Bolehkah setelah selesai haid langsung berhubungan suami istri?

Bolehkah setelah selesai haid langsung berhubungan suami istri?

BERJIMAK
atau berhubungan intim bagi pasangan suami istri termasuk salah satu ibadah menurut ajaran agama Islam. Keduanya wajib mandi janabah atau mandi besar untuk menyucikan diri setelah melakukan jimak.

Di samping itu, jimak tidak boleh dilakukan jika istri dalam masa haid atau menstruasi. Lantas, bagaimana hukum berjimak jika istri sudah selesai haid tapi belum sempat mandi besar?

Baca juga: Suami Istri Berhubungan Intim tapi Membayangkan Orang Lain, Ini Hukumnya Menurut Buya Yahya

Baca juga: Berdosakah Istri Menolak Hubungan Intim dengan Suami? Ini Kata Buya Yahya

Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al Bahjah Cirebon KH Yahya Zainul Ma’arif atau akrab disapa Buya Yahya menerangkan bahwa seorang suami tidak boleh menggauli istrinya jika belum mandi besar. Pendapat ini juga sudah disetujui oleh mayoritas ulama.

“Wanita yang sudah terputus darah haidnya tidak boleh digauli oleh seorang suami sampai dia mandi. Kalau belum mandi tidak boleh. Kalau sudah bersuci baru datangi,” ujar Buya Yahya, seperti dikutip dari kanal YouTube Al Bahjah TV, Senin (6/12/2021).

Kendati demikian, Buya Yahya juga menuturkan ada pendapat lain seperti dari Az-Zahiri dan Ibnu Hazm yang menyatakan bahwa wanita boleh berjimak meski belum mandi besar. Dikatakan, seorang wanita yang sudah selesai haid boleh mengerjakan salah satu dari tiga hal, antara lain mandi besar, wudhu, atau dicuci wilayah intim tersebut.

Dengarkan Murrotal Al-Qur’an di
Okezone.com, Klik Tautan Ini:
https://muslim.okezone.com/alquran

Namun, Buya Yahya lebih menganjurkan kepada para wanita yang selesai haid untuk mandi besar terlebih dahulu sebelum berjimak dengan sang suami. Kecuali jika dalam kondisi darurat, seperti musim dingin yang tidak memungkinkan untuk mandi, wanita tersebut diperbolehkan berjimak meski belum mandi besar.

“Maka selagi Anda masih bisa menjalankan itu semua madzhab dari jumhur tadi maka lakukanlah. Jangan digauli istrimu sebelum mandi besar. Kecuali dalam keadaan darurat misalnya musim dingin, istrinya alergi air. Kasihan disuruh mandi lalu digauli sehabis itu mandi lagi,” tuntasnya.

Wallahu a’lam bishwab.

Baca juga: Bolehkah Memperbesar Alat Kelamin? Ini Kata Buya Yahya

  • #hubungan suami-istri
  • #mandi besar
  • #Haid
  • #suami-istri
  • #Jimak
  • #Buya Yahya
Baca Juga :   Perubahan injakan kaki dari satu tempat ke tempat lain dinamakan

Beberapa orang mungkin khawatir jika ingin berhubungan intim setelah haid. Ada yang takut kena infeksi atau alasan lainnya. Baca penjelasan lengkapnya dari sisi medis di sini.

null
Berhubungan intim setelah haid aman dilakukan. Jika dilihat dari sisi penularan infeksi, berhubungan intim setelah haid dinyatakan aman apabila haid sudah dipastikan bersih.

Jika masih ada darah haid, tentu sangat berbahaya bagi kesehatan karena darah haid merupakan media yang sangat baik bagi bakteri untuk berkembang biak.

Hal tersebut memudahkan  terjadinya infeksi yang merupakan bagian dari Penyakit Menular Seksual (PMS), sehingga bisa berujung kepada gangguan sistem reproduksi atau gangguan kesuburan.

