konsumsi, maka dapat di wujudkan kesejahteraan yang memeberikan maslahah baik secara individu maupun sosial keberuntungan (falah) serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Titik tolaknya adalah merubah perilaku individu masyarakat menjadi konsumen yang islami untuk dapat mendapatkan nilai-nilai konsumsi alam islam maka di perlukan pemahaman melalui kajian perilaku konsumen dalam perspektif islam tujuannya untuk mengetahui secara umum penyebab permasalahan yang di timbulkan dari perilaku konsumen konvensional dan solusi yang di tawarkan oleh islam.

Dalam artikel ini fokus utama dalam mengurai akar masalah yang ada dalam perilaku konsumen konvensional yaitu landasan filosofis perilaku konsumen konvensional yang melipiti: paradigma rasional economic man, positivism, dan hukum say. Perilaku konsumen muslim berbeda dengan konsumen konvensional mengutamakan self inferest dan utilitarialisme yang bertujuan  memaksimalkan kepuasan dan mengabaikan kepentingan orang lain. Sedangkan perilaku konsumen muslim dilandasi islamic man yang di dalam al-quran di sebut dengan `ibadurrahman,yaitu hamba-hamba allah yang di istimewakan karn sifat- sifat istimewanya, hal ini mencerminkan keseimbangan yang menjadi prinsip mendasar dalam.

Daftar Pustaka

Hendrie Anto, M. B. 2003. Pengantar Ekonomika Mikro Islami. Yogyakarta: Ekonesia.

Muflih, Muhammad. 2006. Perilaku Konsumen Dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam.
Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.

Lihat Edukasi Selengkapnya

Jelaskan apa yang menjadi tolak ukur rasionalitas dalam perilaku individu?

Posted by: pskji.org