Bagaimana jika dilihat dari sisi reproduksi?

Berhubungan intim setelah haid dapat memicu terjadinya pembuahan, terutama pada wanita yang memiliki siklus haid yang memendek (21-24 hari). Ini dikarenakan sel telur sudah dapat diproduksi kembali lebih dini, dan biasanya sperma dapat menetap di saluran reproduksi selama tiga sampai lima hari meskipun hal ini sangat rendah dalam tingkat keberhasilan pembuahannya.

Selain itu, indung telur secara normal akan melepaskan sel telur sekitar 12 sampai 14 hari sebelum periode haid Anda dimulai. Hari pertama haid Anda saat pertama kali terjadi perdarahan dihitung sebagai hari pertama siklus Anda. Jika Anda memiliki siklus haid 28 hari, biasanya Anda akan mengalami ovulasi beberapa waktu antara hari ke-12 dan hari ke-16 dari siklus Anda. Karena itu, berhubungan intim saat ovulasi dapat meningkatkan terjadinya pembuahan.

Jadi, yang harus Anda perhatikan saat berhubungan intim setelah haid adalah pastikan darah haid sudah berhenti dan bersih, serta gunakan pengaman jika Anda ingin menunda kehamilan karena kemungkinan terjadi pembuahan selalu ada.

Salah satu larangan bagi wanita yang sedang haid adalah berhubungan suami-isteri. Dan bagi wanita yang sudah berhenti atau selesai masa haidnya namun belum sempat mandi janabah, ada sedikit perbedaan di kalangan ulama Fiqih tentang boleh atau tidaknya berhubungan intim bagi wanita tersebut.

A. Madzhab Al-Hanafiyah

Ulama dari madzhab ini membolehkan wanita haid yang sudah berhenti darah haidnya untuk berhubungan suami isteri, walau belum mandi janabah, dengan syarat sudah melewati hari ke-10 sejak hari pertama haidnya. Durasi 10 hari adalah durasi maksimal haid dalam madzhab Hanafi.[1]

Baca Juga :   Sebutkan peran lembaga kepolisian dalam pengendalian sosial di masyarakat

Ada beberapa ketentuan bagi wanita haid terkait boleh dan tidaknya berhubungan intim usai berhentinya darah haid. Sebagaimana dijelaskan oleh salah satu ulama madzhab Hanafi, yakni Ibnu Abdin dalam kitabnya Hasyiyah, yakni :

a. Darah Berhenti Di Akhir Durasi Maksimal Haid Atau Lebih

Dalam madzhab Hanafi, durasi maksimal haid adalah 10 hari. Ketika darahnya benar-benar berhenti pada hari ke-10 atau lebih, ia boleh berhubungan seksual walaupun belum sempat mandi janabah. Yang penting darahnya benar-benar sudah berhenti keluar. Akan tetapi wanita tersebut tetap dianjurkan menunda hubungan seksual sampai ia melakukan mandi janabah terlebih dulu.

b. Darah Berhenti Sebelum Mencapai Durasi Maksimal Haid (Sebelum Hari Ke-10)

Jika darahnya berhenti sebelum mencapai hari ke10 dari hari pertama haid, ia tidak boleh berhubungan suami-isteri sebelum mandi janabah.

c. Darah Berhenti Setelah Mencapai Durasi Kebiasaan

Poin ini berlaku bagi wanita Mu’taadah, yakni wanita yang memiliki siklus haid teratur dimana ia bisa memprediksi durasi haidnya dengan cara melihat dari kebiasaannya. Misalnya, wanita yang setiap bulannya selalu memiliki durasi haid yang tetap (6 hari, atau 7 hari, atau 8 hari, dst).

Bagi wanita Mu’taadah yang terbiasa haid selama 6 hari (misalnya), jika darah haidnya sudah berhenti di hari ke-6 atau lebih, maka ia boleh berhubungan suami isteri setelah mandi janabah. Dan tidak boleh melakukannya sebelum mandi janabah.

d. Darah berhenti sebelum mencapai durasi kebiasaan

Poin ini juga hanya berlaku bagi wanita Mu’taadah.

Wanita mu’tadah yang terbiasa haid selama 7 hari (misalnya), jika darahnya keluar di hari ke-4 atau ke5 atau ke-6, maka ia belum boleh berhubungan suami-isteri, bahkan walaupun ia sudah mandi janabah.

wanita mu’tadah hanya boleh berhubungan intim jika : [1] darahnya berhenti di akhir durasi kebiasaannya, dan [2] sudah mandi janabah terlebih dulu.

Catatan:

Dari poin-poin diatas dapat disimpulkan bahwa madzhab Hanafi tidak membolehkan wanita yang baru selesai haidnya untuk berhubungan suami-isteri sebelum mandi janabah. Kecuali jika sudah mencapai hari ke-10 atau lebih sejak hari pertama keluarnya haid.

B. Madzhab Al-Malikiyyah, As-Syafi’iyyah, AlHanabilah.

Jumhur Ulama dari madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa wanita yang bersih dari haid masih belum boleh melakukan hubungan intim selama ia belum melakukan mandi janabah.[2]

Baca Juga :   What are top down and bottom up approach of nanomaterial synthesis?

Sebab wanita haid yang hendak melakukan hubungan intim harus melalui 2 fase, yakni : At-Thuhr (berhentinya darah haid) dan Al-ghusl (melakukan mandi janabah). Hal tersebut disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 222 yang isinya :

وَيسْأَلونكَ عَنِ المَحِيضِ  قلْ هُوَ أذًى فَاعْتَزلواْ الن سَاء فِ المَحِيضِ ولاَ تَ قْربوهُنَّ حَتَََّّ يطهُرْنَ فإذَا تطهَّرْنَ فأتوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أمَركَُمُ ا للُّ إنَّ ا للَّ يُُِبُّ التَّ وابينَ وَيُُِبُّ المُتط هِرينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah bersuci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah : 222)

Dalam ayat diatas terdapat dua redaksi yang harus difahami, yakni :    يطهُرْنَ  – تَطهَّرْنَ

Yang pertama (يطَْ هُرْنَُ) bermakna “suci” secara hakiki yakni berhentinya darah haid. Dan yang kedua (تطََهَّرْنَُ) bermakna “bersuci” yakni melakukan mandi janabah untuk mengangkat hadats besarnya usai haid.

Bahkan ulama dari madzhab Maliki menegaskan bahwa bersuci dengan tayammum saja tidak menjadikan wanita tersebut boleh berhubungan intim dengan suaminya sampai ia benar-benar mandi janabah menggunakan air.[3]

C. Kesimpulan

Mayoritas ulama fiqih (selain madzhab Hanafi) berpendapat bahwa wanita haid yang sudah berhenti darahnya tidak boleh berhubungan seksual sebelum ia melakukan mandi janabah. Hal tersebut sesuai dengan QS. Al-Baqarah : 222.

Adapun ulama dari madzhab Hanafi memang membolehkan wanita haid yang sudah berhenti darahnya untuk berhubungan intim, dengan syarat sudah melewati durasi maksimal haid, yang dalam madzhab ini 10 hari. Dalam keadaan inipun, madzhab ini tetap menganjurkan si wanita untuk mandi janabah tersebih dahulu.

Wallahu A’lam Bishshawab.

[1] Hasyiyah Ibn Abdin, jilid 1 hal. 195

[2] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Jilid 18, hal. 325

[3] Hasyiyah Ad-Dasuqi ‘Ala Asy-Syarh Al-Kabir, jilid 1 hal. 173

Sumber: Aini Aryani, Judul Buku Larangan Wanita Haidh, Jakarta Selatan: Rumah Fiqih Publishing, 2018

Bolehkah setelah selesai haid langsung berhubungan suami istri?

Posted by: pskji.org